• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Pages

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

"Soegija", Sebuah Film untuk Perenungan

KOMPAS/RADITYA HELABUMI JAYAKARNA Seniman Butet Kertaradjasa (kanan) saat media gathering film Soegija yang disutradarai Garin Nugroho, di Jakarta, Rabu (16/5/2012). Media gathering dengan moderator Rosiana Silalahi dan Romo Benny Susetyo itu dihadiri sejumlah pemeran film Soegija, yaitu Nirwan Dewanto, Annisa Hertami, dan Andrea Reva.
Oleh Monalisa
Meski mengangkat kisah tentang Romo Soegijapranata namun film "Soegija" tidak hanya menggambarkan sosok uskup pribumi pertama di Indonesia bernama lengkap Albertus Soegijapranata itu saja.

Film garapan sutradara Garin Nugroho itu menampilkan nilai-nilai kemanusiaan universal melalui kisah-kisah di tengah revolusi.

Garin mencoba melukiskan situasi dalam setiap pernyataan yang disampaikan Soegija dalam gambar-gambar khasnya, membuat "Soegija" tidak hanya menuturkan sejarah secara verbal tapi juga menyuguhkannya sebagai ilustrasi kehidupan.

"Karena misal Soegija mengatakan soal penderitaan, kalau tidak digambarkan situasi zamannya seperti apa, itu tidak mungkin. Nanti hanya dialog saja seperti film umumnya," kata Garin usai penayangan film beranggaran Rp12 miliar itu di Jakarta, Kamis (24/5).

Sutradara kelahiran Yogyakarta itu mengumpulkan referensi dari berbagai sumber seperti buku sejarah, buki harian serdadu Belanda dan Jepang, kisah-kisah revolusi dan sahabat-sahabat Mgr. Soegijapranata untuk menghidupkan sisi-sisi kemanusiaan sang uskup.

"Kami mencari cerita-cerita ketika dialog itu dimunculkan. Sumber macam-macam kami kumpulkan untuk ilustrasi situasi pada saat Soegija bicara. Itu yang sangat sulit karena kalau tidak nanti isinya hanya pidato dia saja," tambahnya.

Maka jadilah film sejarah yang sangat "Garin", dengan gambar-gambar bercerita yang disempurnakan dengan muatan dialog dari narasi sarat makna yang dibuat Armantono dan Garin Nugroho.

Sang sutradara tampaknya secara cermat memilih penampilan adegan dengan gambar yang bercerita atau narasi sehingga adegan-adegan dengan format berbeda terasa pas, dan bertambah enak dinikmati dengan tata musik Djaduk Ferianto dan akting para pemain yang natural.

Garin, yang sebagian karya filmnya mendapat penghargaan internasional, menampilkan pemain dengan beragam latar belakang budaya untuk mewujudkan gambaran situasi dan pelaku sejarah yang terkait dalam filmnya.

Pemeran film itu berasal dari beberapa etnis di dalam negeri dan beberapa pemain dari luar negeri. Secara keseluruhan, penggarapan film itu melibatkan 2.775 pemain dari Jawa, Cina, Belanda, dan Jepang.

Perenungan

Film "Soegija" mengisahkan kerja kepemimpinan dengan "silent diplomacy" serta prinsip kebangsaan dan kemanusiaan Soegija pada era 1940-1950

Garin mengangkat sisi-sisi kemanusiaan dari delapan tokoh utama dalam film yang berlatar masa penjajahan Belanda, lalu perebutan kekuasaan oleh Jepang serta masa krisis menjelang dan setelah kemerdekaan.

Meski berlatar zaman perang namun film "Soegija" sama sekali tidak menampilkan adegan-adegan berdarah maupun kekerasan. Tidak ada sosok penjahat juga di sini.

Sang sutradara memilih suasana di pengungsian dan menyusup ke dalam diri tokoh-tokoh utamanya, mengajak penonton merenung dengan menampilkan sisi kemanusiaan mereka dengan gambar yang indah, dialog yang kuat dan iringan musik dramatis.

Dalam film sepanjang 115 menit ini, perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia.

Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya dan Ling Ling (Andrea Reva) terpisah sang ibu (Olga Lydia).

Keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga mereka yang menjajah.

