• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Pages

Ditemukan, Macan Tutul Stroberi

Deon De Villiers Macan Tutul Strawberry
CAPE TOWN, KOMPAS.com — Macan tutul biasanya memiliki bulu kuning kecoklatan dengan tutul berwarna kehitaman. Namun, baru-baru ini ditemukan macan tutul di Madikwe Game Reserve, Afrika Selatan, yang punya bintik berwarna merah stroberi.
Sebenarnya, macan tutul stroberi itu sudah sering dijumpai turis. Deon De Villiers, seorang fotografer, kemudian mengirimkan foto macan tutul itu ke Panthera, lembaga konservasi harimau di Amerika Serikat.
Pakar harimau dari Panthera, Luke Hunter, mengatakan bahwa macan tutul stroberi itu sebenarnya adalah macan tutul yang mengalami erythrism. Erythrism didefinisikan sebagai kelainan berupa produksi pigmen merah berlebihan dan produksi pigmen hitam yang minim.
"Ini benar-benar jarang. Saya tidak tahu apakah ada contoh lain yang lebih sesuai pada macan tutul," ungkap Hunter seperti dikutip situs National Geographic, Kamis (12/4/2012).
Menurut Hunter, erythrism jarang ditemukan pada karnivora. Kondisi tersebut biasanya muncul pada musang dan luwak Eurasia.
Meski berbeda dengan macan tutul umumnya, kelainan pigmen pada macan tutul stroberi tak bakal mengganggu kehidupan dan kesehatannya. Salah satu contohnya, warna stroberi tetap menawarkan kamuflase sehingga memudahkan mencari mangsa.
Satu bahaya yang mungkin ada hanyalah ketika macan tutul tersebut lepas atau keluar dari Madikwe. Macan akan menjadi makhluk menarik untuk perburuan.

sumber
[ Read More ]

Orangutan Cerdas bak Seorang Insinyur

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ Bayi Orangutan Kembar - Gober (45) mengendong kedua anak kembarnya yang diberi nama panggilan Ganteng dan Ginting di salah satu sangkar di Stasiun Karantina Orangutan Batumbelin, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Kamis (27/1/2011). Ganteng yang berjenis kelamin laki-laki dan Ginting perempuan lahir pada 21 Januari. Kelahiran bayi kembar Orangutan Sumatera (Pongo abelii) ini merupakan yang pertama selama 15 tahun terakhir.
MANCHESTER, KOMPAS.com — Orangutan memiliki kecerdasan rekayasa bak seorang insinyur teknik. Kecerdasan ini dibuktikan orangutan saat membangun sarang.

Tim peneliti yang dipimpin oleh peneliti dari University of Manchester merekam kecerdasan lewat proyek riset di Sumatera. Tim mengikuti orangutan dan mengobservasi sarang yang dibangunnya.

Hasil studi yang dipublikasikan di jurnal PNAS baru-baru ini menunjukkan bahwa orangutan memilih cabang tebal sebagai penyangga dan ranting tipis sebagai matras atau alas.

Roland Ennons dari University of Manchester mengungkapkan bahwa perilaku pemilihan cabang dan ranting menunjukkan kemampuan rekayasa atau teknik orangutan. "Mereka menunjukkan kemampuan rekayasa yang besar dalam cara membangun sarang," kata Ennons seperti dikutip BBC, Senin (16/4/2012).

Orangutan mengumpulkan dan menyusun cabang-cabang tebal dan fleksibel untuk dijadikan rangka sarang. Selanjutnya, ranting yang berdaun ditambahkan sehingga sarang menjadi lebih nyaman.

Adam van Casteren, pemimpin studi yang juga kandidat PhD, membutuhkan waktu setahun untuk menyelesaikan penelitiannya. Ia dan rekannya, Julia Myatt dari London Royal Vereinary College, merekam perilaku orangutan membangun sarang. Orangutan bisa menyelesaikan pembangunan sarang dalam 5-6 menit.

Begitu orangutan bangun dan meninggalkan sarang, Van Casteren naik ke sarang yang bisa berketinggian 30 meter dan mengukurnya. "Saya membongkar setiap sarang dan membawanya ke tenda untuk melakukan pengujian," kata Van Casteren.

Tes mekanik yang dilakukan menunjukkan bahwa orangutan memilih ranting berdasarkan karakteristik strukturnya. "Orangutan jantan bisa punya berat hingga 80 kg dan sarangnya bisa sangat tinggi. Jadi butuh struktur yang kuat," jelas Van Casteren.

Pemilihan yang dilakukan orangutan menunjukkan bahwa orangutan tak cuma melihat ranting sebagai ranting belaka, tetapi sebagai material bangunan.

sumber
[ Read More ]

Selatan Jawa Wajib Waspadai Gempa dan Tsunami

google map

TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi gempa besar yang dibicarakan selalu terkait dengan Sumatera Utara, Mentawai (Siberut, Sipora, Pagai), dan Selat Sunda.

Mentawai, misalnya, diperkirakan bisa mengalami gempa 8,9 skala Richter. Gempa tersebut kini seolah sedang ditunggu kehadirannya. Sebelumnya, gempa besar dengan tsunami pernah terjadi tahun 1833.

