• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Pages

Tampilkan postingan dengan label Luar Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luar Angkasa. Tampilkan semua postingan

6 Juni Bersejarah bagi Batavia

NASA Transit Venus 8 Juni 2004
JAKARTA, KOMPAS.com — Tanggal 6 Juni 2012 nanti akan menjadi momen yang tepat untuk merayakan peristiwa 251 tahun lalu, salah satu momen yang menandai perkembangan astronomi di Nusantara.

Pada 6 Juni 1761, fenomena astronomi Transit Venus terjadi. Fenomena ini merupakan saat di mana Venus melewati permukaan Matahari, tampak sebagai bintik berwarna hitam, terlihat dari Jakarta.

Kini, seperempat milenium kemudian, Transit Venus kembali terjadi di tanggal yang sama. Transit Venus nantinya akan terjadi selama sekitar 7 jam, mulai sekitar pukul 05.14 WIB hingga 11.50 WIB.

Batavia dan Transit Venus 6 Juni 1761

Fenomena transit Venus terjadi dalam periode waktu dengan formula 8, 121, 5, 8, dan 105,5 tahun. Terakhir, Transit Venus terjadi pada  8 Juni 2004.

Saat Transit Venus berlangsung pada tahun 1761, Jakarta mempunyai peran penting. Astronom asal Inggris, Edmund Halley (penemu komet pertama), merekomendasikan Jakarta sebagai tempat pengamatan terbaik saat itu.

Situs Langitselatan.com menguraikan bahwa pengamatan dari Jakarta (atau Batavia) akan memberikan sumbangan bagi penghitungan jarak Bumi-Matahari, satu tantangan besar dalam dunia astronomi kala itu.

Jarak Bumi-Matahari merupakan konstanta penting dalam sistem heliosentris Coipernicus. Saat itu, jarak Bumi-Matahari akan dihitung dengan metode paralaks dengan memanfaatkan Transit Venus.

Paper Robert H van Gent dari Universitas Utrecht, Belanda, di Proceedings International Astronomicakl Union (IAU) tahun 2005 memaparkan bagaimana pengamatan di Batavia bisa terjadi serta proses dan hasilnya.

Diceritakan bahwa pada tahun 1760 astronom Perancis, Joseph-Nicholas Delisle, mengirimkan surat kepada astronom Belanda, Dirk Klinkenberg, untuk bisa membantu astronom Perancis mengamati Transit Venus di Batavia.

Saat yang sama, Deslie juga mendengar bahwa Royal Society of London akan mengirim dua astronomnya, Charles Mason and Jeremiah Dixon, untuk melihat Transit Venus di Sumatera.

Akhirnya, Deslie berpikir bahwa pengiriman astronom Perancis tak diperlukan. Ia meminta Klinkenberg untuk menghubungi pemerintah VOC di Batavia agar bisa menugaskan orang untuk melakukan pengamatan.

Awalnya, tugas akan diberikan kepada Pieter Hermanus Ohdem, ahli matematika dan navigasi yang saat itu juga berpengalaman mengamati komet Halley. Akan tetapi, ternyata, Ohdem sudah dipulangkan ke Belanda tahun 1760.

Pengamatan Transit Venus akhirnya dipasrahkan kepada Gerrit de Haan, Kepala Departemen Pemetaan di Batavia, dan Pieter Jan Soele yang saat itu menjabat  kapten kapal VOC.

Pengamatan dilakukan dari pantai wilayah Sunda Kelapa, di tanah milik Pastor Johan Maurits Mohr. Sebelum pengamatan, Mohr juga diminta menjadi penerjemah peta pengamatan Transit Venus buatan Deslie.

Pada hari H, pengamatan berhasil dilakukan dari awal sampai akhir transit. Pengamatan dilakukan dengan dua teleskop reflektor Gregorian dengan fokus 18 dan 27 inci, oktan London Instrument, dan jam saku.

Observasi memang dilakukan oleh de Haan dan Soale, tetapi Mohr-lah yang menulis laporan hingga akhirnya diterbitkan di Verhandelingen  tahun 1763.

Setelah 1761, Transit Venus terjadi pada tahun 1769. Menyongsong Transit Venus inilah, Mohr benar-benar mengembangkan dunia astronomi di Indonesia. Salah satu bentuknya adalah membangun observatorium.

Observatorium yang dibangun Mohr berlokasi di Gang Torong, kawasan Petak Sembilan. Bangunan observatorium telah rusak akibat gempa tahun 1780. Area observatorium kini dipakai sebagai area sekolah SD Katolik Ricci.

6 Juni 2012, ketika sejarah berulang

Transit Venus  akan terjadi lagi pada 6 Juni 2012. Meski Jakarta bukan lagi lokasi terbaik pengamatan, momen Transit Venus kali ini tetap layak dinikmati publik Jakarta dan kota lainnya di Indonesia.

Komunitas astronomi seperti Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) berencana menggelar pengamatan. Keikutsertaan dalam pengamatan adalah salah satu upaya merayakan momen ini.

Untuk melakukan pengamatan diperlukan teleskop yang dilengkapi filter. Cara-cara pengamatan juga harus diperhatikan sebab berkenaan dengan Matahari yang bisa merusak pengelihatan.

Keikutsertaan meramaikan Transit Venus kali ini bukan hanya berarti menikmati fenomena astronomi semata, melainkan juga turut memperingati betapa Jakarta sudah menyumbangkan "sesuatu" bagi dunia.

Di samping itu, fenomena Transit Venus menjadi peristiwa sekali seumur hidup. Setelah tahun 2012, Venus baru akan melewati piringan Matahari lagi pada tahun 2117.

Momen nanti juga sekaligus menjadi ajang mengenal semesta. Siapa tahu, lebih banyak kalangan, terutama generasi muda, tertarik astronomi. Siapa tahu, nantinya akan ada orang Indonesia yang menemukan planet layak huni.

sumber 
[ Read More ]

Hubble Akan "Melihat" Transit Venus Lewat Bulan

NASA Ilustrasi proses pengamatan Transit Venus teleskop Hubble dengan menggunakan Bulan sebagai cermin.
Foto:
WASHINGTON, KOMPAS.com — Ilmuwan berencana mengobservasi fenomena Transit Venus dengan menggunakan teleskop Hubble milik NASA. Transit Venus adalah fenomena di mana planet Venus melewati muka Matahari, tampak sebagai bintik berwarna hitam.

Untuk mengamati Transit Venus dengan Hubble, ilmuwan memiliki kendala. Cahaya Matahari yang terang bisa merusak instrumen super sensitif pada Hubble. Untuk mengatasinya, ilmuwan akan mengamati Transit Venus pada 6 Juni 2012 nanti lewat Bulan. Bulan berfungsi seperti cermin.

Salah satu tujuannya adalah melihat apakah Hubble bisa digunakan untuk meneliti komposisi atmosfer Venus dengan melihat cahaya matahari yang jatuh padanya.

Astronom saat ini sudah mengetahui komposisi Venus. Pengamatan nanti akan melihat kemungkinan mengaplikasikan teknik yang sama untuk meneliti planet ekstrasurya. Teknik tersebut, harapan astronom, bisa membantu penelitian mencari planet layak huni selain Bumi di semesta.

Dalam proses pengamatan nanti, Hubble akan diarahkan ke satu lokasi di Bulan selama periode transit yang diperkirakan berlangsung selama 7 jam.

Astronom butuh waktu lama untuk observasi. Hanya 0,001 persen cahaya Matahari yang bisa melewati atmosfer Venus dan direfleksikan ke Bulan.

Instrumen Hubble, seperti Advanced Camera for Surveys, Wide Field Camera 3, dan Space Telescope Imaging Spectrograph, akan dipakai untuk mengobservasi transit.

Peralatan Hubble akan mengobservasi transit pada berbagai panjang gelombang, mulai inframerah hingga ultraviolet.

Persiapan observasi nanti telah dilakukan. Astronom telah memotret citra kawah Tycho yang memiliki lebar 80 kilometer. Pengamatan Juni nanti juga akan difokuskan pada lokasi ini.

Transit Venus yang terjadi di bulan depan pernah terjadi pada tahun 2004. Fenomena ini tergolong langka. Setelah tahun ini, Transit Venus baru bisa diamati pada tahun 2117.

