• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Pages

Adakah yang Akan Mendoakan Kita?

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulai pembicaraan, “Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!”
“Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang …” kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, “Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit.”
Dengan lembut si Malaikat berkata, “Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu.”
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar mirip TV. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.
Kata Malaikat, “Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu.”
Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, “Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.”
Dan setelah itu istrinya berhenti berkata- kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.
Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !
Dengan setengah bergumam dia bertanya, “Apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?”
Jawab si Malaikat, “Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah.” Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.
Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, “Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00?”
Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
“Bukankah itu Panti Asuhan?” kata si pengusaha pelan. “Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.”
“Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.”
Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.
Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
Di saat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.
[ Read More ]

Diam Bersama Tuhan

Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Konon, segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah. Hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.
Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.
Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun.” Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.
Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun.
Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.
Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh. Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.
Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, “Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!” dengan amat bersyukur ia lalu pergi. Diatas kayu salib, “Yesus” ingin sekali memberitahunya, bahwa uang itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara.
Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.
Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib “Yesus” akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun
bergegas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.
Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, “TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana.” Penjaga itu berkata, “Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?”
“Kamu itu tahu apa?”, kata Yesus. “Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung itu dimaksudkan untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut.”
Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan…
Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.
Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersukacita.
sumber
[ Read More ]

Malaikat Dunia

Suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia.
Menjelang diturunkannya, ia bertanya kepada Tuhan: “Para melaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimkanku ke dunia. Tapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan lemah” kata si bayi
Tuhan menjawab: “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. ia akan menjaga dan mengasihimu”
“Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa. Ini cukup bagi saya untuk bahagia” demikian kata si bayi.
Tuhan pun menjawab: “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia”
Si bayi pun bertanya kembali: “Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?”
Sekali lagi Tuhan menjawab: “Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdoa”
Si bayi masih belum puas. ia pun bertanya lagi: “Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi saya?”
Dengan penuh kesabaran Tuhan menjawab: “Malaikatmu akan melindungimu bahkan dengan taruhan jiwanya sekalipun”
Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya: “Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi”
Dan Tuhan pun menjawab: “Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku. Dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu”
Saat itu surga begitu tenangnya sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya: “Tuhan… Jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu siapa nama malaikat di rumahku nanti ?”
Tuhanpun menjawab: “Kamu dapat memanggil malaikatmu… MAMA”

sumber
[ Read More ]

Ibu

Ketika Tuhan menciptakan ibu, DIA lembur pada hari ke-enam.
Malaikat datang dan bertanya,” Mengapa begitu lama, Tuhan?”
Tuhan menjawab: “Sudahkan engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?”
“Ibu ini harus waterproof (tahan air/cuci) tapi bukan dari plastik.
Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai.
Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya.
Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
Enam pasang tangan!!”
Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya “Enam pasang tangan….?”
“Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan, melainkan tangan yang melayani sana sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik….” balas Tuhan.
“Juga tiga pasang mata?” Malaikat semakin heran ketika melihat contoh Ibu tersebut.
Tuhan mengangguk-angguk. “Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang tertutup rapat dan bertanya:
‘Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?’, padahal sepasang mata itu sudah mengetahui jawabannya.”
“Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya…, ia dapat melihat apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat.”
“Dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus berkata: ‘Saya mengerti dan saya sayang padamu’. Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.”
“Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi.”
Akhirnya Malaikat membalik-balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
“Terlalu lunak”, katanya memberi komentar.
“Tapi kuat” kata Tuhan bersemangat.
“Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita.”
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu di pipi, “Eh, ada kebocoran di sini”
“Itu bukan kebocoran”, kata Tuhan.
“Itu adalah air mata…. air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan, airmata…., air mata….”
“Dia bisa berpikir?”, tanya malaikat.
Tuhan menjawab: “Tidak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi.”
“Luar biasa, ENGKAU jenius TUHAN” kata malaikat.
“ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, ibu – ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!”
“Hanya ada satu hal yang kurang dari ibu ini: Dia lupa betapa berharganya dia…”

sumber
[ Read More ]

Bejana Pilihan

Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia – manakah yang akan terpilih?
“Pilihlah saya”, teriak bejana emas, “saya mengkilap dan bercahaya. Saya sangat berharga dan saya melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahan saya akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang yang seperti engkau, Tuanku, emas adalah yang terbaik!”
Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata. Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi. “Aku akan melayani engkau, Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujiMu.”
Tuan itu hanya lewat saja dan menemukan sebuah bejana tembaga. Bejana ini lebar mulutnya dan dalam, dipoles seperti kaca. “Sini! Sini!” teriak bejana itu, “saya tahu saya akan terpilih. Taruhlah saya di mejamu, maka semua orang akan memandangku.”
“Lihatlah saya,” panggil bejana kristal yang sangat jernih. “Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya saya. Meskipun saya mudah pecah, saya akan melayani engkau dengan kebanggaan saya. Dan saya yakin, saya akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu.”
Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh. “Engkau dapat memakai saya, Tuanku,” kata bejana kayu. “Tapi aku lebih senang bila Engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.”
Kemudian Tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan retak, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.
“Ah! Inilah bejana yang aku cari-cari. Aku akan perbaiki dan kupakai, dan akan aku buat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang mempunyai mulut lebar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan sombong. Tidak juga yang merasa dirinya selalu benar. Tetapi yang kucari adalah bejana yang sederhana yang akan kupenuhi dengan kuasa dan kehendakKu.”
Kemudian ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaikinya, membersihkannya dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepadanya. “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan: Jadilah berkat bagi orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.”
[Sumber: www.airhidup.com]
[ Read More ]