Serdadu Jepang, Nobuzuki (Suzuki), tidak pernah tega terhadap anak-anak karena ia juga punya anak yang selalu ia rindukan di Jepang.

Robert (Wouter Zweers), seorang serdadu Belanda yang merasa menjadi mesin perang hebat, hatinya tersentuh oleh bayi yang ia temukan di medan perang yang membuat dia merindukan ibunya, bukan negaranya.

Sementara bagi Hendrick (Wouter Braaf), perang membuat dia tak bisa memiliki cinta yang dia temukan.

Soegija (Nirwan Dewanto) ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.

Bagi dia, kemanusiaan itu satu meski berbeda berbeda bangsa, agama, asal-usul, dan ragamnya.

Soegija berusaha mewujudkan keinginannya melalui surat menyurat dan pertemuan dengan para pemimpin Indonesia seperti Syahrir, dan Soekarno.

Dia juga mendukung pengorganisasian gerakan pemuda dan pelayanan sosial. Ia menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan melalui kunjungan warga, khotbah dan tulisan-tulisan. "Apa artinya menjadi bangsa merdeka jika kita gagal mendidik diri kita sendiri," katanya.

Menurut Garin, nilai-nilai kemanusiaan yang diyakini oleh Soegijapranata sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini meski dalam perspektif yang berbeda. Yakni bahwa seperti Soegija, para pemimpin seharusnya mampu mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan untuk meredam gejolak kekerasan, untuk mendamaikan.

"Film ini merupakan sebuah catatan tepat untuk hari ini. Ini perayaan kegembiraan beragam dan berbangsa. Sudah saatnya tidak ada ketakutan," demikian Garin Nugroho.

sumber 
[ Read More ]

Sobotaire, Cara Asyik Belajar Anatomi

Sobotaire memudahkan mahasiswa FK belajar anatomi. (Foto: dok. UB)
Sobotaire memudahkan mahasiswa FK belajar anatomi. (Foto: dok. UB)
JAKARTA - Pernahkah kamu memainkan Solitaire untuk mengisi waktu luang? Nah, konsep permainan Solitaire inilah yang diadaptasi dalam sebuah permainan sekaligus sarana belajar anatomi. 

Anatomi biasanya memang menjadi momok para mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK). Dan akibatnya, banyak mahasiswa FK mendapat nilai jelek dalam mata kuliah ini.

Melihat kesulitan yang dihadapi teman-temannya, lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) pun mencetuskan permainan Sobotaire  yang mengambil prinsip game Solitaire. Nama Sobotaire sendiri diadaptasi dari salah satu buku pegangan dalam mata kuliah anatomi, Sobotta.

Adalah Andriawan Hendra Susila (Ilmu Keperawatan 2008), Afiqie Fadhihansah (Teknik Informatika 2010), Billy Novanta Yudistira (Teknik Informatika 2010), Akhiyan Hadi Susanto (Keperawatan 2008) dan Nurona Azizah (Keperawatan 2008) yang menggarap alternatif pembelajaran anatomi berbasis game komputer tersebut.

Afiqie menjelaskan, seperti halnya Solitaire, satu set kartu dalam Sobotaire juga berisi 52 kartu. Kartu-kartu itu terbagi dalam 12 sistem di antaranya osteologi, musculoskeletal, cardiovascular, neurologi dan digestive. Afiqie dan tim menggunakan Sobotta sebagai referensi penyusunan game atlas anatomi ini.

Permainan Sobotaire dibagi dalam tiga level, yakni beginner yang tidak ada batasan waktu, intermediate (30 detik), dan advance (10 detik). Letak kesulitan game ini adalah para pemain harus berkejaran dengan waktu dalam menyelesaikan permainan.

"Karena anatomi adalah mata kuliah yang menghafal bagian tubuh manusia, maka Sobotaire hanya memuat gambar. Pengembangan fungsi ada di mata kuliah fisiologi," ujar Afiqie seperti dilansir Prasetya Online, Rabu (11/4/2012).

Game Sobotaire ini disusun dengan menggunakan bahasa "Java" dengan compiler "net beans". Dengan dibimbing Herdarmawan, S.Kom, lima sekawan ini berjibaku menyelesaikan pembuatan gamenya selama satu bulan. Mereka kini sampai pada tahap pengujian.