Transit Venus juga bisa diamati publik di Indonesia. Lokasi pengamatan terbaik adalah di wilayah Indonesia Timur, mulai Nusa Tenggara Timur, Ambon, hingga Papua.

sumber 
[ Read More ]

Empat Katai Putih Memakan "Bumi"

University of Warwick Planet mengalami ketidakstabilan orbit ketika bintang kehilangan energi, menjadi bintang raksasa merah hingga akhirnya katai putih.
COVENTRY, KOMPAS.com - Studi astronomi terbaru berhasil menemukan empat bintang katai putih yang sedang "memakan" planet serupa Bumi.

Penemuan ini dapat memberi cerminan tentang apa yang akan terjadi pada Tata Surya ketika Matahari mati dalam waktu 5 miliar tahun lagi.

Seiring energi Matahari habis, Matahari mengembang menjadi bintang raksasa merah. Ketika hal ini terjadi, planet seperti Merkurius, Venus dan mungkin Bumi akan "tertelan".

Pada akhirnya, bagian luar dari atmosfer bintang akan melembung membentuk nebula, meninggalkan inti padat, sebuah bintang katai putih.

Nasib planet yang tak tertelan Matahari tak kalah sial. Planet-planet lain akan mengalami ketidakstabilan orbit hingga bisa bertabrakan satu sama lain.

Bisa terjadi, suatu planet pada akhirnya akan mendekati bintang katai putih dan termakan.

Pembuktian

Adanya bintang katai putih yang memakan "Bumi" ditemukan dengan analisis atmosfer bintang tersebut. Boris Gansicke adalah, astrofisikawan dari University of Warwick di Inggris adalah penemunya.

Normalnya, atmosfer bintang katai putih terdiri atas hidrogen, helium dan elemen lain yang relatif ringan. Sebabnya, gravitasi bintang katai putih menarik unsur yang lebih berat ke intinya.

Berdasakan hal tersebut, zat kimia lain yang ada di atmosfer bintang katai putih pasti berasal dari debris yang jatuh ke bintang itu.

Untuk melihat tanda-tanda bahwa bintang katai putih mengkonsumsi planet, Gansicke mengobservasi 80 bintang katai putih dalam sinar ultraviolet dengan Teleskop Hubble.

Astronom menemukan adanya empat bintang yang atmosfernya memiliki oksigen, magnesium, besi, silikon dan sedikit karbon. Elemen tersebut adalah elemen yang diharapkan ditemukan di bintang yang memakan planet.

"Kemelimpahan yang kami temukan hampir sama dengan yang ada di Bumi. Jika Anda menjadikan Bumi debu dan menaruhnya di bintang katai putih, maka komposisi kimianya akan cocok dengan penemuan," kata Gansicke.

Sebuah bintang, bernama PG0843+516, bahkan memiliki kandungan besi lebih banyak dari katai putih lain, juga memiliki kemelimpahan belerang dan nikel. Hal ini menunjukkan bahwa bintang itu tengah melahap inti planet.

"Jika Anda penasaran dengan rupa inti Bumi, itu seperti besi murni dan nikel. Apa yang kami bayangkan adalah melihat sebuah benda yang pada sebelumnya cukup besar untuk memiliki inti besi," ungkap Gansicke seperti dikutip National Geographic, Senin (7/5/2012).

Menurut Gansicke, debu di sekeliling bintang katai putih bisa habis dalam beberapa ribu atau puluh ribu tahun. Namun, adanya potongan planet lain yang jatuh bisa menambah "makanan" yang harus dihabiskan.

Astronom belum bisa memperkirakan berapa fragmen, atau mungkin juga planet, yang tersisa dari proses ini. Belum bisa diperkirakan juga nasib planet-planet yang tak termakan.

sumber 
[ Read More ]

Asteroid Vesta Sejatinya Sebuah Embrio Planet

NASA Wajah Vesta dari jarak terdekat, menunjukkan salah satu kawah di belahan utara asteroid tersebut.
CALIFORNIA, KOMPAS.com - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa asteroid Vesta, objek terbesar kedua di antara orbit Mars dan Jupiter, sejatinya merupakan protoplanet (embrio planet). Sayangnya, embrio planet ini mengalami kegagalan berkembang atau keguguran.

Astronom dari Jet Propulsion Laboratory, NASA, di California baru-baru ini menggali data hasil tangkapan wahana antariksa Dawn untuk memperoleh hasil tersebut.

"Kami sekarang mengetahui bahwa Vesta adalah satu-satunya bangunan protoplanet yang utuh berasal dari masa-masa awal sejarah Tata Surya," ungkap Carol Raymond, pimpinan investigasi misi Dawn seperti dikutip Scientific American, Jumat (11/5/2012).

Menurut astronom, objek lain seumuran Vesta mungkin saja bergabung dengan planet atau sudah hancur akibat tumbukan miliaran tahun lalu.

Astronom menguraikan, ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa Vesta adalah sebuah protoplanet. Pertama, Vesta memiliki inti besi selebar 220 km. Inti besi tersebut sanggup menghasilkan medan magnet serupa yang dimiliki Bumi.

Sebelumnya, astronom menduga Vesta adalah adalah induk dari howardite-eucrite-diogenite (HED) meteorit (terdiri dari batuan magmatik yang terbentuk di temperatur tinggi). Riset menunjukkan bahwa Vesta memang induk dari jenis meteorit ini.

Bukti ketiga, permukaan asteroid Vesta menunjukkan kompleksitas yang tinggi, yang lebih menyerupai planet batuan daripada sebuah asteroid. Ini menegaskan bahwa Vesta adalah sebuah obbjek angkasa yang spesial.

Lalu, apa yang menyebabkan Vesta gagal menjadi planet? Astronom memperkirakan, penyebabnya adalah, Vesta berada di tempat yang tidak tepat.

Merkurius, Venus, Bumi dan Mars berada di orbit dalam Tata Surya, relatif tidak terpengaruh oleh gravitasi benda lain. Dengan demikian, protoplanet bisa membentuk planet dengan lebih mudah. Sementara, Vesta berada di antara orbit Mars dan Jupiter, dimana gravitasi Jupiter sangat mempengaruhi.

"Di sabuk asteroid, Jupiter memberi pengaruh sangat besar sehingga protoplanet-protoplanet tidak bisa berakresi (bergabung) satu sama lain," ungkap David O'Brien, peneliti di misi Dawn, seperti dikutip Space, kamis (10/5/2012).

Di wilayah sabuk asteroid, benda-benda juga bergerak dengan kecepatan tinggi sehingga berpotensi untuk bertabrakan satu sama lain. Kecepatan tinggi inilah yang diduga menghancurkan banyak objek seperti Vesta.

Vesta yang memiliki lebar 530 km sendiri mengalami tumbukan. kawah di kutub selatan selebar 505 km dan kawah lain selebar 400 km menjadi buktinya.

Menurut ilmuwan, Vesta sendiri sudah beruntung dapat bertahan hidup di tengah berbagai tumbukan selama 4,5 miliar tahun. Ilmuwan mensyukuri hal ini sebab dapat menggunakan Vesta sebagai alat mempelajari Tata Surya.

"Vesta istimewa karena bisa selamat dari tumbukan keras di lingkungan sabuk asteroid selama miliaran tahun, memungkinkan kita untuk menginterogasi saksi kunci peristiwa pada masa-masa awal Tata Surya," kata Raymond.

Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (10/5/2012) lalu.

sumber 
[ Read More ]

Supermoon, Astronomi, dan Astrologi

AFP PHOTO/TED ALJIBE "Supermoon" sebagai terlihat di Manila, Filipina pada 19 Maret 2011. Menurut para ahli, fenomena supermoon, memperlihatkan bulan dalam posisi terdekatnya dengan bumi.
JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena Supermoon kembali membuat heboh. Bahkan sejak Sabtu (5/5/2012) malam, masyarakat di berbagai daerah sudah antusias mengamati walau Bulan belum memasuki fase Purnama.

Tapi, apa sejatinya Supermoon? Apakah Supermoon merupakan fenomena langka? Bagaimana Supermoon dipandang dalam astronomi dan astrologi? Lalu, apakah benar Supermoon terkait dengan bencana?

Kepala Observatorium Bosscha, Hakim L. Malasan, mengatakan bahwa Supermoon sejatinya bukan peristiwa langka. Supermoon terjadi saat Purnama bersamaan dengan waktu perigee, saat Bulan berada di titik terdekat Bumi.

Saat Supermoon, Bulan akan 10 persen lebih dekat (jarak dari Bumi hanya sekitar 350.000 km. Dampaknya, Bulan akan 14 persen lebih besar serta 30 persen lebih terang.

Tahun lalu, Supermoon terjadi pada 19 Maret 2011. Tahun ini, Supermoon "memuncak" pada Minggu (6/5/2012). Purnama mulai terjadi hari ini pukul 10.35 WIB sementara perigee terjadi pada 10.34 WIB.