Saturn's Rings & Biggest Moon Dazzle in New Photo


Cassini photo of Saturn, its rings and the moon Titan
In this photo, snapped by NASA's Cassini spacecraft on Jan. 5, 2012, Saturn's rings cast shadows on the huge planet. Saturn's largest moon, Titan, is visible just below the rings, in the upper right of the picture.
CREDIT: NASA/JPL–Caltech/Space Science Institute


A spectacular new photo shows Saturn's rings casting shadows across the planet, while the huge moon Titan looms in the distance.
The iconic rings of Saturn cut across the top of the image, which was captured in infrared light by NASA's Cassini spacecraft on Jan. 5 and released to the public today (March 5). The rings' shadows play out below, creating dark bands and stripes across much of the gas giant's surface.
Saturn's largest moon, Titan, hangs just beneath the rings, in the upper right portion of the picture. Just above the rings sits the tiny moon Prometheus, barely visible as a tiny white speck.
At 3,200 miles (5,150 kilometers) in diameter, Titan is nearly 50 percent wider than Earth's moon. The only moon in our solar system larger than Titan is Ganymede, which orbits Jupiter.

Titan has a thick, nitrogen-rich atmosphere that shrouds the frigid body in a soupy brown haze. Complex organic molecules — the carbon-containing building blocks of life as we know it — swirl about in this atmosphere. The huge moon also has a hydrocarbon-based weather system, with methane rain falling from the sky and pooling in liquid-methane lakes. Astrobiologists speculate that Titan may be one of the best places in the solar system to search for extraterrestrial life.
Prometheus is an entirely different body altogether — an irregularly shaped, elongated moon just 53 miles (86 kilometers) across. Scientists think Prometheus is a porous, icy object, but they don't know much about it.
Cassini’s wide-angle camera snapped the photo while the probe was about 425,000 miles (685,000 km) from Saturn. The image scale is 23 miles (37 km) per pixel on Saturn, researchers said.
Cassini launched in 1997 and arrived at Saturn in 2004. It has been studying the ringed planet and its many moons ever since, and will continue to do so for years to come. Last year, NASA extended the probe's mission to at least 2017.

space.com
[ Read More ]

