• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Pages

Akibat Safir, Hutan Madagaskar Terancam

Penambang berdatangan dari seluruh dunia, merusak hutan yang tidak terjamah.

VIVAnews - Batu safir bernilai tinggi ditemukan di koridor Ankeniheny-Zahamena, sebuah wilayah konservasi di hutan hujan Madagaskar. Bukannya membawa berkah, penemuan safir ini malah dikhawatirkan memicu kerusakan hutan.

Batu safir itu ditemukan di hutan hujan Zahamena, wilayah Alaotra-Mangoro, beberapa waktu lalu. Wilayah ini termasuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO karena keberagaman hayatinya.

Di hutan ini masih banyak spesies tumbuhan dan hewan langka yang hidup di alam liar. Salah satunya yang baru saja ditemukan adalah lemur Indri pada 2011 yang awalnya dikira sudah punah.

Akibat penemuan safir tersebut, kini hutan yang tak terjamah itu dipenuhi oleh para penambang liar. Menurut Telegraph, Selasa 24 April 2012, sedikitnya 10.000 penambang dan penjual batu mulia dari seluruh dunia berdatangan ke tempat itu.

Seluruh hotel di Alaotra-Mangoro telah dipadati para pendatang. Beberapa bahkan telah memesan kamar beberapa minggu sebelumnya. Tidak hanya para penambang, polisi dan tentara juga berdatangan. Warga mengatakan, mereka bukannya melindungi hutan, malah menagih "upeti."

Direktur Kehutanan dan Lingkungan wilayah tersebut, Rasolonirina Ramenason, mengatakan bahwa para penambang telah memasuki wilayah konservasi. Mereka merusak hutan lindung dengan menggali tanah dan menebang pohon untuk membangun pondokan, dan memburu binatang untuk makan.

"Pemerintah telah melakukan pertemuan untuk mengatasi masalah ini, tapi mereka kekurangan tenaga untuk menghalau para penambang," kata Ramenason.

James MacKinnon dari badan dana Konservasi Internasional, mengatakan bahwa dari berbagai penemuan safir di Madagaskar, penemuan kali ini adalah yang paling banyak menyedot penambang dari seluruh dunia.

Perwakilan dari badan lingkungan PBB, WWF, Richard Hughes, mengatakan bahwa kerusakan hutan Madagaskar tinggal menunggu waktu jika penambangan tidak bisa dicegah.

"Menemukan safir diperlukan penggalian, ini akan merusak hutan secara langsung. Selain itu, tidak ada infrastruktur dan jalan untuk memfasilitasi banyak orang yang datang, sehingga mereka bergantung pada hutan untuk menyediakan tempat bernaung dan makanan. Ini akan menyebabkan kerusakan besar," kata Hughes. (eh)

sumber

 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Yohanes Danni Prihartanto is proudly powered by Blogger.com | Blogger Templates Design by Free Blogger Templates
Support by Unique Pictures and Funny Photos | The Second Daily News | Mobile Phone News | Daily Digital Technology