Menurut Hakim, Supermoon tahun ini cukup istimewa. Waktu Purnama dan perigee yang hanya terpaut 1 menit cukup langka, menjadikan Supermoon tahun ini sebagai salah satu yang terbaik.

Hakim menerangkan bahwa Supermoon sebenarnya tidak dikenal dalam astronomi. Astronomi tidak memberi istilah khusus pada fenomena Purnama dan perigee yang hampir bersamaan atau bersamaan.

Supermoon hanya dikenal dalam dunia astrologi. Astrologi sendiri bukan bagian dari sains. Astrologi berupaya mengaitkan gerakan benda langit serta dampaknya bagi manusia.

"Dalam astrologi, Supermoon memiliki dampak sangat besar pada manusia. Supermoon dikaitkan dengan bencana," ungkap Hakim saat dihubungi Kompas.com, Minggu.

Salah satu bentuk kaitan Supermoon dan bencana adalah kejadian gemnpa Jepang tahun 2011 lalu. Menurut sejumlah pihak, gempa salah satunya dipicu oleh Purnama yang berada di titik terdekat dari Bumi ini.

"Kalau dalam astronomi, Supermoon sebenarnya biasa saja. Tidak ada kaitannya dengan bencana. Bisa mempengaruhi air pasang di laut, tapi tidak signifikan sekali," kata Hakim.

Meskipun merupakan hal biasa dalam astronomi, Supermoon tetap punya daya tarik. Supermoon bisa digunakan untuk memperbaiki perhitungan-perhitungan astronomis.

"Waktu Supermoon, kita bisa melakukan perbaikan dengan mengukur peredaran Bulan mengelilingi Bumi dengan lebih presisi," ungkap Hakim.

Menurut Hakim, perbaikan tersebut bisa memberikan dampak pada kehidupan sehari-hari. Contohnya, perhitungan terjadinya pasang surut, peringatan hari raya keagamaan dan sebagainya.

Dalam pengamatan Supermoon kali ini, kata Hakim, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) akan mengukur diameter Bulan. Mereka akan membandingkan kondisi Supermoon dengan saat Purnama biasa.

sumber 
[ Read More ]

Bola Misterius di Cincin Saturnus

NASA Bola Misterius di Cincin Saturnus
VIENNA, KOMPAS.com - Wahana antariksa Cassini berhasil menangkap citra bola misterius di cincin planet Saturnus. Bola misterius berukuran hampir 1 km itu seolah bergerak masuk dalam cincin Saturnus, meninggalkan ekor yang bercahaya di belakangnya.

Citra hasil tangkapan Cassini ini dipresentasikan dalam pertemuan European Geosciences Union (GEU) di Vienna, Austria. Carl Murray yang merupakan anggota tim Cassini dari Queen Mary University of London di Inggris adalah peneliti yang mempresentasikan hal ini.

Bola misterius atau yang sebenarnya bola es ditangkap di cincin F planet Saturnus. Cincin F merupakan bagian terluar dari cincin Saturnus. Lokasi cincin ini 3000 km dari cincin A. Sementara, keliling cincin F sekitar 900.000 km.

Ilmuwan mengatakan bahwa terbentuknya bola salju tak lepas dari peranan Prometheus, bulan Saturnus selebar 40 km. Gravitasi Prometheus berakibat pada pembentukan gumpalan es. Diasumsikan juga bahwa pasang surut pengaruh gravitasi menyebabkan gumpalan es bisa pecah.

"Kami mengetahui bahwa Prometheus, selain mampu memproduksi pola reguler, juga mampu memproduksi konsentrasi material di cincin Saturnus. Kami hanya menyebutnya bola salju raksasa," ungkap Murray seperti dikutip BBC pada Selasa (24/4/2012).

"Dan jika ini bisa survive, karena Prometheus akan kembali ke titik yang sama di cincin F dan berinteraksi lagi, bola salju bisa tumbuh, dan bisa saja membentuk moonlet yang menabrak bagian inti dari cincin F," terang Murray.

Temuan bola raksasa ini adalah keberuntungan. Murray sedang mengamati Prometheus ketika akhirnya melihat ekor bercahaya yang tak mungkin berasal dari Prometheus itu sendiri. membingkar kembali arsip 20.000 citra, peneliti menemukan 500 citra serupa.

Murray mengungkapkan, bola raksasa ini menumbuk cincin F dengan kecepatan rendah, sekitar 2 meter per detik. Sementara itu, bola raksasa juga menghasilkan ekor bercahaya disebut jet yang panjangnya mencapai 40 - 180 kilometer.

Fenomena di cincin Saturnus menarik perhatian para ilmuwan. Cincin Saturnus sendiri bisa menjadi model untuk mempelajari pembentukan Tata Surya. Beberapa fenomena di cincin Saturnus mungkin bisa memberi petunjuk tentang apa yang terjadi di tata surya 4,5 miliar tahun lalu.

Cassini adalah proyek kerjasama antara badan antariksa Amerika serikat, Eropa dan Italia. Cassini mulai memasuki orbit Saturnus pada tahun 2004. Direncanakan, misi Cassini akan berakhir tahun 2017, dimana Cassini akan 'bunuh diri' di atmosfer Saturnus.

sumber 
[ Read More ]

Peneliti Lancarkan Misi Menguak Kehidupan di Mars

detail berita
Ilustrasi (Foto: Google)
WASHINGTON - Ilmuwan astrobiologi dari Washington State University memimpin tim yang beranggotakan 20 peneliti untuk melakukan misi menguak kehidupan di planet Mars. Penelitian ini didukung dengan komponen perangkat canggih dan komprehensif untuk mendeteksi kehidupan pada planet tersebut.

Dilansir Astrobio, Rabu (25/4/2012), proyek penelitian ini dinamakan misi BOLD. BOLD merupakan kepanjangan dari Biological Oxidant and Life Detection. Kabarnya, penelitian ini akan menempatkan perangkat armada kecil yang dibekali dengan sensor yang dibenamkan pada permukaan tanah planet Mars.

Peneliti juga akan menjalankan berbagai tes perihal kemungkinkan tanda-tanda kehidupan, baik yang telah lampau maupun yang telah terjadi saat ini. Program misi ini terkait dengan usulan dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang mengevaluasi kembali program ekplorasi Marsnya. Program eksplorasi NASA tersebut terbit di jurnal Planetary and Space Science.

Misi BOLD akan menampilkan enam probes (perangkat) dengan berat 130 pon yang dapat dijatuhkan di berbagai lokasi. Bentuknya seperti piramida terbalik dan probes ini akan diterjunkan ke permukaan serta mengambil sampel tanah saat mendarat. "Kami benar-benar ingin menjawab pertanyaan besar mengenai planet Mars," ujar penggagas misi BOLD, Dirk Schulze-Makuch.

"Dengan dana untuk eksplorasi luar angkasa, kami akhirnya bisa mendapatkan beberapa hasil menarik. Temuan menarik ini tidak hanya untuk para ahli dan ilmuwan tetapi publik juga bisa ikut tertarik," ujarnya.

Informasi yang terungkap sebelumnya menyatakan, dampak hujaman asteroid berpotensi menciptakan kehidupan di bawah tanah pada planet yang dihantamnya. Beberapa waktu lalu ilmuwan mempelajari kawah besar akibat hujaman asteroid di wilayah Amerika Serikat. Ilmuwan menemukan organisme kecil yang berkembang di bawah permukaan kawah tersebut.

Meskipun baru dugaan, ilmuwan akan terus melakukan penelitian mengenai potensi kehidupan yang terdapat di planet Mars. "Temuan kami menunjukkan kawah yang terdapat di planet Mars kemungkinan sebagai tempat yang menjanjikan untuk mencari bukti kehidupan. Planet Mars juga diselimuti liquid water dan atmosfer tebal," pungkas Charles Cockell dari Edinburgh University.

sumber
[ Read More ]

Wah, Ada Ayam Karet Dikirim ke Luar Angkasa

detail berita
(Foto: Orange.co.uk)
CALIFORNIA - Ayam karet yang bernama Camilla dilekatkan pada balon helium untuk dikirim ke luar angkasa. Pengiriman tersebut dilakukan untuk menguji radiasi dari badai matahari.

Dilansir Orange, Selasa (24/4/2012), seorang pelajar dari California mengirim Camilla ke langit. Ayam karet tersebut akan terkena energi solar proton tingkat tinggi pada jarak ketinggian sekira 25 mil. Sebelum peluncuran, Camilla dibekali dengan baju luar angkasa serta lencana radiasi untuk menghitung tingkat radiasi yang akan terpapar.