Mars, Facts and Information about the Planet Mars

Mars' History & Naming
Mars is named after the ancient Roman god of war, as befitting the red planet's bloody color. The Romans copied the ancient Greeks, who named the fourth planet from the sun after their god of war, Ares. Other civilizations also typically gave the planet names based on its color — for example, the Egyptians named it "Her Desher," meaning "the red one," while ancient Chinese astronomers dubbed it "the fire star."
Physical Characteristics of the Planet Mars
  • Regolith
The bright rust color Mars is known for is due to to iron-rich minerals in its regolith — the loose dust and rock covering its surface. The soil of Earth is a kind of regolith, albeit one loaded with organic content.
This Hubble Space Telescope image shows Mars.
This Hubble Space Telescope image shows Mars.
CREDIT: NASA/ESA/HST/STSCI
  • Geology
The cold, thin atmosphere means liquid water currently cannot exist on the Martian surface for any length of time. This means that although this desert planet is just half the diameter of Earth, they have the same amount of dry land.
The red planet is home to both the highest mountain and the deepest, longest valley in the solar system. Olympus Mons is roughly 17 miles (27 kilometers) high, about three times as tall as Mount Everest, while the Valles Marineris system of valleys — named after the Mariner 9 probe that discovered it in 1971 — can go as deep as 6 miles (10 kilometers) and runs east-west for roughly 2,500 miles (4,000 kilometers), about one-fifth of the distance around Mars and close to the width of Australia or the distance from Philadelphia to San Diego.
Mars has the largest volcanoes in the solar system, including Olympus Mons, which is about 370 miles (600 kilometers) in diameter, wide enough to cover the entire state of New Mexico. It is a shield volcano, with slopes that rise gradually like those of Hawaiian volcanoes, and was created by eruptions of lavas that flowed for long distances before solidifying. Mars also has many other kinds of volcanic landforms, from small, steep-sided cones to enormous plains coated in hardened lava. Some minor eruptions might still occur on the planet.
Scientists think the Valles Marineris formed mostly by rifting of the crust as it got stretched. Individual canyons within the system are as much as 60 miles (100 kilometers) wide. They merge in the central part of the Valles Marineris in a region as much as 370 miles (600 kilometers) wide. Large channels emerging from the ends of some canyons and layered sediments within suggest the canyons might once have been filled with liquid water.
Channels, valleys, and gullies are found all over Mars, and suggest that liquid water might have flowed across the planet's surface in recent times. Some channels can be 60 miles (100 kilometers) wide and 1,200 miles (2,000 kilometers) long. Water may still lie in cracks and pores in underground rock.
Many regions of Mars are flat, low-lying plains. The lowest of the northern plains are among the flattest, smoothest places in the solar system, potentially created by water that once flowed across the Martian surface. The northern hemisphere mostly lies at a lower elevation than the southern hemisphere, suggesting the crust may be thinner in the north than in the south. This difference between the north and south might be due to a very large impact shortly after the birth of Mars.
The number of craters on Mars varies dramatically from place to place, depending on how old the surface is. Much of the surface of the southern hemisphere is extremely old, and so has many craters – including the planet's largest, 1,400-mile-wide (2,300-kilometer-wide) Hellas Planitia — while that of northern hemisphere is younger and so has fewer craters. Some volcanoes have few craters, which suggests they erupted recently, with the resulting lava covering up any old craters. Some craters have unusual-looking deposits of debris around them resembling solidified mudflows, potentially indicating that impactor hit underground water or ice.
  • Polar caps
Vast deposits of what appear to be finely layered stacks of water ice and dust extend from the poles to latitudes of about 80 degrees in both hemispheres. These were probably deposited by the atmosphere over long spans of time. On top of much of these layered deposits in both hemispheres are caps of water ice that remain frozen all year round. Additional seasonal caps of frost appear in the wintertime. These are made of solid carbon dioxide, also known as "dry ice," which has condensed from carbon dioxide gas in the atmosphere, and in the deepest part of the winter, this frost can extend from the poles to latitudes as low as 45 degrees, or halfway to the equator.
  • Climate
Mars is much colder than Earth, in large part due to its greater distance from the sun. The average temperature is about minus 80 degrees F (minus 60 degrees C), although they can vary from minus 195 degrees F (minus 125 degrees C) near the poles during the winter to as much as 70 degrees F (20 degrees C) at midday near the equator.
The carbon-dioxide-rich atmosphere of Mars is also roughly 100 times less dense than Earth's on average, but it is nevertheless thick enough to support weather, clouds and winds. The density of the atmosphere varies seasonally, as winter forces carbon dioxide to freeze out of the Martian air.
The dust storms of the Mars are the largest in the solar system, capable of blanketing the entire red planet and lasting for months. One theory as to why dust storms can grow so big on Mars starts with airborne dust particles absorbing sunlight, warming the Martian atmosphere in their vicinity. Warm pockets of air flow toward colder regions, generating winds. Strong winds lift more dust off the ground, which in turn heats the atmosphere, raising more wind and kicking up more dust.
Orbital Characteristics of the Planet Mars
The axis of Mars, like Earth's, is tilted with relation to the sun. This means that like Earth, the amount of sunlight falling on certain parts of the planet can vary widely during the year, giving Mars seasons.
However, the seasons that Mars experiences are more extreme than Earth's because the red planet's elliptical, oval-shaped orbit around the sun is more elongated than that of any of the other major planets. When Mars is closest to the Sun, its southern hemisphere is tilted toward the Sun, giving it a short, very hot summer, while the northern hemisphere experiences a short, cold winter. When Mars is farthest from the Sun, the northern hemisphere is tilted toward the Sun, giving it a long, mild summer, while the southern hemisphere experiences a long, cold winter.
Composition & Structure
95.32 percent carbon dioxide, 2.7 percent nitrogen, 1.6 percent argon, 0.13 percent oxygen, 0.08 percent carbon monoxide, minor amounts of water, nitrogen oxide, neon, hydrogen-deuterium-oxygen, krypton, xenon
  • Magnetic Field
Mars currently has no global magnetic field, but there are regions of its crust that can be at least 10 times more strongly magnetized than anything measured on Earth, remnants of an ancient global magnetic field.
Mars likely has a solid core comprised of iron, nickel, and sulfur. The mantle of Mars is probably similar to Earth's in that it is composed mostly of peridotite, which is made up primarily of silicon, oxygen, iron, and magnesium. The crust is probably largely made of the volcanic rock basalt, which is also common in the crusts of the Earth and the moon, although some crustal rocks, especially in the northern hemisphere, may be a form of andesite, a volcanic rock that contains more silica than basalt does.
  • Internal structure
Scientists think that on average, the Martian core is about 1,800 and 2,400 miles in diameter (3,000 and 4,000 kilometers), its mantle is about 900 to 1,200 miles (5,400 to 7,200 kilometers) wide and its crust is about 30 miles (50 kilometers) thick.
Orbit & Rotation
Average Distance from the Sun
English: 141,633,260 miles
Metric: 227,936,640 km
By Comparison: 1.524 times that of Earth
Perihelion (closest)
English: 128,400,000 miles
Metric: 206,600,000 km
By Comparison: 1.404 times that of Earth
Aphelion (farthest)
English: 154,900,000 miles
Metric: 249,200,000 km
By Comparison: 1.638 times that of Earth
(Source: NASA.)
The Moons of Mars
The two moons of Mars, Phobos and Deimos were discovered by American astronomer Asaph Hall over the course of a week in 1877. Hall had almost given up his search for a moon of Mars, but his wife Angelina urged him on — he discovered Deimos the next night, and Phobos six days after that. He named the moons after the sons of the Greek war god Ares — Phobos means "fear," while Deimos means "rout."
Both Phobos and Deimos are apparently made of carbon-rich rock mixed with ice and are covered in dust and loose rocks. They are tiny next to Earth's moon, and are irregularly shaped, since they lack enough gravity to pull themselves into a more circular form. The widest Phobos gets is about 17 miles (27 kilometers), and the widest Deimos gets is roughly nine miles (15 kilometers).
Both moons are pockmarked with craters from meteor impacts. The surface of Phobos also possesses an intricate pattern of grooves, which may be cracks that formed after the impact created the moon's largest crater — a hole about 6 miles (10 kilometers) wide, or nearly half the width of Phobos. They always show the same face to Mars, just as our moon does to Earth.
It remains uncertain how Phobos and Deimos were born. They might have been asteroids captured by Mars' gravitational pull, or they might have been formed in orbit around Mars the same time the planet came into existence.
Phobos is gradually spiraling toward Mars, drawing about 6 feet (1.8 meters) closer to the red planet each century. Within 50 million years, Phobos will either smash into Mars or break up and form a ring of debris around the planet.
Research & Exploration
The first person to watch Mars with a telescope was Galileo, and in the century after him, astronomers discovered its polar ice caps. In the 19th and 20th centuries, researchers believed they saw a network of long, straight canals on Mars, hinting at civilization, although later these often proved to be mistaken interpretations of dark regions they saw.
Robot spacecraft began observing Mars in the 1960s, with the United States launching Mariner 4 there in 1964 and Mariners 6 and 7 in 1969. They revealed Mars to be a barren world, without any signs of the life or civilizations people had imagined there. In 1971, Mariner 9 orbited Mars, mapping about 80 percent of the planet and discovering its volcanoes and canyons.
NASA's Viking 1 lander touched down onto the surface of Mars in 1976, the first successful landing onto the Red Planet. It took the first close-up pictures of the Martian surface but found no strong evidence for life.
The next two craft to successfully reach Mars were the Mars Pathfinder, a lander, and Mars Global Surveyor, an orbiter, both launched in 1996. A small robot onboard Pathfinder named Sojourner — the first wheeled rover to explore the surface of another planet — ventured over the planet's surface analyzing rocks.
In 2001, the United States launched the Mars Odyssey probe, which discovered vast amount of water ice beneath the Martian surface, mostly in the upper three feet (one meter). It remains uncertain whether more water lies underneath, since the probe cannot see water any deeper.
In 2003, the closest Mars had passed to Earth in nearly 60,000 years, NASA launched two rovers, nicknamed Spirit and Opportunity, which explored different regions of the Martian surface, and both found signs that water once flowed on the planet's surface. In 2008, NASA sent another mission, Phoenix, to land in the northern plains of Mars and search for water,
Two orbiters — NASA's Mars Reconnaissance Orbiter and ESA's Mars Express — are keeping Mars Odyssey company over the planet. In 2011, NASA's Mars Science Laboratory mission, with its rover named Curiosity, is scheduled to investigate Martian rocks to determine the geologic processes that created them and find out more about the present and past habitability of Mars.
Possibility of Life
Mars could have once harbored life. Some conjecture that life might still exist there even today. A number of researchers have even speculated that life on Earth might have seeded Mars, or that life on Mars seeded Earth.
The most public scientific claim for life on Mars came in 1996. Geologist David McKay at NASA's Johnson Space Center in Houston and his colleagues focused on rocks blasted off the surface of Mars by cosmic impacts that landed on Earth. Within they found  complex organic molecules, grains of a mineral called magnetite that can form within some kinds of bacteria, and tiny structures that resembled fossilized microbes. However, these claims have proven controversial, and there is no consensus as to whether they are signs of life.
Mars might have possessed oceans on its surface in the past, providing an environment for life to develop. Although the red planet is a cold desert today, researchers suggest that liquid water may be present underground, providing a potential refuge for any life that might still exist there.