Bagaimana dengan wilayah selatan Jawa? Apakah aktivitas di zona subduksi bisa mengakibatkan gempa besar yang kemudian diikuti dengan tsunami?

Peneliti anggota Tsunami Research Group Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, potensi gempa besar di selatan Jawa lebih rendah.

"Subduksi Jawa tidak seperti di Sumatera. Di Jawa, subduksinya lebih tua," kata Widjo. Jika umur subduksi Sumatera adalah 60-80 juta tahun, maka umur subduksi Jawa lebih dari 100 tahun.

Persoalannya, palung Jawa memanjang dari Banyuwangi hingga Mentawai memiliki banyak sedimen. Sifat ini akan memengaruhi gempa dan tsunami yang dihasilkan.

"Banyaknya sedimen di palung bisa menyebabkan gempa lebih lambat. Namun, dislokasinya besar dan tsunami yang dihasilkan juga besar," urai Widjo.

"Dengan magnitud yang sama, gempa di subduksi Jawa bisa menghasilkan tsunami hingga 3 kali lipatnya dibanding gempa normal," tambah Widjo yang dihubungi Kompas.com beberapa hari lalu.

Dengan kata lain, gempa akibat aktivitas subduksi Jawa berpotensi lebih membunuh. Gempa yang tak dirasakan membuat warga terlena, merasa tak mungkin ada tsunami. Ternyata, tsunami justru besar.

Gempa dengan karakteristik di atas disebut gempa lamban. Jenis gempa inilah yang mengguncang Mentawai pada tahun 2010 dan Pangandaran pada tahun 2006.

Widjo mengatakan bahwa dengan karakter Jawa yang unik, warga di selatan Jawa pun wajib mewaspadai potensi gempa dan tsunami.

Misteri

Irwan Meilano, pakar kegempaan dari Institut Teknologi Bandung, mengatakan bahwa pengetahuan tentang kegempaan di selatan Jawa masih minim, jauh dibandingkan Sumatera.

Satu hal yang diketahui dengan pasti adalah bahwa subduksi di Jawa masih aktif. Aktivitas subduksi mempengaruhi sesar di daratan, seperti Lembang dan Opak.

"Kalau ada gempa di daratan, misalnya di sesar Opak di Yogyakarta tahun 2006, itu menunjukkan bahwa subduksinya pun aktif karena energinya berasal dari subduksi," ungkap Irwan.

Namun, Irwan yang ditemui dalam seminar "Mitigasi Gempa dan langkah-langkah Evakuasi di Gedung Bertingkat", Selasa (17/4/2012) di Jakarta, mengatakan, banyak hal tentang kegempaan selatan Jawa masih menjadi misteri.

Sumatera memiliki pulau-pulau di samudra. Hal itu mempermudah penelitian aktivitas tektonik, misalnya dengan observasi terumbu karang. Penelitian seperti periodisasi gempa bisa dilakukan.

"Ini yang tidak ada di Jawa. Record itu tidak tercatat dengan baik. Riset di Jawa lebih sulit karena perlu waktu lebih panjang dan pengamatan lebih detail," urai Irwan.

Saat ini, tim ilmuwan termasuk Irwan melakukan penelitian dengan pendekatan palaeoseismologi. Riset dilakukan dengan proses trenching, menganalisis lapisan tanah untuk melihat jejak adanya tsunami.

"Kita sedang kuantifikasi hazard-nya. Kita tahu yang sangat awal, belum detail. Kita akan perkirakan berapa magnitud dan rentangnya, selanjutnya akan kita jabarkan dalam peta gempa," papar Irwan.

Seismic gap di selatan Jawa?

Salah satu yang menarik dari kegempaan di subduksi Jawa, menurut Widjo, adalah sejarah terjadinya gempa yang disusul tsunami serta lokasinya.

Tahun 1994, terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala Richter di subduksi selatan Jawa Timur yang memicu tsunami di Banyuwangi. Sebanyak 250 orang tewas akibat tsunami tersebut.

Sementara itu, tahun 2006 terjadi tsunami di Pangandaran yang dipicu gempa 6,8 skala Richter. Jumlah korban yang tewas mencapai puluhan orang. Ada yang memperkirakan gelombang tsunami mencapai 10 meter.

"Yang timur sudah, yang barat juga sudah. Bagaimana dengan bagian yang tengah? Apa yang sedang terjadi? Apakah sedang ada pengumpulan energi?" tanya Widjo.

"Ini yang sedang menjadi concern kita. Khawatirnya nanti ada gempa yang besar atau unik seperti tahun 1994 dan 2004. Gempanya tak terlalu besar, tapi tsunaminya tinggi," tambah Irwan.

Irwan mengatakan, belum ada kepastian bahwa ada wilayah seismic gap di selatan Jawa, berkisar pada letak 110 Bujur Timur, 75 km berarah ke utara dan selatan palung Jawa.