Ayam itu juga dilengkapi perangkat modifikasi yang mengangkut empat buah kamera, termometer cryogenic serta dua unit pelacak GPS. Sebelumnya, pengiriman serupa juga pernah dilakukan Camilla pada 3 Maret 2012 sebelum terjadinya badai matahari dan 10 Maret 2012, saat badai tersebut sedang berlangsung dengan hebat.

Kabarnya, Camilla akan kembali lagi ke Bumi setelah dua setengah jam berada di luar angkasa. Balon akan muncul seperti yang direncanakan dan Camilla mendarat kembali dengan selamat.

Percobaan ini dilakukan pelajar dari Bishop Union High School California, Amerika Serikat. Pengiriman Camilla ini merupakan bagian dari proyek Astrobiologi mereka. Akhir tahun ini mereka berharap meluncurkan spesies mikroba untuk mengetahui apakah makhluk hidup itu bisa bertahan hidup di luar angkasa.

Camilla sendiri merupakan maskot dari observatorium solar dynamics milik National Aeronautics and Space Administration (NASA). Ayam Karet itu memiliki lebih dari 20 ribu pengikut di situs jejaring sosial seperti Twitter, Facebook dan Google+.

sumber
[ Read More ]

Pesawat NASA Temukan Objek Misterius di Saturnus

detail berita
Planet Saturnus (Foto: Google)
CALIFORNIA - Para ilmuwan dari pesawat luar angkasa Cassini milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) menemukan objek misterius dengan panjang setengah mil pada salah satu cincin di planet Saturnus. Objek misterius itu meninggalkan jejak cahaya yang berkilauan.

Dilansir IBTimes, Selasa (24/4/2012), ilmuwan percaya kilauan cahaya yang ditinggalkan itu dikenal sebagai mini jets yang dihasilkan dari cincin F. "Saya pikir cincin F adalah cincin Saturnus yang paling aneh. Penemuan terbaru dari Cassini ini menunjukkan cincin F lebih dinamis dari apa yang kami bayangkan," ujar Carl Murray, ilmuwan dari Queen Mary University of London, Inggris.

"Temuan ini menunjukkan kepada kami mengenai wilayah cincin F seperti sebuah kebun binatang yang ramai dengan objek-objek yang menciptakan pertunjukkan spektakuler," tuturnya.

Sebelumnya, para ilmuwan telah menemukan benda asing lainnya yang berukuran besar seperti Prometheus (satelit ketiga milik saturnus). Kabarnya, Prometheus bisa membuat saluran, riak dan bola salju di cincin F. Kendati demikian, para ilmuwan belum mengetahui apa yang terjadi pada bola salju tersebut ketika benda itu tercipta.

Studi yang dilakukan ilmuwan menemukan bola salju kecil bertabrakan dengan cincin F. Bola saljur itu bergerak dengan kecepatan perjalanan sekira 2 meter per detik. Ketika bola salju kecil itu bertabrakan, sehingga terbentuk kilauan partikel es dengan panjang jejak sekira 20 sampai 110 mil

 sumber
[ Read More ]

Peluncuran Roket SpaceX ke ISS Ditunda

detail berita
SpaceX (Foto: Slashgear)
CALIFORNIA - Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX), pelopor perjalanan luar angkasa komersial yang awalnya merencanakan peluncuran roket Falcon 9 serta pesawat kargo luar angkasa, Dragon ke International Space Station (ISS) pada 30 April 2012 terpaksa harus ditunda. Kabarnya, peluncuran tersebut ditunda karena tim harus melakukan pengujian dan penyelesaian perangkat keras.

Peluncuran ini telah disetujui oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA). Namun sebelumnya dibutuhkan beberapa tes dan pemeriksaan akhir hingga roket beserta kargo itu siap untuk diterbangkan. Pendiri SpaceX, Elon Musk mengatakan peluncuran akan ditunda selama sepekan untuk melakukan pengujian lebih lanjut pada kode Dragon.

Dilansir Slashgear, Selasa (24/4/2012), dalam sebuah pesan elektronik melalui situs Cnet, juru bicara SpaceX, Kirstin Brost menulis, "Setelah meninjau kemajuan terbaru kami, kami perlu lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pengujian hardware, meninjau serta menindaklanjuti semua data. Kemungkinan kami akan meluncurkan pada 3 Mei, maka akan lebih baik untuk menambah beberapa hari lagi".

Menurut Program Manager International Space Station, Michael Suffredini, tujuan utama dari penerbangan SpaceX ini adalah menguji coba perjalanan menuju ke ISS dan operasi penggunaan kapal ruang angkasa yang bernama Dragon. Kapal ruang angkasa Dragon ini akan membawa beban seberat 521 kg dan kembali ke Bumi dengan membawa muatan seberat 660 kg.

Tujuan misi tersebut, kata Michael, untuk menyelesaikan beberapa tugas seperti verifikasi prosedur dan kordinasi baik hardware maupun software yang ia gambarkan sebagai "the last little bit of testing" atau pengujian terakhir.

Informasi yang terungkap sebelumnya menyatakan, NASA dan SpaceX mengundang 50 orang dari pengikut mereka di media sosial, selama dua hari. Orang-orang yang beruntung ini dapat menghadiri demonstrasi penerbangan Commercial Orbital Transportation Service (COTS) kedua pada Kennedy Space Center di Florida.

sumber
[ Read More ]

Biaya 35 Poundsterling, Anjing Harus Dipasangi Microchip

detail berita
Ilustrasi (Foto: Google)
DUBLIN - Sebuah badan animal welfare atau peduli hewan, Dogs Trust di Irlandia mengimbau pemilik anjing untuk mendukung aturan baru yang dibuat pemerintah setempat. Aturan tersebut mengharuskan setiap anjing yang lahir dipasangi sebuah Microchip.

Dilansir Newtownabbeytoday, Senin (23/4/2012), Dogs Trust menyambut hangat pengenalan microchip yang wajib dikenakan pada anjing peliharaan itu. Mereka mengingatkan pemilik akan pentingnya perangkat berukuran mini tersebut yang ditanamkan di bawah kulit anjing peliharaan.

Dogs Trust menyampaikan prosedur mengenai microchip itu dan mengklaim tidak akan menimbulkan rasa sakit pada hewan peliharaan tersebut. Fungsi dari microchip ini antara lain, berisikan detail tentang pemilik anjing beserta alamat. Rincian informasi itu tersimpan pada database pusat yang dapat diakses oleh polisi dan Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSCPA).

Selain itu, perangkat berukuran mini itu juga bisa mencatat perihal riwayat medis hewan peliharaan. Sehingga, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baik hilang atau tersesat maupun sakit, perangkat chip ini bisa sangat membantu pemilik anjing tersebut.

Pemerintah di negara setempat mengatakan microchip itu akan berguna untuk memudahkan polisi untuk melacak anjing yang galak. Apabila anjing tersebut tiba-tiba menyerang dan melukai orang lain, sehingga bisa diketahui siapa pemilik anjing itu serta memastikan mereka dapat dituntut karena tidak menjaga hewan peliharaannya itu dengan baik.

Sejak Mei 2011, Dog Trust telah menyelenggarakan hingga ratusan roadshow atau kampanye mengenai microchip tersebut. Mereka melatih dan menginformasikan beberapa staf pada toko yang menjual makanan hewan tentang microchip. Tidak hanya itu, Dog Trust juga bekerja sama dengan praktek dokter hewan serta pemerintah Irlandia Utara.

Manajer Dogs Trust, Ronnie Milshop mengatakan, "Undang-undang merupakan langkah maju yang signifikan bagi kesejahteraan anjing dan tanggung jawab pemilik anjing. Kami senang bahwa lebih dari 67 ribu pemilik anjing di Irlandia Utara telah mengambil keuntungan dari penawaran microchip kami," pungkasnya.

sumber
[ Read More ]

Melihat Sinar Kosmik Lebih Dekat dari Luar Angkasa

detail berita
Sinar Kosmik (Foto: Wired.com)
CALIFORNIA - Para astronot telah lama melaporkan penemuan sinar kosmik di angkasa. Fenomena sinar kosmik atau kilauan cahaya yang muncul di luar angkasa tersebut merupakan partikel energi tinggi yang masih belum diketahui asal usulnya.