space.com
[ Read More ]

Mars Has Close Encounter With Earth Tonight


This sky map shows where Mars will appear in the eastern sky on March 5, 2012 at 8 p.m. local time to observers at mid-northern latitudes.
This sky map shows where Mars will appear in the eastern sky on March 5, 2012 at 8 p.m. local time to observers at mid-northern latitudes.
CREDIT: Starry Night Software


The planet Mars will make its closest swing by Earth in more than two years tonight (March 5), just days after reaching a celestial milestone called "opposition" as it circles the sun.
Tonight, the orbit of Mars will bring the Red Planet within about 63 million miles (112 million kilometers) of Earth. At this time, Mars is closer to Earth than at any other point of its 26-month journey around the sun.
If your weather is clear, you may see Mars shining bright in the eastern sky as a brilliant reddish-orange "star."  The sky map of Mars for this story shows how it will appear in the evening sky tonight.
The Red Planet's closest approach to Earth comes just two days after Mars reached opposition, the point in its orbit where it appears exactly opposite the sun as seen from Earth. Mars hit opposition on Saturday (March 3), which the online skywatching website broadcast live with free telescope views.

This still from a Slooh Space Camera webcast shows Mars as it appeared at opposition on March 3, 2012 at 11:30 p.m. ET (0430 GMT on March 4).
This still from a Slooh Space Camera webcast shows Mars as it appeared at opposition on March 3, 2012 at 11:30 p.m. ET (0430 GMT on March 4).
CREDIT: Slooh Space Camera
"We're focusing on Mars because this is the week when it's brightest," astronomer Bob Berman of Astronomy Magazine said during the webcast.
Through the Slooh space camera, which provided a view of Mars through telescopes at observatories in Arizona and the Canary Islands, the Red Planet's full disk could be seen, including its northern polar ice cap and broad features.
For skywatchers tonight, Mars will appear as a bright light in the sky unless you have a small or medium telescope, which can resolve the planet's disk, NASA officials said in a video. It is only in telescope views that features like the ice cap, can be seen, they added.
The next Mars opposition won't occur for another 26 months (set your calendars for 2014), when orbital mechanics will bring Mars even closer to our world.
"At each future opposition until 2018, Mars will be closer to Earth and appear even more impressive," NASA's Jane Houston Jones, of the Jet Propulsion Laboratory in Pasadena, Calif., said in a video describing March's skywatching events. [Amazing Photos of Mars]
The last time Mars made a dazzling close approach to Earth was on Aug. 27, 2003, when the Red Planet was about 34.6 million miles (55.7 million km) from our planet — its closest approach in nearly 60,000 years.