Diakui Afiqie, selama pengerjaan, timnya kerap menemui kesulitan pada algoritma dan coding. Kesulitan lainnya, kata Andriawan, adalah pada pengaplikasian gambar anatomi ke sistem. Mereka menemukan kesulitan untuk memenuhi satu set kartu Solitaire. 

"Sebagaimana kartu Solitaire, setiap sistem berjumlah 52. Padahal masing-masing sistem jumlahnya ada yang kurang bahkan lebih dari 52 sehingga kami harus berkreasi untuk mengepaskan jumlahnya," Andriawan mengimbuhkan.

Andriawan menjelaskan, peluncuran Sobotaire akan dilakukan pada saat kegiatan monitoring dan evaluating (monev). Sebelumnya, performa Sobotaire juga harus diuji melalui perbandingan dengan metode pembelajaran anatomi konvensional yang menggunakan buku. Ujian ini akan dikemas dalam bentuk permainan.

Karya kelimanya dituangkan dalam makalah bertajuk "'Sobotaire' Inovasi Media Pembelajaran Anatomi Berbasis Games Education Portable Atlas Anatomi Sobotta". Rencananya, karya yang mendapat kucuran dana Rp7,7 juta ini akan diikutsertakan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) yang diselenggarakan Ditjen Dikti Kemendikbud.

sumber
[ Read More ]

Mesin Penyangrai All in One dari UNY

Image: corbis.com
Image: corbis.com
PELAKU industri rumah tangga selama ini dalam menyangrai (menggoreng tanpa minyak) biji-bijian, baik untuk bahan baku makanan ringan maupun minuman, seperti kacang tanah, melinjo, kedelai, kacang hijau, dan kopi umumnya masih menggunakan cara konvensional, yaitu menggunakan tungku, wajan, dan alat pengaduk.

Alat penyangrai yang ada biasanya khusus untuk satu jenis biji-bijian, misalnya hanya bisa untuk menyangrai kacang tanah atau kopi. Cara ini tentu kurang efisien karena pengolahan membutuhkan waktu lama dan berpengaruh terhadap hasil produksi. Melihat hal ini, tiga mahasiswa program studi (Prodi) Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yaitu Ivan Sofyan, Gusti Bagus Jaya, dan Satria Bekti Santosa mencoba melakukan inovasi dengan membuat mesin penyangrai yang dapat digunakan untuk semua jenis biji-bijian.

Ivan Sofyan mengatakan dengan dimensi panjang 1.300 mm, lebar 800 mm dan tinggi 760 mm, menjadikan mesin penyangrai ini sangat ergonomic, nyaman bagi operator, dan mudah disesuaikan dengan ruang kerja. Selain itu, cara kerjanya juga cepat. Misalnya, untuk kapasitas penuh hanya membutuhkan waktu 15 menit dengan produksi antara 40–60 kg. Dari sisi bahan bakar juga lebih hemat karena bahan bakar alat ini menggunakan elpiji dan listrik.

"Untuk elpiji sebelum digunakan bisa diukur dengan menimbang dan untuk listrik dapat dilihat dari meteran rumah tangga digital sehingga cukup hemat," papar Ivan.

Ivan menambahkan, dari sisi harga, mesin ini juga lebih murah dibandingkan dengan mesin yang sudah ada di pasaran. Mesin buatan mereka dilepas dengan harga Rp2,5 juta, sedangkan mesin yang sudah ada Rp5 juta. Mesin ini dari sisi keamanan juga tidak ada masalah. Yang menjadi perhatian, hanya pada bagian transisi karena belum ada penutupnya.

"Karena masih dalam penyempurnaan, untuk sementara kami belum akan memproduksi massal, tapi bila ada yang memesan, kami dapat melayaninya," tandasnya.