Dilansir Astrobio, Senin (23/4/2012), sejak misi Apollo 11, astronot Neil Armstrong dan Buzz Aldrin telah melaporkan penampakan sinar kosmik. Laporan serupa juga berlangsung selama misi Apollo 12 dan 13. Kemudian, ilmuwan tertarik untuk mengamati lebih lanjut mengenai fenomena tersebut.

Percobaan yang dilakukan para peneliti ini melibatkan anggota kru dan merekam komentar mereka pada sesi observasi di beberapa wilayah. Tidak berhenti sampai disitu, peneliti juga menggunakan perangkat khusus bernama Apollo Light Flash Moving Emulsion Detector (ALFMED) yang dipakai para astronot untuk merekam sinar kosmik.

Percobaan itu ditentukan oleh pandangan mata astronot yang melihat fenomena kilauan sinar kosmik. Diketahui cahaya itu memiliki partikel bermuatan sub-atomic yang asal usulnya belum terungkap. Umumnya, sinar kosmik yang melintasi planet Bumi diserap oleh atmosfer. Hanya astronot yang mampu melihat fenomena kilauan cahaya menakjubkan itu dari luar angkasa.

"Di luar angkasa, saya melihat hal-hal yang tidak ditemukan di sana (planet Bumi). Menyilaukan mata saya seperti kilauan cahaya yang menari-nari di pelupuk mata dengan tampilan yang halus," tulis Don Pettit dari blog-nya ketika dia berada di Stasiun Antariksa International (ISS).

Dalam astrofisika, sinar kosmik merupakan radiasi dari partikel bermuatan berenergi tinggi yang berasal dari luar atmosfer Bumi. Sinar kosmik dapat berupa elektron, proton dan inti atom seperti besi atau yang lebih berat lagi.

Astronot menggambarkan tipe-tipe sinar kosmik ini dalam beberapa kategori seperti Spot, Streak dan Cloud. Selain itu, ada juga tipe White atau Colorless. Komandan Apollo 115, David Scott mendeskripsikan kilauan cahaya itu sebagai blue with a white cast, yaitu seperti sebuah berlian berwarna biru.
[ Read More ]

Meteor Langka Terlihat di Siang Hari

detail berita
Meteor (Foto: Google)
CALIFORNIA - Meteor atau yang biasa dikenal sebagai bintang jatuh merupakan benda luar angkasa yang bergerak melintasi atmosfer planet sehingga tampak kilauan cahaya memanjang yang memukau. Baru-baru ini ditemukan penampakan meteor di wilayah Nevada yang sangat jarang terjadi di siang hari.

Dilansir Reuteurs, Senin (23/4/2012), umumnya meteor tampak jelas pada malam hari karena cahaya yang dihasilkan. Selain itu, hujan meteor juga biasanya hadir pada musim-musim tertentu. Namun, pengamat di daerah Reno-Sparks, Nevada melaporkan melihat bola api itu sekira pukul 08.00 waktu setempat.

Penampakan meteor ini diikuti suara gemuruh sehingga menimbulkan apa yang disebut dengan sonic boom atau suara yang menggelegar dari atas planet Bumi. "Meteor ini kemungkinan meledak saat memasuki atmosfer planet Bumi," ujar Mike Smith, ahli meteorologi dari National Weather Service di Sacramento, California.

Mike menggambarkan visualisasi meteor itu dengan cahaya kuat yang menyilaukan. Meteor itu yang kabarnya bergerak ratusan mil ke selatan itu tampak dari Sacramento ke wilayah Orang County. Hanya saja, bola api itu tidak terlihat di wilayah Los Angeles dan sekitarnya lantaran mendungnya langit di wilayah itu.

Mike menjelaskan, meteor biasanya terlihat di malam hari dan memiliki berbagai ukuran. Ketika melewati atmosfer, umumnya meteor akan terbakar hingga ukurannya  kian mengecil hingga seperti sebutir pasir. Kemungkinan meteor langka yang terlihat di siang hari ini memiliki ukuran yang besar serta ukurannya serupa dengan bentuk bola baseball atau softball.

sumber
[ Read More ]

Google Earth Tunjukkan Habitat yang Punah

Perubahan bumi dapat ditangkap menggunakan satelit GeoEye-1.

 

VIVANews - Google Earth merilis gambar galeri terbaik dari perubahan bumi melalui satelit GeoEye-1. Satelit ini mampu menangkap rincian sekecil tempat sampah sehingga mampu menyusuri planet ini hingga 17 ribu mil per jam. Citra yang dihadirkan satelit ini telah memilih pemandangan yang memamerkan keagungan planet kita.

GeoEye memberikan citra eksklusif untuk Google Earth dan aplikasi Google Maps. Satelit ini menangkap sekitar 270 ribu mil persegi dari permukaan bumi lewat sehari--data geografis setara ukuran wilayah Texas, Amerika Serikat.

Empat foto yang dirilis untuk merayakan Hari Bumi menunjukkan habitat yang terancam punah di seluruh dunia. Pada tahun lalu, GeoEye telah mengumpulkan lebih dari 98 juta mil persegi foto. Satelit terbaru GeoEye 1 mampu menangkap barel bir dari ketinggian 425 mil di atas udara.

"Pelanggan terbesar kami adalah militer dan terutama National Geospatial-Intelligence Agency (Agen Intelejen Geospasian Nasional). Kami memberikan foto jernih dari lapangan," urai Elizabeth Eli Doerr dari Layanan Perwakilan Korporasi Citra GeoEye seperti dilansir Dailymail. "GeoEye mengorbit di hampir 17.000 mph dan membuat 15 orbit tiap hari."

"Satelit ini memiliki orbit sinkronisasi matahari, yang berarti bahwa dia dapat melewati lokasi yang sama setiap hari sekitar pukul 10.30," tambah Eli.

"Satelit tersebut mampu mengumpulkan hingga 700 ribu kilometer persegi bahan setiap hari. Pada dasarnya, data ini setara dengan ukuran kota Texas," jelasnya.

GeoEye 1 yang diluncurkan pada sebuah Roket Delta 2 dari Vandenberg Air Force Base di California, AS pada 2008 merupakan satelit tambahan terbaru di sektor satelit komersial yang terus tumbuh dan semakin dominan.

"Seluruh proyek menghabiskan total biaya 314 juta poundsterling; untuk menempatkan satelit 4.300 pon ke orbit, dalam hubungannya dengan Boeing yang membangun roket Delta dan General Dynamics yang membangun GeoEye 1," imbuhnya.

Beberapa galeri menampilkan keindahan hamparan es di dekat Pulau Adelaide; Cagar Alam Towra Point di tepi selatan Botany Bay di Kurnell, di selatan Sydney, New South Wales, Australia; Space Shuttle Endeavour di Launch Pad 39A di NASA Kennedy Space Center, Florida; penanda di tanah di Xinjiang, Cina; wilayah Naples Italia; Kota Suci Vatikan; dan Sendai Jepang.

sumber
[ Read More ]

Saturn's Rings & Biggest Moon Dazzle in New Photo


Cassini photo of Saturn, its rings and the moon Titan
In this photo, snapped by NASA's Cassini spacecraft on Jan. 5, 2012, Saturn's rings cast shadows on the huge planet. Saturn's largest moon, Titan, is visible just below the rings, in the upper right of the picture.
CREDIT: NASA/JPL–Caltech/Space Science Institute


A spectacular new photo shows Saturn's rings casting shadows across the planet, while the huge moon Titan looms in the distance.
The iconic rings of Saturn cut across the top of the image, which was captured in infrared light by NASA's Cassini spacecraft on Jan. 5 and released to the public today (March 5). The rings' shadows play out below, creating dark bands and stripes across much of the gas giant's surface.
Saturn's largest moon, Titan, hangs just beneath the rings, in the upper right portion of the picture. Just above the rings sits the tiny moon Prometheus, barely visible as a tiny white speck.
At 3,200 miles (5,150 kilometers) in diameter, Titan is nearly 50 percent wider than Earth's moon. The only moon in our solar system larger than Titan is Ganymede, which orbits Jupiter.