Mars is not the only bright planet shining in the nighttime sky this week. The planets Mercury, Venus, Jupiter and Saturn will all appear as celestial night lights for skywatchers with cloud-free skies.
Tonight, Mercury will reach its highest altitude in the western sky just after sunset, Jones said. Meanwhile, Venus and Jupiter also make dazzling displays in the western evening sky as they steadily creep closer together.
On March 12 and 13, the two planets will appear so close you could block them with your fingertips, NASA officials have said. Venus is the brighter of the two planets, which will pass each other in the sky during this two-day celestial dance.
This still from a NASA video shows the location of planet Mercury in the night sky just after sunset on March 5, 2012.
This still from a NASA video shows the location of planet Mercury in the night sky just after sunset on March 5, 2012.
CREDIT: NASA/JPL
Earth's moon will also serve as a guide to spotting two planets, Mars and Saturn, this week.
On Wednesday (March 7), the moon will appear close to Mars in the late-night sky around 11 p.m. local time, then serve as a signpost for Saturn when it appears near the ringed planet on March 10 and 11, Jones explained.
The moon will also appear near Jupiter and Venus on March 25 and 26 in a repeat performance of a stunning February "triple play" by the three objects.
"Not a week goes by this month when there isn't an amazing planetary view," Jones said.

space.com
[ Read More ]

Jupiter Moon's Ocean May Be Too Acidic for Life


Europa's Interior Model
Model of Europa's interior. The moon is thought to have a metallic core surrounded by a rocky interior, and then a global ocean on top of that, surrounded by a shell of water ice
CREDIT: NASA

The ocean underneath the icy shell of Jupiter's moon Europa might be too acidic to support life, due to compounds that may regularly migrate downward from its surface, researchers say.
Scientists believe that Europa, which is roughly the size of Earth's moon, possesses an ocean perhaps 100 miles deep (160 kilometers). This ocean is overlain by an icy crust of unknown thickness, although some estimates are that it could be only a few miles thick.
Since there is life virtually wherever there is liquid water on Earth, for many years scientists have entertained the notion that this Jovian moon could support extraterrestrials. Recent findings even suggest its ocean could be loaded with oxygen, enough to support millions of tons worth of marine life like the kinds that exist on Earth.
Researchers have proposed missions to penetrate Europa's outer shellto look for life in its ocean, although others have suggested that Europa could harbor fossils of marine life right on the surface for prospectors to find, given how water apparently regularly gets pushed up from below.

However, chemicals found on the surface of Europa might jeopardize any chances of life evolving there, scientists find. The resulting level of acidity in its ocean "is probably not friendly to life — it ends up messing with things like membrane development, and it could be hard building the large-scale organic polymers," said Matthew Pasek, an astrobiologist at the University of South Florida. [Photos of Jupiter's Moon Europa]

Destructive chemicals

The compounds in question are oxidants, which are capable of receiving electrons from other compounds. These are usually rare in the solar system because of the abundance of chemicals known as reductants such as hydrogen and carbon, which react quickly with oxidants to form oxides such as water and carbon dioxide.
Europa happens to be rich in strong oxidants such as oxygen and hydrogen peroxide, which are created by the irradiation of its icy crust by high-energy particles from Jupiter.
The oxidants on Europa's surface are likely carried downward in potentially substantial quantities by the same churning that causes water to rise from below. Oxidants could be of great use to any life in Europa's ocean — for example, oxygen was pivotal to how complex life evolved on Earth.
However, oxidants from Europa's surface might react with sulfides and other compounds in its ocean before life could nab it, generating sulfuric and other acids, investigators said. If this has occurred for just about half of Europa's lifetime, not only would such a process rob the ocean of life-supporting oxidants, but it could become relatively corrosive, with a pH of about 2.6 — "about the same as your average soft drink," Pasek said.
This level of acidity would be a significant challenge for life, unless organisms were to consume or sequester oxidants fast enough to ameliorate the acidification, researchers said. The ecosystem would need to evolve quickly to meet this crisis, with oxygen metabolisms and acid tolerance developing in only about 50 million years to handle the acidification.
Sampling Rio Tinto
Penny Boston and Cassie Conley sample the acidic waters of Rio Tinto. This river in Spain might hold clues to the possibility for life on Europa.
CREDIT: Leslie Mullen

Extremophiles on Europa?

Any surviving ecosystem in Europa's ocean might be analogous to the microbial community found in acid mine drainage on Earth, such as the bright red Río Tinto river in Spain. The dominant microbes found there are acid-loving "acidophiles" that depend on iron and sulfide as sources of metabolic energy.
Vivianite Mineral Crystals
Could life on Europa have vivianite bones?
CREDIT: mineralatlas.com
"The microbes there have figured out ways of fighting their acidic environment," Pasek said. "If life did that on Europa, [Jupiter's moon] Ganymede, and maybe even Mars, that might have been quite advantageous."
Others have questioned whether or not rock in Europa's seabed might actually neutralize the effects of this acidity. Pasek does not think this is likely — even if such minerals were present, there is probably not enough of it exposed to reduce acidity by much, he said.
The calcium-based materials that bones and shells on Earth are made from might dissolve pretty readily in such an acidic environment. However, "one of the interesting possibilities is that they might have used blue phosphates as their bone material instead to evolve large organisms," Pasek said. "If you have iron phosphates, you make a pretty blue mineral called vivianite."
Pasek and co-author Richard Greenberg detailed their findings online Jan. 27 in the journal Astrobiology.

space.com
[ Read More ]