Menurut Irwan, absennya gempa besar di suatu wilayah bisa berarti dua hal. Pertama, memang memiliki aktivitas kegempaan rendah. Kedua, adalah seismic gap atau ada potensi gempa besar, tetapi belum terjadi.

"Untuk selat Sunda, kita memang sudah pastikan ada seismic gap. Di selatan Jawa, kita sudah lakukan penelitian dengan metodologi yang sama, tapi belum bisa menyimpulkan apakah ada seismic gap, walaupun kemungkinannya ada," ungkap Irwan.

Ketika masih banyak yang menjadi misteri, penelitian harus dilakukan. Namun, yang juga penting adalah kewaspadaan masyarakat.

"Dimensi manusia ini penting. Tidak harus menunggu proses penelitian dan engineering, tapi bisa berjalan secara pararel," kata Irwan.

Widjo menambahkan, edukasi kepada masyarakat di selatan Jawa dan infrastruktur seperti alat peringatan dini tsunami wajib menjadi prioritas.

sumber
[ Read More ]

Orangutan Rawa Tripa Terancam Punah Akhir 2012

Nature Photos Orangutan Sumatera (Pongo abelii).
DEPOK, KOMPAS.com - Ian Singleton, Direktur Konservasi Program Konservasi Orangutan Sumatera mengatakan bahwa orangutan yang ada di Rawa Trip, Aceh, terancam punah dalam waktu dekat.
"Jika aktivitas perusakan seperti konversi lahan terus berlanjut, maka orangutan di Rawa Tripa akan habis akhir tahun 2012," kata Singleton saat ditemui dalam diskusi diadakan Pusat Riset Perubahan Iklim, Universitas Indonesia, Selasa (24/4/2012).
Singleton mengatakan bahwa banyak perusahaan kelapa sawit yang membuka lahan di Tripa sebagai perkebunan. Pembukaan lahan bahkan dilakukan di kawasan konservasi dengan pembakaran.
Pembukaan hutan mengakibatkan orangutan Sumatera (Pongo abelii) di wilayah setempat terganggu. Banyak orangutan mengalami kematian akibat habitat yang dirusak.
Praktek pembunuhan orangutan juga dilakukan. Sebagian dilakukan dengan sadis, seperti menjerat leher orangutan tanpa bius dan melakukan penembakan hingga 62 kali ke satu individu orangutan.
"Populasi orangutan 2 tahun lalu tinggal 300 ekor. Dalam 12 bulan terakhir sudah berkurang 100 ekor. Jadi populasi saat ini diperkirakan 200 ekor," ungkap Singleton.
Menurut Singleton, upaya konsevasi habitat harus dilakukan di wilayah Rawa Tripa untuk menjaga kelestarian orangutan. "Sekarang harus stop konversi," tegas Singleton.
Singleton mengatakan bahwa habitat Rawa Tripa sangat penting bagi orangutan. Kawasan ini merupakan kawasan orangutan Sumatera yang terpadat di dunia. Delapan ekor orangutan dijumpai per km persegi.
"Rawa Tripa adalah ibukota orangutan," terangnya.
Orangutan yang tinggal di Rawa Tripa memiliki kecerdasan tinggi. Mereka mampu menggunakan alat untuk mencari makanan, melubangi sarang lebah untuk mendapatkan madu serta memecahlan buah yang berkulit keras.
"Kita akan sangat kehilangan kalau orangutan ini sampai punah," kata Singleton.

sumber
[ Read More ]

Mengapa Kertas Menguning?

shutterstock
ROMA, KOMPAS.com — Seiring waktu berjalan, kertas berubah warna menjadi kuning. Ini hal yang wajar dan tak banyak yang mempertanyakan. Sebenarnya, mengapa kertas berubah warna?
Mosca Conte dari Universita di Roma Tor Vergata berusaha menguak alasannya lewat penelitian. Hasil riset dipublikasikan di jurnal Physical Review Letters.
Untuk melakukan penelitian, Conte menggunakan tiga sampel yang tak diputihkan. Kertas tersebut dimasukkan dalam reaktor dengan kondisi mirip kondisi lingkungan selama 48 hari.
Conte kemudian membandingkan kertas tersebut dengan tiga kertas bertulisan yang berasal dari abad ke-15. Teknik ini memungkinkan peneliti mengungkap apa penyebab perubahan warna kertas.
Peneliti menuturkan, kertas terdiri atas 90 persen selulosa. Seiring waktu, bahan penyusun dinding sel tumbuhan itu teroksidasi.
Menurut Conte, oksidasi mampu mengubah susunan beragam molekul dan mengubahnya menjadi sesuatu yang disebut chromophores, yang menyerap cahaya.
Kertas terlihat putih karena memantulkan semua cahaya. Kertas tua memantulkan cahaya dalam panjang gelombang tertentu, yang menbuatnya terlihat kuning.
Hasil studi ini memungkinkan pihak terkait melakukan langkah memelihara kertas, dan bahkan memutihkan teks dan kesenian tua.

sumber
[ Read More ]

Rencana Penambangan Asteroid

daily mail The asteroid 2011 AG5 will pass near to Earth in 2040, with a one in 625 chance of hitting our planet, according to scientists
KOMPAS.com Sejumlah eksekutif perusahaan teknologi dan sutradara film berencana melakukan survei dan menambang mineral langka dari asteroid yang mengorbit di dekat Bumi.