Humas FT UNY Harya Aji Pambudi mengatakan, selain sangat membantu dalam peningkatan produksi bagi pelaku industri rumah tangga, yang lebih penting lagi, dengan keberhasilan ini akan memicu mahasiswa UNY lain untuk melakukan inovasi teknologi, baik baru maupun pengembangan yang sudah ada.

sumber
[ Read More ]

Basmi Hama dengan Sinar UV Lampu TL

Ilustrasi: ist.
Ilustrasi: ist.
YOGYAKARTA - Sinar ultra violet (UV) lampu tubular lamp (TL) selama ini hanya dimanfaatkan untuk penerangan atau sebagai lampu hiasan pada malam hari.

Padahal ada manfaat lain dari sinar UV tersebut, yaitu menjadi penjebak atau perangkap hama dan serangga yang sering mengganggu tanaman para petani di sawah. Ini diketahui setelah mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Nur Rokhimah, melakukan penelitian terhadap pengaruh warna cahaya terhadap serangga.

Berdasarkan penelitian itu, ternyata lampu TL (tubular lamp) dengan jenis warna UV (ultra violet) yang dipasang di persawahan pada malam hari dapat menarik hama dan serangga untuk mendatanginya.

"Untuk penelitian ini, hanya dibutuhkan bola lampu. Lebih efektif bila menggunakan lampu TL karena lebih terang. Bola lampu diletakkan di pembatas sawah atau galengan saat malam hari. Di bawah lampu tersebut disediakan nampan yang sudah diberi lem lalat. Malam hari mulai dipasang, hasilnya pada pagi hari banyak serangga dan hama kecil-kecil sudah terperangkap di sana," ungkap Nur di UMY kemarin.

Nur menjelaskan, dalam penelitian tersebut digunakan berbagai jenis warna lampu TL dan pijar. Di antaranya merah, kuning, ultra violet, biru dan putuh untuk lampu TL, serta warna merah, kuning, biru putih dan orange untuk lampu pijar.

sumber
[ Read More ]

UGM-Kemenristek Ciptakan Pompa Air Tenaga Surya

UGM-Kemenristak kembangkan pompa air bertenaga surya (Foto: dok. UGM)
UGM-Kemenristak kembangkan pompa air bertenaga surya (Foto: dok. UGM)
JAKARTA - Tinggal di daerah tandus membuat warga Gunung Kidul, Yogyakarta, harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan air. Untuk itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bersama Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) menciptakan pompa air bertenaga surya.

Sebagai salah satu daerah sulit air, Dusun Sureng, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul setiap warga harus berjalan kaki 2,5 kilometer untuk mandi dan mengangkut air buat minum. Untuk mengatasinya, pemerintah setempat pun membangun instalasi pompa air di sumber mata air tersebut.

Agar dapat mengaliri air ke bak penampung yang dibangun di atas bukit, pompa air tersebut menggunakan mesin diesel. "Baru akhir tahun lalu air sudah mengalir ke masyarakat lewat bak penampung," kata Kepala Dusun Sureng, Suratman seperti dilansir dari laman UGM, Senin (9/4/2012).

Karena operasional menghidupkan pompa air dikelola secara swadaya, perangkat dusun menarik iuran Rp1.000 per 50 liter air bagi penduduk yang mengambil air di bak penampung. Dana tersebut digunakan pengurus untuk membeli bahan bakar genset agar dua pompa bisa dinyalakan tiap hari.
"Sebenarnya harga membeli air ini sama saja seperti membeli air dari mobil tangki," ujar Suratman menambahkan.

Menanggapi kondisi tersebut, Kemenristek menggandeng UGM untuk menerapkan program sistem inovasi daerah (SIDA), yakni diseminasi teknologi berdasarkan kebutuhan masyarakat. "Dalam SIDA, teknologi yang digunakan sudah terbukti keandalannya dan dapat diterapkan di lokasi sesuai kondisi," kata Asisten Deputi Iptek Masyarakat Kemenristek, Momon Sadiyatmo.

Salah satu peneliti UGM Ahmad Agus Setyawan menegaskan, pihaknya akan membantu mengatasi persoalan mahalnya biaya pemenuhan kebutuhan air yang dihadapi masyarakat Tepus. Bahkan tim peneliti bersama dengan mahasiswa program KKN PPM UGM mencoba menerapkan teknologi pengangkatan air dengan sistem pompa air menggunakan tenaga surya.

"Teknologi ini bisa digunakan di daerah terpencil. Mudah dalam instalasi dan perawatan, dan sudah banyak diterapkan di dunia," tutur Agus.