Baghdad Pernah Beku 1.000 Tahun Lalu

Daily Mail Manuskrip arab kuno yang memberi petunjuk bahwa salju pernah turun di Baghdad pada tahun 908, 944 dan 1007.
MERIDA, KOMPAS.com — Temperatur kota Baghdad, Irak, saat ini berkisar antara 2 derajat celsius pada musim dingin dan 45 derajat celsius pada musim panas. Namun, literatur Arab kuno menunjukkan bahwa Baghdad pernah membeku 1.000 tahun lalu.
Dr Fernando Domínguez-Castro, peneliti dari Universitas Extremadura di Spanyol, menemukan bahwa pada abad ke-9 dan ke-10, tepatnya tahun 908, 944, dan 1007, salju pernah turun di Baghdad dan sungai di kota itu membeku.
Penemuan dilakukan dengan mengkaji literatur Arab kuno yang ditulis oleh Al-Tabari (913), Ibn Al-Athir (1233), dan Al-Suyuti (1505). Ketiga literatur itu mencatat kondisi cuaca dan iklim dari waktu ke waktu.
Domínguez-Castro dalam publikasinya di jurnal Weather mengatakan, "Informasi iklim yang didapatkan dari sumber kuno ini memberikan rincian kondisi ekstrem yang berpengaruh secara luas, seperti menimbulkan banjir dan kekeringan."
"Referensi ini juga mendokumentasikan kondisi yang sangat jarang dijumpai di Baghdad, seperti hujan es disertai badai, sungai yang membeku dan salju," tambah Domínguez-Castro seperti dikutip Daily Mail, Senin (27/2/2012).
Hasil studi ini memberikan petunjuk adanya penurunan temperatur secara global pada abad ke-10. Domínguez-Castro berpendapat bahwa penurunan yang terjadi berkaitan dengan erupsi vulkanik meski pandangannya masih perlu dibuktikan.
Domínguez-Castro menuturkan, "Literatur kuno Arab memberikan alat yang sangat baik untuk memberikan deskripsi yang mendukung model iklim yang dibuat. Kemampuan merekonstruksi iklim masa lampau memberi kita wawasan untuk memahami iklim kita saat ini."

sumber
[ Read More ]

Matematikawan Ungkap Perilaku Makan Lebah

Tattoo Donkey Lebah
LONDON, KOMPAS.com - Matematikawan dari Queen Mary School of Mathematical Sience, Rainer Klages dan Lars Chittka dari School of Biological and Chemical Science, Inggris mengungkap bahwa lebah memiliki pola terbang unik.
Kedua ilmuwan tersebut mengamati perilaku lebah saat mencari makan. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Physical Review Letters bulan ini.
Lebah diketahui mendatangi beberapa bunga untuk mendapat nektar. Kadang beberapa bunga langsung didatangi untuk mendapatkannya. Peneliti menguji bagaimana pengaruh kehadiran predator terhadap perilaku tersebut.
"Dalam matematika, kami memperlakukan lebah sebagai objek yang bergerak random menuju target yang juga terdistribusi secara random," kata Klages seperti dikutip situs Physorg, Jumat (2/3/2012) lalu.
Klages dan Chittka memonitor gerakan lebah dan menggunakan laba-laba palsu seolah-olah menjadi predator yang akan mengganggu lebah. Peneliti menemukan bahwa saat tak ada predator, lebah bergerak secara teratur dari bunga ke bunga. Namun, ketika terdapat laba-laba, lebah lebih sering berputar-putar.
Selain itu, lewat analisis kecepatan gerak, peneliti juga menemukan bahwa perubahan kecepatan gerak saat ada predator juga berbeda dari saat predator absen. Hasil penelitian berkontribusi pada teori tentang perilaku makan. Faktor predator, persepsi, dan memori juga berpengaruh pada perilaku makan spesies tertentu.

sumber
[ Read More ]

Kesendirian Bisa Mematikan

Shutterstock Kesepian tidak hanya berdampak psikologis, tapi juga biologis.
CHICAGO, KOMPAS.com - Kesendirian tak hanya berbuah kesedihan. Hasil penelitian terbaru mengungkap bahwa kesendirian bisa memacu penyakit kronis hingga memicu kematian lebih cepat.

John Cacioppo dari University of Chicago melakukan penelitian tentang efek biologis kesendirian. Ia memaparkan hasil penelitiannya di ajang Social Psychology and Perception Meeting di San Diego, Februari lalu.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Cacioppo mengungkapkan bahwa kesendirian bisa berdampak pada pengerasan arteri, memicu tekanan darah tinggi, pembengkakan tubuh dan masalah ingatan.

Cacioppo juga menganalisis perubahan sistem kekebalan tubuh pada orang yang diisolasi. Spesifiknya, peneliti meneliti ekspresi gen tertentu pada pribadi yang mengalami kesendirian.

Ilmuwan menemukan bahwa gen yang terkait pembengkakan dan aktivasi sistem kekebalan siekspresikan berlebihan. Sementara, gen lain yang terkait kkebalan virus dan produksi antibodi kurang diekspresikan.

Ditemukan pula bahwa sistem kekebalan tubuh pribadi yang mengalami kesendirian cenderung fokus menyerang bakteri. Akibatnya, pribadi ini lebih rentan pada serangan virus serta penyakit yang terkait.

Pada tingkat hormonal, kesendirian merangsang sekresi hormon kortisol, kesendiriang menimbulkan tekanan darah tinggi serta menyebabkan serangan jantung. Kesendirian juga mengurangi kualitas tidur.

"Kesendirian bisa menimbulkan hiperreaktifitas pada perilaku buruk orang lain, jadi orang yang kesepian melihat perlakuan itu lebih dalam. Ini membuatnya jatuh lebih dalam pada perasaan kesepian," kata Cacioppo seperti dikutip Livescience, Jumat (2/3/2012).