Titan has a thick, nitrogen-rich atmosphere that shrouds the frigid body in a soupy brown haze. Complex organic molecules — the carbon-containing building blocks of life as we know it — swirl about in this atmosphere. The huge moon also has a hydrocarbon-based weather system, with methane rain falling from the sky and pooling in liquid-methane lakes. Astrobiologists speculate that Titan may be one of the best places in the solar system to search for extraterrestrial life.
Prometheus is an entirely different body altogether — an irregularly shaped, elongated moon just 53 miles (86 kilometers) across. Scientists think Prometheus is a porous, icy object, but they don't know much about it.
Cassini’s wide-angle camera snapped the photo while the probe was about 425,000 miles (685,000 km) from Saturn. The image scale is 23 miles (37 km) per pixel on Saturn, researchers said.
Cassini launched in 1997 and arrived at Saturn in 2004. It has been studying the ringed planet and its many moons ever since, and will continue to do so for years to come. Last year, NASA extended the probe's mission to at least 2017.

space.com
[ Read More ]

Mars, Facts and Information about the Planet Mars

Mars' History & Naming
Mars is named after the ancient Roman god of war, as befitting the red planet's bloody color. The Romans copied the ancient Greeks, who named the fourth planet from the sun after their god of war, Ares. Other civilizations also typically gave the planet names based on its color — for example, the Egyptians named it "Her Desher," meaning "the red one," while ancient Chinese astronomers dubbed it "the fire star."
Physical Characteristics of the Planet Mars
  • Regolith
The bright rust color Mars is known for is due to to iron-rich minerals in its regolith — the loose dust and rock covering its surface. The soil of Earth is a kind of regolith, albeit one loaded with organic content.
This Hubble Space Telescope image shows Mars.
This Hubble Space Telescope image shows Mars.
CREDIT: NASA/ESA/HST/STSCI
  • Geology
The cold, thin atmosphere means liquid water currently cannot exist on the Martian surface for any length of time. This means that although this desert planet is just half the diameter of Earth, they have the same amount of dry land.
The red planet is home to both the highest mountain and the deepest, longest valley in the solar system. Olympus Mons is roughly 17 miles (27 kilometers) high, about three times as tall as Mount Everest, while the Valles Marineris system of valleys — named after the Mariner 9 probe that discovered it in 1971 — can go as deep as 6 miles (10 kilometers) and runs east-west for roughly 2,500 miles (4,000 kilometers), about one-fifth of the distance around Mars and close to the width of Australia or the distance from Philadelphia to San Diego.
Mars has the largest volcanoes in the solar system, including Olympus Mons, which is about 370 miles (600 kilometers) in diameter, wide enough to cover the entire state of New Mexico. It is a shield volcano, with slopes that rise gradually like those of Hawaiian volcanoes, and was created by eruptions of lavas that flowed for long distances before solidifying. Mars also has many other kinds of volcanic landforms, from small, steep-sided cones to enormous plains coated in hardened lava. Some minor eruptions might still occur on the planet.
Scientists think the Valles Marineris formed mostly by rifting of the crust as it got stretched. Individual canyons within the system are as much as 60 miles (100 kilometers) wide. They merge in the central part of the Valles Marineris in a region as much as 370 miles (600 kilometers) wide. Large channels emerging from the ends of some canyons and layered sediments within suggest the canyons might once have been filled with liquid water.
Channels, valleys, and gullies are found all over Mars, and suggest that liquid water might have flowed across the planet's surface in recent times. Some channels can be 60 miles (100 kilometers) wide and 1,200 miles (2,000 kilometers) long. Water may still lie in cracks and pores in underground rock.
Many regions of Mars are flat, low-lying plains. The lowest of the northern plains are among the flattest, smoothest places in the solar system, potentially created by water that once flowed across the Martian surface. The northern hemisphere mostly lies at a lower elevation than the southern hemisphere, suggesting the crust may be thinner in the north than in the south. This difference between the north and south might be due to a very large impact shortly after the birth of Mars.
The number of craters on Mars varies dramatically from place to place, depending on how old the surface is. Much of the surface of the southern hemisphere is extremely old, and so has many craters – including the planet's largest, 1,400-mile-wide (2,300-kilometer-wide) Hellas Planitia — while that of northern hemisphere is younger and so has fewer craters. Some volcanoes have few craters, which suggests they erupted recently, with the resulting lava covering up any old craters. Some craters have unusual-looking deposits of debris around them resembling solidified mudflows, potentially indicating that impactor hit underground water or ice.
  • Polar caps
Vast deposits of what appear to be finely layered stacks of water ice and dust extend from the poles to latitudes of about 80 degrees in both hemispheres. These were probably deposited by the atmosphere over long spans of time. On top of much of these layered deposits in both hemispheres are caps of water ice that remain frozen all year round. Additional seasonal caps of frost appear in the wintertime. These are made of solid carbon dioxide, also known as "dry ice," which has condensed from carbon dioxide gas in the atmosphere, and in the deepest part of the winter, this frost can extend from the poles to latitudes as low as 45 degrees, or halfway to the equator.
  • Climate
Mars is much colder than Earth, in large part due to its greater distance from the sun. The average temperature is about minus 80 degrees F (minus 60 degrees C), although they can vary from minus 195 degrees F (minus 125 degrees C) near the poles during the winter to as much as 70 degrees F (20 degrees C) at midday near the equator.
The carbon-dioxide-rich atmosphere of Mars is also roughly 100 times less dense than Earth's on average, but it is nevertheless thick enough to support weather, clouds and winds. The density of the atmosphere varies seasonally, as winter forces carbon dioxide to freeze out of the Martian air.
The dust storms of the Mars are the largest in the solar system, capable of blanketing the entire red planet and lasting for months. One theory as to why dust storms can grow so big on Mars starts with airborne dust particles absorbing sunlight, warming the Martian atmosphere in their vicinity. Warm pockets of air flow toward colder regions, generating winds. Strong winds lift more dust off the ground, which in turn heats the atmosphere, raising more wind and kicking up more dust.
Orbital Characteristics of the Planet Mars
The axis of Mars, like Earth's, is tilted with relation to the sun. This means that like Earth, the amount of sunlight falling on certain parts of the planet can vary widely during the year, giving Mars seasons.
However, the seasons that Mars experiences are more extreme than Earth's because the red planet's elliptical, oval-shaped orbit around the sun is more elongated than that of any of the other major planets. When Mars is closest to the Sun, its southern hemisphere is tilted toward the Sun, giving it a short, very hot summer, while the northern hemisphere experiences a short, cold winter. When Mars is farthest from the Sun, the northern hemisphere is tilted toward the Sun, giving it a long, mild summer, while the southern hemisphere experiences a long, cold winter.
Composition & Structure
95.32 percent carbon dioxide, 2.7 percent nitrogen, 1.6 percent argon, 0.13 percent oxygen, 0.08 percent carbon monoxide, minor amounts of water, nitrogen oxide, neon, hydrogen-deuterium-oxygen, krypton, xenon
  • Magnetic Field
Mars currently has no global magnetic field, but there are regions of its crust that can be at least 10 times more strongly magnetized than anything measured on Earth, remnants of an ancient global magnetic field.
Mars likely has a solid core comprised of iron, nickel, and sulfur. The mantle of Mars is probably similar to Earth's in that it is composed mostly of peridotite, which is made up primarily of silicon, oxygen, iron, and magnesium. The crust is probably largely made of the volcanic rock basalt, which is also common in the crusts of the Earth and the moon, although some crustal rocks, especially in the northern hemisphere, may be a form of andesite, a volcanic rock that contains more silica than basalt does.
  • Internal structure
Scientists think that on average, the Martian core is about 1,800 and 2,400 miles in diameter (3,000 and 4,000 kilometers), its mantle is about 900 to 1,200 miles (5,400 to 7,200 kilometers) wide and its crust is about 30 miles (50 kilometers) thick.
Orbit & Rotation
Average Distance from the Sun
English: 141,633,260 miles
Metric: 227,936,640 km
By Comparison: 1.524 times that of Earth
Perihelion (closest)
English: 128,400,000 miles
Metric: 206,600,000 km
By Comparison: 1.404 times that of Earth
Aphelion (farthest)
English: 154,900,000 miles
Metric: 249,200,000 km
By Comparison: 1.638 times that of Earth
(Source: NASA.)
The Moons of Mars
The two moons of Mars, Phobos and Deimos were discovered by American astronomer Asaph Hall over the course of a week in 1877. Hall had almost given up his search for a moon of Mars, but his wife Angelina urged him on — he discovered Deimos the next night, and Phobos six days after that. He named the moons after the sons of the Greek war god Ares — Phobos means "fear," while Deimos means "rout."
Both Phobos and Deimos are apparently made of carbon-rich rock mixed with ice and are covered in dust and loose rocks. They are tiny next to Earth's moon, and are irregularly shaped, since they lack enough gravity to pull themselves into a more circular form. The widest Phobos gets is about 17 miles (27 kilometers), and the widest Deimos gets is roughly nine miles (15 kilometers).
Both moons are pockmarked with craters from meteor impacts. The surface of Phobos also possesses an intricate pattern of grooves, which may be cracks that formed after the impact created the moon's largest crater — a hole about 6 miles (10 kilometers) wide, or nearly half the width of Phobos. They always show the same face to Mars, just as our moon does to Earth.
It remains uncertain how Phobos and Deimos were born. They might have been asteroids captured by Mars' gravitational pull, or they might have been formed in orbit around Mars the same time the planet came into existence.
Phobos is gradually spiraling toward Mars, drawing about 6 feet (1.8 meters) closer to the red planet each century. Within 50 million years, Phobos will either smash into Mars or break up and form a ring of debris around the planet.
Research & Exploration
The first person to watch Mars with a telescope was Galileo, and in the century after him, astronomers discovered its polar ice caps. In the 19th and 20th centuries, researchers believed they saw a network of long, straight canals on Mars, hinting at civilization, although later these often proved to be mistaken interpretations of dark regions they saw.
Robot spacecraft began observing Mars in the 1960s, with the United States launching Mariner 4 there in 1964 and Mariners 6 and 7 in 1969. They revealed Mars to be a barren world, without any signs of the life or civilizations people had imagined there. In 1971, Mariner 9 orbited Mars, mapping about 80 percent of the planet and discovering its volcanoes and canyons.
NASA's Viking 1 lander touched down onto the surface of Mars in 1976, the first successful landing onto the Red Planet. It took the first close-up pictures of the Martian surface but found no strong evidence for life.
The next two craft to successfully reach Mars were the Mars Pathfinder, a lander, and Mars Global Surveyor, an orbiter, both launched in 1996. A small robot onboard Pathfinder named Sojourner — the first wheeled rover to explore the surface of another planet — ventured over the planet's surface analyzing rocks.
In 2001, the United States launched the Mars Odyssey probe, which discovered vast amount of water ice beneath the Martian surface, mostly in the upper three feet (one meter). It remains uncertain whether more water lies underneath, since the probe cannot see water any deeper.
In 2003, the closest Mars had passed to Earth in nearly 60,000 years, NASA launched two rovers, nicknamed Spirit and Opportunity, which explored different regions of the Martian surface, and both found signs that water once flowed on the planet's surface. In 2008, NASA sent another mission, Phoenix, to land in the northern plains of Mars and search for water,
Two orbiters — NASA's Mars Reconnaissance Orbiter and ESA's Mars Express — are keeping Mars Odyssey company over the planet. In 2011, NASA's Mars Science Laboratory mission, with its rover named Curiosity, is scheduled to investigate Martian rocks to determine the geologic processes that created them and find out more about the present and past habitability of Mars.
Possibility of Life
Mars could have once harbored life. Some conjecture that life might still exist there even today. A number of researchers have even speculated that life on Earth might have seeded Mars, or that life on Mars seeded Earth.
The most public scientific claim for life on Mars came in 1996. Geologist David McKay at NASA's Johnson Space Center in Houston and his colleagues focused on rocks blasted off the surface of Mars by cosmic impacts that landed on Earth. Within they found  complex organic molecules, grains of a mineral called magnetite that can form within some kinds of bacteria, and tiny structures that resembled fossilized microbes. However, these claims have proven controversial, and there is no consensus as to whether they are signs of life.
Mars might have possessed oceans on its surface in the past, providing an environment for life to develop. Although the red planet is a cold desert today, researchers suggest that liquid water may be present underground, providing a potential refuge for any life that might still exist there.