Rencana bernilai miliaran dollar AS itu termasuk penggunaan robot di ruang angkasa untuk mencari komponen kimia minyak dan mineral, termasuk emas dan platinum, dari bebatuan tersebut.
 
Para penggagasnya antara lain sutradara terkenal, James Cameron, dan pemimpin eksekutif raksasa internet Google, Larry Page dan Eric Schmidt.

Mereka bahkan berencana menciptakan depot bahan bakar di ruang angkasa pada tahun 2020.

Namun, sejumlah ilmuwan menyatakan keraguannya dengan menyebut rencana itu terlalu berani, sulit, dan terlalu mahal.

Para ilmuwan menyatakan, biaya untuk mewujudkan rencana itu sulit ditekan walaupun harga platinum dan emas sekitar 35 poundsterling (Rp 490.000).

Sebuah misi Badan Ruang Angkasa Amerika, NASA, yang rencananya akan membawa pulang hanya 60 gram materi dari asteroid ke Bumi memerlukan biaya sekitar 1 miliar dollar AS.

Sasaran ribuan asteroid

Langkah awal yang akan dilakukan dalam waktu 18 sampai 24 bulan ke depan mencakup peluncuran teleskop yang akan mencari sasaran asteroid yang kaya akan sumber mineral. Tujuannya adalah membuka eksplorasi ruang angkasa untuk industri swasta.

Dalam waktu lima sampai sepuluh tahun kemudian, perusahaan pengelola berharap mereka bisa bergerak dari bisnis penyewaan landasan pengamatan di orbit ke penambangan ribuan asteroid yang mengorbit di dekat Bumi dan menyaring bahan mentah yang dikandung.

Perusahaan yang disebut Planetary Resources ini juga didukung oleh penggagas pariwisata ruang angkasa, Eric Anderson; mantan calon presiden Amerika, Ross Perot; dan astronot NASA yang berpengalaman, Tom Jones.

"Kami tidak memperkirakan perusahaan ini dapat segera mengeruk keuntungan. Upaya ini akan makan waktu lama," kata Eric Anderson kepada kantor berita Reuters.

Profesor Jay Melosh dari Universitas Purdue mengatakan, biaya rencana ini sangat tinggi dan menyebut eksplorasi ruang angkasa sebagai "olahraga yang hanya diikuti oleh negara-negara kaya dan mereka yang ingin menunjukkan keunggulan teknologi."

Namun, Eric Anderson—yang mendirikan perusahaan pariwisata ruang angkasa, Space Adventures— mengatakan dia sudah terbiasa menghadapi orang yang skeptis. "Kami bergerak dalam industri ini selama puluhan tahun. Namun, ini bukan yayasan sosial, dan kami akan menghasilkan uang dari awal," katanya.

sumber
[ Read More ]

Bintang Mampu "Mengadopsi" Planet

Christine Pulliam Ilustrasi : Planet hasil adopsi mengorbit di tepian sebuah sistem bintang.
MASSACHUSETS, KOMPAS.com - Studi terbaru menyatakan bahwa miliaran bintang yang ada di Galaksi Bimasakti mampu 'mengadopsi' planet yatim piatu yang merana di angkasa.

Dengan cara itu, planet yatim piatu yang terbentuk di sebuah tata surya dan akhirnya terlempar keluar bisa menemukan 'orang tua' baru di sistem bintang lain.

"Bintang bertukar planet seperti tim baseball bertukar pemain," kata Hagai Perets, peneliti dari harvard Simthsonian Center for Astrophysics.

Studi dilakukan Perets bersama rekannya, Thijs Kouwenhoven dari Peking University, Cina. Hasil studi dipublikasikan di Astrophysical Journal, Jumat (20/4/2012).

Untuk sampai pada hasil penelitian, Perets dan Kouwenhoven melakukan simulasi kluster bintang muda yang memiliki planet yang melayang bebas atau yatim piatu.

Peneliti menemukan, jika jumlah planet sama dengan jumlah bintang, maka 3-6 persen bintang akan mengadopsi planet yatim piatu. Makin masif bintang, makin besar kemungkinan bintang mengadopsi.

Studi fokus pada kluster bintang muda karena adopsi planet lebih mungkin terjadi jika bintang dan planet yatim piatu terkumpul di wilayah yang relatif dekat.

Pada awal sejarahnya, bintang dalam kluster bintang terletak berdekatan. Seiring waktu, kluster semakin menjauh. Jadi, adopsi planet harus terjadin pada awal sejarah kluster bintang.

Planet yatim piatu terbentuk secara alami dalam proses pembentukan bintang. Sistem bintang memiliki beberapa planet. Satu planet bisa saja terlempar keluar oleh sebab tertentu.

Planet yang terlempar bisa tertarik oleh gravitasi bintang lain dan diadopsi.

Planet hasil adopsi biasanya berjarak ratusan atau ribuan kali lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari. Selain itu, ortbit planet ini juga berbeda dengan planet asli, bahkan bisa bergerak mundur dalam mengelilingi Matahari.