Pada pribadi yang mengalami kesendirian atau kesepian, Cacioppo mengatakan bahwa upaya terbaik adalah adalah melatih kemampuan sosial tertentu sehingga melihat dunia lebih positif serta memupuk kemauan untuk berbagi.

sumber
[ Read More ]

Tanggal Istimewa 29 Februari

SHUTTERSTOCK Ilustrasi
M Zaid Wahyudi
Rabu (29/2/2012), merupakan hari istimewa dalam penanggalan Masehi. Keistimewaan itu terletak pada tanggalnya, 29 Februari. Tanggal ini hanya muncul satu kali dalam rentang empat tahun atau delapan tahun. Ini menandakan tahun 2012 adalah tahun kabisat. 
Cikal bakal kalender Masehi yang digunakan saat ini berasal dari kalender Julian yang diperkenalkan sejak masa Julius Caesar pada tahun 46 sebelum Masehi atas bantuan astronom asal Aleksandria, Sosigenes.
Dalam kalender Julian, satu tahun didefinsikan sebagai waktu yang diperlukan Bumi untuk mengelilingi Matahari, yaitu selama 365,25 hari. Karena sulit dan tidak praktis mengubah tahun pada seperempat hari, maka satu tahun dibulatkan menjadi 365 hari.
”Tahun yang memiliki jumlah 365 hari disebut tahun basit atau tahun pendek,” kata ahli kalender dari Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, Selasa (28/2).
Sisa 0,25 hari digabung menjadi satu hari penuh yang ditambahkan pada Februari tahun keempat. Itulah sebabnya Februari yang biasanya hanya memiliki 28 hari setiap empat tahun menjadi 29 hari.
Penambahan satu hari pada tahun keempat inilah yang kemudian membuat setiap angka tahun yang habis dibagi empat disebut tahun kabisat atau tahun panjang karena memiliki 366 hari.
Tidak tepat
Ternyata waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari tidak tepat 365,25 hari atau 365 hari 6 jam seperti yang ditetapkan dalam kalender Julian. Waktu yang tepat adalah 365,242199 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik.
”Astronom pada masa itu belum bisa menentukan waktu revolusi Bumi hingga detail,” ujar Moedji.
Waktu Bumi mengelilingi Matahari ini didasarkan atas waktu yang ditempuh Matahari seolah-olah mengelilingi Bumi dari titik Aries hingga kembali ke titik Aries lagi. Ini disebut sebagai satu tahun tropis.
Matahari berada di titik Aries ditetapkan terjadi pada 21 Maret. Tanggal ini menjadi tanda datangnya musim semi di belahan Bumi utara atau tibanya musim gugur di belahan Bumi selatan.
Penghitungan yang tidak tepat ini membuat setiap satu tahun terjadi kekurangan 11 menit 14 detik. Dalam jangka pendek, kekurangan ini tidak menimbulkan masalah pada kalender yang digunakan. Namun, jika kalender digunakan hingga ribuan tahun, kekurangan ini menjadi sangat terasa.
Dalam 1.000 tahun, hari bergerak 7,8 hari lebih cepat dibandingkan semestinya. Ini ditandai dengan lebih cepatnya Matahari tiba di titik Aries dari hasil penghitungan dibandingkan kondisi sebenarnya.
Hal lain yang dirasakan akibat ketidaktepatan ini adalah musim semi yang datang lebih awal dari 21 Maret sesuai ketetapan.
Majunya waktu ini juga memengaruhi berbagai kegiatan keagamaan yang tidak tepat, seperti dalam penentuan hari raya keagamaan yang memiliki aturan khusus. Ini sangat bertentangan dengan tujuan dibuatnya kalender, yaitu untuk menentukan waktu dilaksanakannya berbagai kegiatan keagamaan dan penanda musim.
Reformasi
Kondisi ini membuat Paus Gregorius XIII pada 1582 Masehi membarui kalender Julian. Ketentuan tahun kabisat tidak hanya angka tahun yang habis dibagi 4, tetapi juga harus habis dibagi 400 untuk tahun abad (tahun yang merupakan kelipatan angka 100).
Ini membuat tahun 1800 atau 1900 yang dalam kalender Julian disebut tahun kabisat setelah ketentuan baru ini tidak lagi disebut tahun kabisat. Namun, tahun 1600 dan 2000 masih disebut tahun kabisat.
Ini akan membuat orang yang lahir pada 29 Februari, perayaan ulang tahunnya tidak hanya akan jatuh tepat empat tahun sekali, tetapi bisa juga delapan tahun sekali, seperti antara 29 Februari 2096 dan 29 Februari 2104. Hal ini karena tahun 2100 bukan tahun kabisat.
Reformasi ini berhasil mengurangi kesalahan penghitungan kumulatif hari. ”Jika dalam kalender Julian terjadi kesalahan 78 hari dalam 10.000 tahun, setelah direformasi kesalahannya tinggal 3 hari dalam 10.000 tahun,” ungkap Moedji.
Selain mengeluarkan aturan baru tahun kabisat, Paus Gregorius XIII juga memotong 10 hari pada Oktober 1582. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kalender agar bersesuaian kembali dengan musim yang terjadi.
Pemotongan ini membuat tanggal 4 Oktober 1582 langsung dilanjutkan dengan tanggal 15 Oktober 1582. Artinya, dalam sejarah kalender Masehi, tidak pernah ada tanggal 5 Oktober sampai 14 Oktober 1582.
Penghapusan ini mirip dengan yang dilakukan Pemerintah Samoa dan Tokelau di Pasifik Selatan yang menghapus tanggal 30 Desember 2011 untuk menyesuaikan dengan waktu di Selandia Baru dan Australia. Penghapusan ini membuat 29 Desember di negara itu langsung dilanjutkan dengan tanggal 31 Desember 2011.
Pembaruan yang dilakukan Paus Gregorius XIII ini membuat sistem penanggalan ini dinamakan kalender Gregorian. Meski demikian, sistem ini tidak langsung diterapkan di semua negara. Rusia, China, Yunani, ataupun Turki baru mengakomodasi kalander ini pada awal abad ke-20.
Belum pas
Meski sudah dikoreksi, kalender Gregorian masih mengandung salah, yaitu tiga hari dalam 10.000 tahun. Kesalahan ini terjadi karena dalam satu tahun kalender Gregorian jumlah harinya masih 365,2425 hari. Ini berbeda sedikit dengan waktu dalam satu tahun tropis yang mencapai 365,242199 hari.
Ketidaktepatan ini disebabkan adanya gerak presesi atau gerak sumbu rotasi Bumi sembari mengelilingi Matahari. Gerak presesi membuat posisi titik Aries bergeser 50,2 detik busur per tahun ke arah barat dari koordinat langit.
”Untuk membuat kalender dengan jumlah hari yang tepat dengan satu tahun tropis tidaklah mudah. Banyak hal yang harus diperhatikan, baik dari sisi kepraktisan kalender untuk digunakan maupun idealisme sistem kalender itu sendiri,” kata Moedji.