space.com
[ Read More ]

Mars Has Close Encounter With Earth Tonight


This sky map shows where Mars will appear in the eastern sky on March 5, 2012 at 8 p.m. local time to observers at mid-northern latitudes.
This sky map shows where Mars will appear in the eastern sky on March 5, 2012 at 8 p.m. local time to observers at mid-northern latitudes.
CREDIT: Starry Night Software


The planet Mars will make its closest swing by Earth in more than two years tonight (March 5), just days after reaching a celestial milestone called "opposition" as it circles the sun.
Tonight, the orbit of Mars will bring the Red Planet within about 63 million miles (112 million kilometers) of Earth. At this time, Mars is closer to Earth than at any other point of its 26-month journey around the sun.
If your weather is clear, you may see Mars shining bright in the eastern sky as a brilliant reddish-orange "star."  The sky map of Mars for this story shows how it will appear in the evening sky tonight.
The Red Planet's closest approach to Earth comes just two days after Mars reached opposition, the point in its orbit where it appears exactly opposite the sun as seen from Earth. Mars hit opposition on Saturday (March 3), which the online skywatching website broadcast live with free telescope views.

This still from a Slooh Space Camera webcast shows Mars as it appeared at opposition on March 3, 2012 at 11:30 p.m. ET (0430 GMT on March 4).
This still from a Slooh Space Camera webcast shows Mars as it appeared at opposition on March 3, 2012 at 11:30 p.m. ET (0430 GMT on March 4).
CREDIT: Slooh Space Camera
"We're focusing on Mars because this is the week when it's brightest," astronomer Bob Berman of Astronomy Magazine said during the webcast.
Through the Slooh space camera, which provided a view of Mars through telescopes at observatories in Arizona and the Canary Islands, the Red Planet's full disk could be seen, including its northern polar ice cap and broad features.
For skywatchers tonight, Mars will appear as a bright light in the sky unless you have a small or medium telescope, which can resolve the planet's disk, NASA officials said in a video. It is only in telescope views that features like the ice cap, can be seen, they added.
The next Mars opposition won't occur for another 26 months (set your calendars for 2014), when orbital mechanics will bring Mars even closer to our world.
"At each future opposition until 2018, Mars will be closer to Earth and appear even more impressive," NASA's Jane Houston Jones, of the Jet Propulsion Laboratory in Pasadena, Calif., said in a video describing March's skywatching events. [Amazing Photos of Mars]
The last time Mars made a dazzling close approach to Earth was on Aug. 27, 2003, when the Red Planet was about 34.6 million miles (55.7 million km) from our planet — its closest approach in nearly 60,000 years.

Mars is not the only bright planet shining in the nighttime sky this week. The planets Mercury, Venus, Jupiter and Saturn will all appear as celestial night lights for skywatchers with cloud-free skies.
Tonight, Mercury will reach its highest altitude in the western sky just after sunset, Jones said. Meanwhile, Venus and Jupiter also make dazzling displays in the western evening sky as they steadily creep closer together.
On March 12 and 13, the two planets will appear so close you could block them with your fingertips, NASA officials have said. Venus is the brighter of the two planets, which will pass each other in the sky during this two-day celestial dance.
This still from a NASA video shows the location of planet Mercury in the night sky just after sunset on March 5, 2012.
This still from a NASA video shows the location of planet Mercury in the night sky just after sunset on March 5, 2012.
CREDIT: NASA/JPL
Earth's moon will also serve as a guide to spotting two planets, Mars and Saturn, this week.
On Wednesday (March 7), the moon will appear close to Mars in the late-night sky around 11 p.m. local time, then serve as a signpost for Saturn when it appears near the ringed planet on March 10 and 11, Jones explained.
The moon will also appear near Jupiter and Venus on March 25 and 26 in a repeat performance of a stunning February "triple play" by the three objects.
"Not a week goes by this month when there isn't an amazing planetary view," Jones said.

space.com
[ Read More ]

Jupiter Moon's Ocean May Be Too Acidic for Life


Europa's Interior Model
Model of Europa's interior. The moon is thought to have a metallic core surrounded by a rocky interior, and then a global ocean on top of that, surrounded by a shell of water ice
CREDIT: NASA

The ocean underneath the icy shell of Jupiter's moon Europa might be too acidic to support life, due to compounds that may regularly migrate downward from its surface, researchers say.
Scientists believe that Europa, which is roughly the size of Earth's moon, possesses an ocean perhaps 100 miles deep (160 kilometers). This ocean is overlain by an icy crust of unknown thickness, although some estimates are that it could be only a few miles thick.
Since there is life virtually wherever there is liquid water on Earth, for many years scientists have entertained the notion that this Jovian moon could support extraterrestrials. Recent findings even suggest its ocean could be loaded with oxygen, enough to support millions of tons worth of marine life like the kinds that exist on Earth.
Researchers have proposed missions to penetrate Europa's outer shellto look for life in its ocean, although others have suggested that Europa could harbor fossils of marine life right on the surface for prospectors to find, given how water apparently regularly gets pushed up from below.