Selain ramah lingkungan, teknologi pompa air tenaga surya ini memiliki biaya operasional cukup rendah. Tidak hanya itu, penerapan pompa air tenaga surya juga bertujuan memasyarakatkan teknologi di kalangan masyarakat terpencil.

Berdasarkan hasil pengamatan Agus, tingkat radiasi matahari di Dusun Sureng berkisar 5,66 kWh/m2/hari. Sedangkan letak sumber air berada dua kilometer dari jaringan istrik terdekat. Adapun pengangkatan air lewat pompa diesel hanya mampu melayani 36,5 persen dari seluruh kebutuhan air yang diperlukan 952 Kepala Keluarga.

"Biaya operasional pompa diesel cukup besar, yakni Rp80 ribu per hari. Kami harapkan dengan panel surya tidak ada biaya yang dibebankan ke warga," ungkapnya

sumber
[ Read More ]

UGM Kembangkan Energi Hibrid di Bantul

UGM & Kemenristek mengembangkan teknologi energi hibrid di Bantul, Jawa Tengah. (dok. UGM)
UGM & Kemenristek mengembangkan teknologi energi hibrid di Bantul, Jawa Tengah. (dok. UGM)
JAKARTA - Pengembangan energi alternatif biasanya hanya difokuskan pada satu jenis energi. Tetapi, kali ini Universitas Gadjah Mada (UGM) mengombinasikan panas matahari dan kekuatan angin sebagai sumber energi alternatif hibrid.

Proyek percontohan yang dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) itu diinisiasi di Pantai Pandansimo, Srandakan, Bantul, Jawa Tengah. Daerah berpasir dengan luas 37 hektare (ha) itu nantinya akan menjadi pusat pengembangan energi baru dan terbarukan.

Asisten Deputi Iptek Industri Kecil dan Menengah, Ristek, Ir Santosa Yudo Warsono, MT, mengatakan, pengembangan energi hibrid di Tanah Air telah dimulai tiga tahun lalu. 

"Meski masih dikembangkan, tenaga hibrid ini tengah dicoba dimanfaatkan untuk pertanian di lahan berpasir yang memerlukan air ekstra tinggi. Kita manfaatkan untuk menaikkan air ke permukaan," kata Santosa seperti disitat dari situs UGM, Senin (9/4/2012).

Program energi hibrid di Bantul sendiri, ujar Santosa, difokuskan pada pengembangan teknik produksi dan peningkatan kapasitas produksi komponen. Selain itu, program ini juga fokus dalam meningkatkan kemampuan UMKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

Santosa memaparkan, saat ini sudah terpasang 35 unit turbin angin dengan tinggi rata-rata 18 meter sebagai pembangkit listrik tenaga hibrid. Dari jumlah tersebut, 26 turbin angin berkapasitas 1 kW, enam turbin angin 2,5 kW, dua turbin angin 10 kW, dan satu turbin angin 50 kW. Ada juga 175 unit sel surya dengan kapasitas 17,5 kWp.

"Untuk sementara ini pemanfaatan pembangkit listrik tenaga hibrid digunakan untuk penerangan kawasan wisata pantai, pelatihan operasional, workshop pengembangan energi terbarukan dan implementasi model sistem inovasi daerah," Santosa mengimbuhkan.

Peneliti Energi Terbarukan dari Fakultas teknik UGM Dr Ahmad Agus Setiawan menilai, potensi pengembangan pembangkit listrik tenaga hibrid di Indonesia sangat besar. Nantinya, ia bisa menjadi salah satu sumber energi alternatif yang memasok listrik di banyak pulau Nusantara. Pasalnya, suplai listrik tidak sepenuhnya mampu dilakukan lewat interkoneksi antarpulau, padahal Indonesia memiliki punya banyak pulau kecil.

Hasil penelitian dosen teknik fisika ini menunjukkan, kecepatan angin di Indonesia tidak sebesar di Belanda yang telah memanfaatkan kincir angin sebagai sumber energi. 