Sejauh ini, astronom belum menemukan bukti nyata adanya adopsi planet. Namun, studi bisa dilakukan dengan melihat planet di bintang bermassa rendah dan berjarak jauh dengan bintangnya.

Bukti terbaik adanya adopsi planet yang dimiliki saat ini adalah temuan dari European Sothern Observatory, dimana ada dua planet bermassa 7 dan 14 kali Jupiter yang mengorbit satu sama lain tanpa bintang.

Jika bintang bisa mengadopsi planet, apakah Matahari sebagai bintang di tata Surya juga bisa melakukannya?

"Tak ada bukti bahwa Matahari menangkap planet," kata Perets seperti dikutip Physorg, Selasa (17/4/2012).

"Tapi tetap ada kemungkinan adanya dunia kecil yang mungkin berada di tepian Tata Surya kita," tutur Perets.

sumber
[ Read More ]

Pluto Punya Tetangga Jauh

NASA Ilustrasi Sedna dan hipotesis dua bulan yang mengelilinginya.
PASADENA, KOMPAS.com - Pluto punya tetangga jauh. Bernama Sedna, tetangga Pluto tersebut ditemukan pada tahun 2003 dan mengorbit Matahari dari jarak lebih dari dua kali jarak Matahari-Pluto.

Sebelumnya, diperkirakan Sedna berukuran 2/3 ukuran Pluto. Namun, studi terbaru menemukan bahwa Sedna lebih kecil, hanya berukuran 43 persen luas Pluto.

Studi terbaru itu dilakukan oleh Andras Pal dari Konkoy Laboratory di Hungaria dan rekannya. Mereka menggunakan Herschel Space Observatory milik European Space Agency (ESA) untuk mendeteksi Sedna berdasarkan inframerah.

"Seda sangat dingin," kata Pal. Benda angkasa yang sempat diduga planet kesepuluh di Tata Surya ini mengorbit pada jarak 13 miliar kilometer dan memiliki suhu -253 derajat Celsius.

Observasi dengan Herschel menunjukkan bahwa Seda merefleksikan lebih banyak sinar matahari dari yang siduga. Ini menunjukkan bahwa objek angkasa ini begitu kecil dan terlihat redup.

"Kami mengharapkan objek yang lebih besar dan gelap," kata Pal seperti dikutip National Geographic, Kamis (18/4/2012). Diameter Sedna hanya 995 kilometer, lebih kecil dari bulan Pluto, Charon.

Mike Brown, astronom dari California Institute of Technology, yang menemukan Sedna tahun 2003 mengatakan, "Kita tak pernah pengukuran yang bagus sebelumnya."

Pluto semula juga diduga lebih besar dari Merkurius namun lebih kecil dari Mars. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa Pluto hanya berukuran 1/2 Merkurius.

Hasil penelitian Pal telah masuk ke arsip penelitian online arXiv.org. Studi akan segera dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics Letter.

sumber
[ Read More ]

Manusia Menggunakan Api sejak 1 Juta Tahun Lalu

Shutterstock Ilustrasi
NEW YORK, KOMPAS.com — Kapan manusia mulai menggunakan api? Hal ini telah menjadi perdebatan sejak lama. Studi terbaru menunjukkan bahwa manusia menggunakan api sejak 1 juta tahun yang lalu.

Peneliti dari Boston University, Fransesco Berna, menemukan bukti penggunaan api di Gua Wonderweck, Afrika Selatan. Ia memublikasikan hasil risetnya di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Sebelumnya, ada pendapat bahwa nenek moyang manusia mulai memakai api sejak 1,5 juta tahun lalu atau bahkan lebih awal. Namun, masalah yang muncul adalah bagaimana membedakan api alami dan buatan?

Pengetahuan tentang awal manusia menggunakan api sendiri sangat penting dalam arkeologi dan evolusi. Perilaku ini menjadi petunjuk evolusi otak dan kecerdasan manusia.

Dalam pernyataan kepada AP, Senin (2/4/2012), Berna mengungkapkan bahwa bukti adanya penggunaan api adalah abu dan tulang yang terbakar beberapa kali.

Michael Chazan dari University of Torronto yang terlibat studi mengatakan, leluhur manusia saat itu mungkin membawa material yang sudah terbakar secara alami ke gua untuk membuat api lebih besar.

Berdasarkan alat-alat batu yang ditemukan di lokasi penelitian, Chazan mengatakan bahwa spesies manusia yang mulai membuat api ialah Homo erectus. Spesies ini sudah ada sejak 2 juta tahun lalu.

Dalam riset, Berna memang tidak menemukan bukti persiapan pembakaran seperti perapian atau lubang cukup dalam. Tetapi, ia berpendapat bahwa tak mungkin pembakaran terjadi karena alam, misalnya petir.

Jejak penggunaan api berada 30 meter dari mulut gua. Dan, karena adanya perubahan sejak 1 juta tahun lalu, maka mungkin lokasi penggunaan api sebenarnya lebih dalam.