sumber
[ Read More ]

Bumi Terbentuk dari Campuran Meteorit

NASA Citra Bumi yang diambil oleh satelit Suomi NPP milik NASA.
LYON, KOMPAS.com - Bumi ternyata terbentuk dari beragam jenis meteorit. Inilah hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Science, Jumat (2/3/2012). Caroline Fitoussi dan Bernard Bourdon dari Ecole Normale Superieure de Lyon, Perancis, adalah pakar geokimia yang ada di balik studi tersebut.

Fitoussi dan Bourdon menganalisis isotop silikon pada batuan Bumi dan meteorit. Proses penelitian dilakukan di Swiss Federal Institute of Technology di Zurich, Swiss.

Sebelumnya, dipercaya bahwa Bumi terbentuk dari sub kelas meteorit yang disebut enstatite chondrite. Alasannya, batuan Bumi dan meteorit jenis tersebut punya persamaan isotop oksigen, nikel dan krom.

Dalam penelitian ini, Fitoussi dan Bourdon membandingkan batuan Bumi dengan dua jenis meteorit, yakni enstatite chondrite dan enstatite achondrite, serta batuan Bulan koleksi NASA. Chondrite adalah jenis meteorit yang belum mengalami diferensiasi dari kondisi awalnya. Sementara, enstatite chondrite adalah jenis meteorit yang kaya mineral enstatite (MgSiO3).

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa Bumi tidak hanya terbentuk dari material meteorit enstatite chondrite, tetapi juga enstatite achondrite.

"Ini pertama kalinya komposisi isotop dari beragam unsur di enstatite chondrite dan Bumi diobservasi. Hasilnya sangat berbeda dengan hasil observasi sebelumnya," kata Fitoussi.

Analisis isotop silikon juga mengungkap bahwa Bumi dan Bulan memiliki persamaan. Ini memberi petunjuk bahwa material yang membentuk Bulan bercampur dengan material di mantel Bumi sebelum Bulan terbentuk.

"Ini akan memberitahukan pada kita tentang bagaimana Bulan terbentuk dan apa saja batasan-batasannya," jelas Fitoussi seperti dikutip Space, Jumat hari ini.

sumber
[ Read More ]

Lapisan Es Tertua di Laut Artik Menghilang Cepat

NASA Tutupan Es Artik hasil pencitraan 1 November 1979 - 31 Januari 1980
Foto:
WASHINGTON, KOMPAS.com — Studi terbaru oleh ilmuwan NASA, Joey Comiso, menemukan bahwa es tertua dan tertebal di Laut Artik menghilang alias mencair lebih cepat daripada lapisan es yang lebih muda dan tipis. Penemuan tersebut dipublikasikan di Journal of Climate yang terbit bulan Februari 2012. Pencairan es tertua tersebut membuat kawasan Artik semakin terancam.
"Tutupan es di Artik menjadi semakin tipis karena kehilangan lapisan es tebal secara cepat. Pada saat yang sama, suhu permukaan di Artik meningkat, menyebabkan semakin pendeknya musim pembentukan es," kata Comiso yang dikutip NASA, Rabu (29/2/2012).
Dalam penelitian, Comiso membandingkan tutupan es abadi pada tahun 1980 dan tahun 2012. Data diambil dengan satelit pada tanggal 1 November 1979-31 Januari 1980 dan 1 November 2011-31 Januari 2012. Pengambilan data dilakukan dengan satelit Nimbus-7 milik NASA dan Special Sendor Microwave Imager/Sounder (SSMS) milik Defense Meteorological Satellite Program (DMSP).
Citra yang diambil bisa dilihat dalam gambar di atas. Wilayah yang tertutup es abadi digambarkan dengan warna putih terang dan wilayah rata-rata yang tertutup es berwarna biru hingga putih susu. Hasil pencitraan menunjukkan bahwa luasan es abadi (semua wilayah permukaan laut yang tertutup es abadi minimal 15 persen) menurun sebesar 15,1 persen per dekade.
Sementara wilayah es abadi (area yang sepenuhnya tertutup oleh es abadi) juga mengalami penurunan cukup signifikan, sebesar 17,2 persen per dekade.
Ilmuwan mengenalkan tiga jenis es. Es abadi adalah es yang tetap beku lebih dari dua musim panas. Es musiman adalah es yang terbentuk pada musim dingin dan cepat mencair. Sementara es perenial adalah es yang bisa bertahan paling tidak satu musim panas.
Dari penelitian, Comiso menemukan bahwa luas es perenial mengalami penurunan sebesar 12,2 persen per dekade. Sementara area es perenial menurun 13,5 persen per dekade.
"Butuh suhu dingin yang cukup panjang bagi es abadi untuk berkembang lebih tebal sehingga bisa bertahan di musim panas dan membalikkan tren ini," tambah Comiso.

sumber
[ Read More ]

 
Copyright © Yohanes Danni Prihartanto is proudly powered by Blogger.com | Blogger Templates Design by Free Blogger Templates
Support by Unique Pictures and Funny Photos | The Second Daily News | Mobile Phone News | Daily Digital Technology