"Diperlukan banyak kincir untuk mendapatkan energi dari angin di Indonesia. Sebab, kekuatan kecepatan angin di sekitar Pantai Pandasimo saja misalnya, berkisar tiga hingga lima meter per detik. Sehingga perlu dikombinasi dengan generator kecepatan rendah dan energi panas matahari," Agus memaparkan.

sumber
[ Read More ]

Hemat BBM ala Unila

Foto: dok. Okezone
Foto: dok. Okezone
JAKARTA - Meski pemerintah batal menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), bukan berarti BBM bebas dikonsumsi seenaknya. Penghematan tetap harus dilakukan dengan berbagai cara.

Salah satunya dengan menggunakan alat penghemat BBM buatan mahasiswa Teknik Mesin Universitas Lampung (Unila) melalui ajang Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKM-P) ini.

Adalah Rakhmat Afrizal, M Tito R, Prima Kumbara, dan Dimas Rilham yang menginisiasi "Pelet Penghemat Bahan Bakar". Dengan dibantu dosen pembimbing Heri Wardono, empat sekawan ini meneliti dan mempersiapkan inovasinya selama empat bulan.

Pelet buatan Rakhmat dkk ini dibuat dengan bahan yang mudah ditemukan, yakni sekam padi yang dikarbonisasi sehingga menjadi arang. Kemudian, arang tersebut ditumbuk menjadi bubuk arang.

Tahap selanjutnya adalah mencampurkan bubuk arang dengan aquades dan tepung tapioka. Adonan yang sudah jadi kemudian dicetak pada pipa silinder berdiameter 10 mm.

Selanjutnya, pelet yang sudah kemudian dibuatkan bingkai dan dipasang di filter kendaraan. Pelet inilah yang berfungsi menyaring nitrogen dan uap air pada proses pembakaran di ruang bakar kendaraan dan diklaim memiliki umur pakai hingga 500 kilometer (km). Demikian seperti dinukil dari situs Unila, Sabtu (7/4/2012).

Tidak hanya menghemat penggunaan bahan bakar hingga 34 persen, uji emisi menunjukkan, pelet ini mampu mereduksi gas polutan CO hingga 30 persen dan HC hingga 52 persen.

sumber
[ Read More ]

Nilai Moral, Kunci Citra Baik UGM

Ilustrasi : ist.
Ilustrasi : ist.
JAKARTA - Salah satu faktor terciptanya citra baik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, adalah karena para lulusannya selalu membawa dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral khas UGM, yakni Pancasila dan keilmuan.

Hal tersebut disampaikan Rektor UGM Sudjarwadi pada upacara wisuda program pascasarjana UGM, belum lama ini. Menurut Rektor, nilai-nilai moral itulah yang membuat masyarakat dan banyak pengguna mencitrakan alumni UGM sebagai orang-orang yang bersahaja namun berperforma tinggi. Tidak hanya itu, UGM juga mendorong para civitas academica UGM untuk melahirkan berbagai inovasi yang menjadi fondasi produk-produk unggulan bangsa. Salah satunya, kata Sudjarwadi, inovasi konverter kit untuk mobil berbahan bakar gas dan mobil listrik UGM.

"Hasil karya inovasi tersebut terus mendapat tanggapan positif dari banyak pihak. Penemuan ini merupakan bukti kepeloporan UGM dalam mengembangkan sistem transportasi rendah emisi yang saat ini sedang menjadi program prioritas pemerintah. Tentu saja penemuan-penemuan ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat luas,” ,” kata Sudjarwadi seperti dikutip dari laman UGM, Rabu (25/4/2012).

Pada kesempatan itu, Sudjarwadi juga menyinggung rencana 5th International Indonesia Forum (IIF) yang bekerja sama dengan Yale University Amerika pada Juli mendatang. Konferensi ini akan mengupas tentang posisi Indonesia dalam bidang politik, lingkungan, iklim, agama, konseptual, geo-strategis, sosial budaya, dan intelektual di tingkat regional dan global. “Saya optimistis hasil konferensi ini akan memberikan solusi-solusi strategis bagi permasalahan bangsa yang makin kompleks,” katanya menambahkan.