Berna juga menuturkan bahwa api tak mungkin berasal dari pembakaran guano atau kotoran kelelawar. Dalam beberapa kasus lain, ini bisa terjadi, walau jarang ditemui.

Berna mengungkapkan, tulang bisa menjadi petunjuk adanya pembakaran sebab mengalami perubahan warna dan kimia. Bukti pembakaran juga ada di batuan. Abu membuktikan adanya pembakaran daun, rumput, dan ranting.

Belum diketahui tujuan penggunaan api saat itu. Peneliti menduga, api bisa digunakan untuk memasak. Leluhur memakan daging dan melemparkan tulangnya ke perapian. Kemungkinan lain, api dipakai untuk menghangatkan dan melindungi dari serangan hewan liar.

Hasil penelitian Berna mendapatkan tanggapan dari banyak peneliti.

Anne Skinner dari William College, Williamstown, Massachusets, mengatakan bahwa hasil studi ini harus dibandingkan dengan studi lain di tempat terdekat yang menunjukkan penggunaan api dalam waktu sama.

Menurut Skinner, kombinasi beberapa bukti dari beberapa tempat yang berdekatan akan lebih kuat. Sebelumnya, tulang yang terbakar juga ditemukan di gua Gua Swartkrans yang tak jauh dari Gua Wonderweck.

Wil Roebroeks dari Leiden University di Belanda dan Paola Villa dari University of Witwatersrand di Johannesburg di Afrika Selatan mengatakan bahwa studi Berna tidak memberi bukti kuat.

Menurut Roebroeks dan Villa, tak ada bukti fisik yang menunjukkan bahwa leluhur manusia sudah menggunakan api selama itu. Studi sebelumnya mengungkapkan bahwa manusia baru menggunakan api 400.000 tahun lalu.

Berna akan kembali lagi ke Gua Wonderweck untuk melakukan penelitian lebih lanjut tahun ini.

sumber
[ Read More ]

Ini Persamaan Lalat dan Manusia

Geoffrey Attardo lalat Tsetse
NEW HAVEN, KOMPAS.com — Lalat tsetse betina hanya memproduksi satu telur dalam satu waktu. Larva dari spesies ini menetas dalam perut induknya. Setelahnya, induk memberi larva makanan berupa senyawa serupa susu.

Kini, peneliti melaporkan bahwa susu pada lalat tsetse memiliki enzim yang disebut sphingomyelinase atau smase. Enzim ini juga dijumpai pada mamalia dan manusia.

Joshua Benoit, pakar serangga dari Yale University, yang terlibat penelitian mengungkapkan bahwa dengan fakta itu, lalat tsetse bisa digunakan untuk membantu studi laktasi manusia.

Pada manusia, kekurangan smase bisa mengakibatkan penyakit niemann-pick, sejenis penyakit terkait sistem saraf yang bisa berakibat fatal bagi anak-anak.

Lalu, ada juga penyakit tidur, sejenis penyakit yang diakibatkan oleh parasit dan ditularkan lewat gigitan lalat tsetse. Penyakit tidur bisa berakibat fatal jika tak ditangani. Belum ada vaksin untk penyakit ini.

Peneliti percaya bahwa dengan memanipulasi produksi enzim pada lalat tsetse, populasi jenis lalat ini bisa dikendalikan. Hal ini mungkin dilakukan dengan menyemprotkan zat kimia pada hewan yang menjadi makanan lalat tsetse.

Hasil penlitian Joshua dipublikasikan di jurnal The Biology of Reproduction.

sumber
[ Read More ]

Antirayap Alami dari Tanaman Indonesia

TPGIMAGES

TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengendalian rayap selama ini dilakukan dengan bahan kimia. Pembasmiannya juga fokus pada perlakuan kayu. Akibatnya, pembasmian rayap kadang mengorbankan serangga lain serta merugikan manusia.

Peneliti dari Balai Litbang Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr. Sulaeman Yusuf, mengembangkan bahan antirayap alami, ramah lingkungan dan selektif untuk memperbaiki cara pengendalian rayap.

"Bahan ini membasmi khusus rayap, tidak serangga lain. Selama ini dalam pengawetan kayu, kayunya yang diawetkan. Sekarang, serangganya yang kita kendalikan," papar Sulaeman.

Menurut Sulaeman, antirayap yang selektif diperlukan untuk memperkecil efek lingkungan pendendalian rayap. Di samping itu, hanya beberapa jenis rayap saja yang sebenarnya merusak kayu dan bangunan.

Tercatat, jenis rayap yang merusak bangunan adalah Coptotermes gestroi, C. curvignatus, Schedorhitotermes javanicus, Macrotermes gilvus, Microtermes spp. dan Cryptotermes cynocephalus.

Diantara beberapa spesies yang ditemukan di Indonesia, hanya 2 spesies yang menyerang bangunan, yakni Coptotermes gestroi dan C curvignathus. Jenis C. gestroi adalah yang paling ganas.

Untuk mengembangkan bahan antirayap selektif, Sulaeman mengeksplorasi keanekaragaman hayati Indonesia. Beberapa jenis tanaman dan jamur sudah ditelitinya.