Upacara wisuda tersbeut meluluskan 1.203 mahasiswa Program Pascasarjana. Mereka terdiri dari 1.099 wisudawan program master, 79 spesialis, dan 25 program doktor. Untuk jenjang S-2, rata-rata lama studi para wisudawan selama dua tahun lima bulan. Sementara pada jenjang spesialis dan S-3, rata-rata wisudawan menempuh waktu empat tahun delapan bulan dan empat tahun sembilan bulan.

Pada lulusan kali ini terdapat 127 orang atau sekira 15,65 persen mahasiswa  S-2 reguler yang meraih predikat Cumlaude. Sedangkan wisudawan S-3 yang menyandang predikat Cumlaude berjumlah 10 orang. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi untuk program master diraih I Gede Agus Juniarka dari Prodi Ilmu Farmasi yang lulus dengan nilai sempurna 4,00. Untuk jenjang spesialis, IPK tertinggi diraih Setiawan Wibiksono dari Prodi Ilmu Konservasi Gigi yang lulus dengan IPK 3,96. Sedangkan untuk program doktoral, Willy Abdillah dari Prodi Ilmu Manajemen dinyatakan sebagai lulusan dengan nilai tertinggi dengan IPK 3,95.

Waktu studi tersingkat jenjang S-2 diraih Heriani dari Prodi Ilmu Hubungan Internasional dengan masa studi satu tahun tiga bulan. Untuk program spesialis, Setiawan Wibiksono dari Prodi Konservasi Gigi menyelesaikan studi dengan lama waktu dua tahun lima bulan. Sementara pada jenjang S-3, Muhammad Hafizurrachman Syarief dari Prodi Ilmu Kedokteran meraih gelar doktor dengan waktu studi satu tahun tujuh bulan.

Pada wisuda periode ini, Olivia Kembuan dari Prodi Teknik Elektro Fakultas Teknik menyandang predikat lulusan termuda yang berhasil menjadi master pada usia 22 tahun tujuh bulan sembilan hari.

sumber
[ Read More ]

Kampus Impian Adalah Pilihan Pertamamu

Image: corbis.com
Image: corbis.com
JAKARTA - Kamu yang berencana meneruskan kuliah di luar negeri harus sudah merencanakan studimu minimal satu tahun sebelumnya. Mengapa demikian?

Anne Weeks dari American Indonesian Exchange Foundation (Aminef) dalam workshop yang digelar International Office (IO) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, menjelaskan, rencana studi sejak jauh-jauh hari ini penting karena memilih perguruan tinggi di luar negeri tidak semudah memilih kampus nasional. 

"Menurut saya, memilih perguruan tinggi haruslah berdasar pada impian, passion kita," kata Anne seperti dilansir laman ITS, Jumat (20/4/2012).

Anne mengingatkan, jangan sekali-kali memilih kampus hanya karena itu adalah pilihan teman atau saudara. Dia mengimbuhkan, jika kamu berniat kuliah di Amerika Serikat (AS), kamu memiliki lima pilihan kampus.

"Nah, tempatkanlah kampus impianmu pada pilihan pertama meskipun nampaknya sulit diraih. Bagaimanapun, impian memang tetap harus dikejar," imbuhnya.

Kemudian, masukkan kampus-kampus yang sekiranya dapat kamu jangkau dengan kemampuan yang kamu miliki di pilihan kedua hingga kelima. Pilihan terakhir adalah kampus yang 'paling mudah' kamu masuki.   

Selain mengenali passing grade tiap kampus pilihan, kamu juga perlu mengenali karakter kampus-kampus tersebut. Kenali wilayahnya, cuaca, serta rute transportasinya.  "Hal sensitif biasanya urusan biaya," kata Anne.

Dalam workshop bertajuk "How to Choose The Best University in USA" tersebut, Anne memaparkan, AS memiliki berbagai jenis perguruan tinggi. Para calon mahasiswa perlu mencari tahu informasi-informasi spesifik yang akan mengantarkannya ke kampus yang sesuai kebutuhan mereka. 

"Amerika misalnya, memiliki kampus khusus perempuan, atau khusus agama tertentu," Anne menandaskan.

sumber
[ Read More ]

 
Copyright © Yohanes Danni Prihartanto is proudly powered by Blogger.com | Blogger Templates Design by Free Blogger Templates
Support by Unique Pictures and Funny Photos | The Second Daily News | Mobile Phone News | Daily Digital Technology