Antirayap alami dipilih karena juga dipandang lebih ramah lingkungan. Bahan kimia antirayap tertentu, seperti aldrin dan chlordan, merugikan kesehatan dan bersifat karsonogenik.

Eksplorasi Sulaeman menunjukkan bahwa alam Indonesia ternyata menyimpan bahan antirayap alami. dari puluhan jenis yang diteliti, ada lima  jenis yang efektif mengendalikan rayap.

Lima jenis tanaman tersebut adalah Bintaro (Carberra adollum dan Carbera manghas), Kecubung (Brugmansia candida), Antiaris toxicaria, Azadirachta nimba atau nimba dan tembakau (Nicotiana tabaccum).

Bahan aktif yang membunuh rayap pada jenis tumbuhan tersebut adalah Azadirachtin pada nimba, Eugenol pada cengkeh, Certerin pada Bintaro dan nikotin pada tembakau. Bahan itu merusak kulit dan lambung rayap.

"Kita akan cari lagi bahan aktifnya sehingga nanti bisa diproduksi," kata Sulaeman yang baru saja dilantik sebagai profesor riset bidang biomaterial pada rabu (18/4/2012).

Menurut Sulaeman, bahan antirayap alami potensial untuk diproduksi. Apalagi, bahan alaminya sendiri tersedia melimpah di alam. "Misalnya bintaro, banyak sekali di pinggir jalan," ujar Sulaeman.

"Nantinya kita mungkin bisa memproduksi pestisida alami yang bebas dalam bentuk spray, seperti obat nyamuk, untuk mengendalikan rayap," pungkas Sulaeman.

sumber
[ Read More ]

Empat Tuntutan LIPI Terkait Publikasi Tawon Garuda

Chris Murphy Perbandingan tawon monster dengan tawon biasa (vespula vulgaris)
JAKARTA, KOMPAS.com - Publikasi penemuan tawon Garuda (Megalara garuda) beberapa waktu lalu sempat menuai polemik sebab tidak mencantumkan nama peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian sebagai author.
Publikasi penelitian di jurnal Zookeys Maret 2012 lalu hanya mencantumkan nama peneliti University of California Davis, Lynn S Kimsey dan peneliti Jerman, Michael Ohl. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) "dilupakan".
Terkait hal ini, Kepala LIPI, Lukman Hakim, dalam konferensi pers, Rabu (25/4/2012), mengatakan, "Ini pelanggaran MoU. Secara pribadi peneliti sudah meminta maaf. Tapi ini belum selesai."
Dalam MoU, sudah tertulis bahwa publikasi harus menyertakan nama peneliti LIPI. Selain itu, paper ilmiah juga harus dikonsultasikan pada peneliti LIPI sebelum di-submit ke jurnal. Dua hal tersebut tidak dilakukan.
Lukman juga menyebut bahwa Kimsey pun melanggar Material Trade Agreement (MTA). Kimsey meminjam 6000 spesimen serangga untuk dipelajari. Dalam aturan MTA, dinyatakan bahwa spesimen tidak bisa diberikan pada pihak ketiga. Namun, Kimsey justru melakukannya.
Kepala BKPI LIPI, Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, mengungkapkan bahwa LIPI mengajukan 4 tuntutan kepada pihak Kimsey dan University of California, Davis. "Pertama dia dikeluarkan dari tim. Lalu spesimen yang dipinjamkan pada pihak ketiga dikembalikan. Kita minta Lynn meminta maaf kepada LIPI dan kita meminta Lynn untuk memberi penjelasan kepada jurnal ilmiah tentang authorship yang sebenarnya," terang Bogie.
Permintaan maaf sudah dilakukan oleh Kimsey. Selain itu, Kimsey juga sudah menyatakan diri keluar dari tim. Lukman Hakim mengungkapkan bahwa kejadian ini sekaligus menjadi pembelajaran. Peneliti LIPI dan dari institusi manapun harus berhati-hati dalam menjalin kerjasama.

sumber
[ Read More ]

Pemain Top Sepak Bola Punya Otak Super

AFP Pemain sepak bola dari klub Barcelona, Lionel Messi, disebut-sebut sebagai pemain yang cerdas dalam mengolah si kulit bulat.
STOCKHOLM, KOMPAS.com - Atlet berotot kurang cerdas, begitulah stereotipnya. Namun, studi terbaru mengungkapkan bahwa atlet sepak bola ternyata punya fungsi eksekutif superior, bertanggung jawab dalam perencanaan, dan pemikiran abstrak. Semakin top pemain bola, semakin baik fungsi itu.
Kemampuan itu disebut kecerdasan permainan. Predrag Petrovic, pakar ilmu syaraf dari Karolinska Institute di Swedia mengatakan, "(Ini) sangat mendasar dalam cara pembuatan keputusan. Ini terkait dengan cara bekerja cepat mengolah informasi dan membuat keputusan terkait lingkungan sekitar."
Untuk mendapatkan kesimpulan ini, Petrovic mengukur fungsi eksekutif sejumlah orang, termasuk pemain sepak bola, dengan tes standar yang disebut D-KEFS. Tes ini menguji kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan pembuatan aturan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemain bola unggulan meraih skor tertinggi, diikuti dengan pemain bola di kelas yang lebih rendah. Adapun orang yang bukan pemain sepak bola meraih hasil tes yang lebih rendah.
Petrovic menuturkan, perbedaannya antar grup sampel cukup signifikan. Pemain papan atas punya skor dua persen lebih tinggi dari pemain umumnya. Tidak jelas apakah kemampuan otak tersebut adalah warisan genetik atau hasil tempaan. Petrovic mengatakan, kemampuan tersebut bisa hasil dari keduanya, fungsi tersebut dapat ditingkatkan dengan cara berlatih secara tepat.
"Anda tak bisa menjadi pemain bagus jika tak punya fungsi eksekutif bagus. Tapi pada saat yang sama, Anda bisa meningkatkan fungsi eksekutif jika berlatih," jelas Petrovic seperti dikutip New York Times, Senin (9/4/2012).

sumber
[ Read More ]

Laut Mati Pernah Hampir Kering 100.000 Tahun Lalu

AFP Lebih dari 1.000 orang yang tampil tanpa busana alias bugil, mengapung di Laut Mati, sebagai upaya promosi agar laut itu masuk dalam tujuh keajaiban dunia.
TEL AVIV, KOMPAS.com - Tim peneliti dari Tel Aviv University (TAU) dan Hebrew University menemukan bahwa Laut Mati pernah hampir mengering dalam periode 100.000 tahun yang lalu.

Tim pimpinan Zvi Ben-Avraham dari Minerva Dead Sea Research Center TAU dan Mordechai Stein dari Geological Survey of Israel tersebut mengebor sampai 460 meter di bawah dasar laut dan mengekstrak sedimen dalam rentang waktu 200.000 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa air di Laut Mati mengalami peningkatan dan penurunan dalam 200.000 tahun terakhir.

Lapisan garam menandai beberapa periode kekeringan dan curah hujan yang sangat sedikit, menyebabkan air surut dan garam menumpul di bagian tengah Laut Mati.

Peneliti juga menemukan bahwa pada masa 120.000 tahun lalu, Laut Mati hampir mengering seluruhnya. Periode kering ekstrim setelahnya adalah pada masa 13.000 tahun lalu.

Saat ini, jumlah air di Laut Mati juga terus menurun. Ben-Avraham mengatakan bahwa sebab penurunan saat ini berbeda dengan di masa lalu, lebih banyak dipengaruhi faktor manusia.

"Apa yang kita lihat di Timur Tengah adalah sesuatu yang mirip periode kering yang cukup parah, tapi ini bukan diakibatkan iklim, ini fenomena yang disebabkan manusia," jelas Ben-Avraham seperti dikutip Physorg, Selasa (10/4/2012).

Kekeringan saat ini lebih dipacu oleh banyaknya pengambilan air sungai untuk irigasi oleh manusia. Akibatnya, jumlah air yang mencapai Laut Mati lebih sedikit.

sumber
[ Read More ]

Lele Unik Ditemukan di Ekuador

National Geographic Cordylancistrus santarosensis
ALABAMA, KOMPAS.com — Spesies baru lele mulut pengisap yang masuk golongan armored catfish ditemukan di Ekuador. Armored catfish adalah jenis lele yang tubuhnya memiliki pelat tulang keras sehingga kadang disebut lele lapis baja.

Ilmuwan dari DePaul University, Windson Aguirre, menemukan lima spesimen dari ikan itu pada tahun 2008 di Sungai Santa Rosa. Ia lalu mengirim spesimen ke Auburn University di Alabama untuk identifikasi.

"Saat kami menyadari bahwa ini baru, sebenarnya tak begitu terkejut. Famili ikan ini bertambah jumlahnya tiap tahun," kata pemimpin riset Milton Tan dari Auburn University.

Yang lebih membuat Tan tertarik adalah karakteristik lele berukuran 7 sentimeter ini. Tak seperti kerabatnya, lele ini tidak memiliki pelat tulang keras di sisi samping kepalanya.

Nama spesies ikan lele baru ini adalah Cordylancistrus santarosensis, sesuai nama sungai tempat ditemukan.

Tak adanya pelat tulang di sisi samping kepala menunjukkan bahwa spesies ini adalah "missing link" antara ikan genus Cordylancistrus lainnya dan Chaetostoma yang mempunyai tulang keras di bagian tersebut.

"Ini penting karena spesies ikan di Ekuador tak terlalu beragam, (dan kami ingin) orang mengetahui (ada ikan) di Ekuador yang unik dan hanya ditemukan di sana," tutur Tan, seperti dikutip National Geographic, Selasa (10/4/2012).

Penemuan spesies Cordylancistrus santarosensis ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa, 22 Maret 2012.

sumber
[ Read More ]

 
Copyright © Yohanes Danni Prihartanto is proudly powered by Blogger.com | Blogger Templates Design by Free Blogger Templates
Support by Unique Pictures and Funny Photos | The Second Daily News | Mobile Phone News | Daily Digital Technology