However, chemicals found on the surface of Europa might jeopardize any chances of life evolving there, scientists find. The resulting level of acidity in its ocean "is probably not friendly to life — it ends up messing with things like membrane development, and it could be hard building the large-scale organic polymers," said Matthew Pasek, an astrobiologist at the University of South Florida. [Photos of Jupiter's Moon Europa]

Destructive chemicals

The compounds in question are oxidants, which are capable of receiving electrons from other compounds. These are usually rare in the solar system because of the abundance of chemicals known as reductants such as hydrogen and carbon, which react quickly with oxidants to form oxides such as water and carbon dioxide.
Europa happens to be rich in strong oxidants such as oxygen and hydrogen peroxide, which are created by the irradiation of its icy crust by high-energy particles from Jupiter.
The oxidants on Europa's surface are likely carried downward in potentially substantial quantities by the same churning that causes water to rise from below. Oxidants could be of great use to any life in Europa's ocean — for example, oxygen was pivotal to how complex life evolved on Earth.
However, oxidants from Europa's surface might react with sulfides and other compounds in its ocean before life could nab it, generating sulfuric and other acids, investigators said. If this has occurred for just about half of Europa's lifetime, not only would such a process rob the ocean of life-supporting oxidants, but it could become relatively corrosive, with a pH of about 2.6 — "about the same as your average soft drink," Pasek said.
This level of acidity would be a significant challenge for life, unless organisms were to consume or sequester oxidants fast enough to ameliorate the acidification, researchers said. The ecosystem would need to evolve quickly to meet this crisis, with oxygen metabolisms and acid tolerance developing in only about 50 million years to handle the acidification.
Sampling Rio Tinto
Penny Boston and Cassie Conley sample the acidic waters of Rio Tinto. This river in Spain might hold clues to the possibility for life on Europa.
CREDIT: Leslie Mullen

Extremophiles on Europa?

Any surviving ecosystem in Europa's ocean might be analogous to the microbial community found in acid mine drainage on Earth, such as the bright red Río Tinto river in Spain. The dominant microbes found there are acid-loving "acidophiles" that depend on iron and sulfide as sources of metabolic energy.
Vivianite Mineral Crystals
Could life on Europa have vivianite bones?
CREDIT: mineralatlas.com
"The microbes there have figured out ways of fighting their acidic environment," Pasek said. "If life did that on Europa, [Jupiter's moon] Ganymede, and maybe even Mars, that might have been quite advantageous."
Others have questioned whether or not rock in Europa's seabed might actually neutralize the effects of this acidity. Pasek does not think this is likely — even if such minerals were present, there is probably not enough of it exposed to reduce acidity by much, he said.
The calcium-based materials that bones and shells on Earth are made from might dissolve pretty readily in such an acidic environment. However, "one of the interesting possibilities is that they might have used blue phosphates as their bone material instead to evolve large organisms," Pasek said. "If you have iron phosphates, you make a pretty blue mineral called vivianite."
Pasek and co-author Richard Greenberg detailed their findings online Jan. 27 in the journal Astrobiology.

space.com
[ Read More ]

Rahasia Lingkungan Luar Tata Surya Terkuak

Google/msn.com Bintang utama planet yang dijuluki GJ 667C.


WASHINGTON, KOMPAS.com - Kelompok ilmuwan internasional menyatakan telah menemukan planet bumi super yang diduga bisa dihuni. Seperti disebutkan dalam Astrophysical Journal Letters, Kamis (2/2/2012), waktu orbit planet tersebut sekitar 28 hari dan massa paling kecilnya ialah 4,5 kali dari bumi.
Tim tersebut terdiri dari ilmuwan asal Universitas California, ahli perbintangan Santa Cruz (UCSC) bernama Steven Vogt dan Eugenio Rivera serta dipimpin oleh Guillem Anglada-Escud, serta Paul Butler dari Institusi Ilmu Pengetahuan Alam Carnegie. Hasil temuan mereka, jalur planet tersebut berada di lingkup kawasan bintang-bintang yang dapat dihuni, yang bersuhu tidak terlalu panas atau pun terlalu dingin bagi cairan di permukaan planet tersebut.
Para peneliti itu menemukan sejumlah bukti mengenai setidaknya satu atau mungkin dua bahkan tiga planet tambahan yang mengelilingi bintang dengan jarak sekitar 22 tahun cahaya dari bumi.
Bintang besar dari planet tersebut merupakan anggota sistem tri-bintang dan memiliki materi yang berbeda dari matahari dengan mengandung lebih sedikit jumlah unsur yang lebih berat daripada helium seperti besi, karbon dan silikon. Penemuan ini menandakan, bahwa kemungkinan adanya planet yang dapat dihuni bisa terjadi di tingkat lingkungan lebih luas ketimbang yang dipercaya sebelumnya.
Bintang utama planet yang dijuluki GJ 667C tersebut merupakan bintang kecil tingkat M. Dua bintang lainnya di sistem tri-bintang (GJ 667 AB) merupakan sepasang bintang kerdil berwarna jingga tingkat K dengan inti zat seberat hanya sebesar 25 persen dari matahari kita. Unsur tersebut merupakan tumpuan pembentukan sejumlah planet di jagat raya sehingga dianggap tidak mungkin bagi sistem bintang yang mengandung sedikit logam memiliki planet bermassa rendah.
"Hal itu sepertinya diharapkan menjadi bintang yang tidak biasa yang memiliki planet. Namun mereka ada di sana, di dekat lingkup sekitarnya dan menjadi contoh bintang yang kebanyakan mengandung sedikit unsur logam di galaksi kita," kata Vogt, Profesor Astronomi dan Astrofisika di UCSC.
Vogt mengatakan, penemuan planet tersebut dengan jarak yang dekat dan waktu yang cepat menjelaskan, bahwa galaksi Bima Sakti pasti dipenuhi dengan miliaran planet berbatu yang kemungkinan dapat dihuni.
 sumber
[ Read More ]

Sistem Tiga Bintang Menawarkan Kehidupan

NASA Ilustrasi sistem tiga bintang tempat planet GJ667Cc terdapat.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Pernahkah membayangkan hidup di sebuah planet dimana ada tiga bintang? Di masa depan, mimpi itu mungkin akan jadi kenyataan. Astronom baru saja menemukan planet layak huni di sistem tiga bintang.

Apa asyiknya hidup di sana? Penghuni planet tersebut bisa menikmati fajar dan senja dengan tiga bintang. Pemandangan di pantai planet itu, jika ada, akan jauh berbeda dengan di Bumi. Mungkin saja, dunia itu lebih terang dari dunia kita.

Planet yang ditemukan bernama GJ 667Cc. Planet itu mengorbit bintang kerdil redup berjarak 22 tahun cahaya. Sementara, bintang kerdil ini pun mengorbit dua bintang serupa Matahari yang ada pada jarak Matahari-Pluto dari GJ 667Cc.

Astronom mengatakan bahwa planet ini adalah salah satu yang paling mendukung kehidupan. "Planet ini ada pas pada zona layak huni, kasarnya ada di tempat seperti Bumi ada di Tata Surya," kata Guilem Anglada-Escude dari Universitas Gottingen, Jerman.

"Planet ini adalah kandidat terbaik untuk mendukung adanya air dalam bentuk cair dan mungkin kehidupan seperti yang kita tahu sekarang," tambah Anglada-Escude seperti dikutip BBC, Kamis (2/2/2012).

GJ667Cc sebenarnya berjarak dekat dengan bintang utamanya, GJ667C. Namun, karena bintang utamanya lebih dingin daripada Matahari, maka diperkirakan GJ667Cc memiliki suhu sama dengan Bumi.

Planet yang ditemukan masuk dalam kategori super-Bumi, dengan massa 4,5 kali massa Bumi. Planet ini mengorbit bintangnya dalam waktu 28 hari. Jadi, satu tahun di planet ini sama dengan lama bulan Februari di Bumi.

Penemuan ini mengejutkan para ilmuwan. Pasalnya, sistem bintang tempat ditemukannya planet ini miskin elemen berat seperti besi, karbon dan silikon. Penemuan ini membuktikan bahwa planet layak huni bisa ditemukan di tempat yang jauh di luar dugaan.

Berdasarkan publikasi New Scientist, Kamis, selain memiliki GC667Cc, bintang kerdil GC667C diduga juga memiliki 2 planet lain yang ada di luar zona layak huni, masing-masing mengorbit bintang dengan periode 7,2 hari dan 75 hari.

Untuk menemukan planet ini, astronom menggunakan data Eurpean Southern Observatory digabung dengan WM Keck Observatory di Hawaii dan Carnegie Planet Finder-Spectograph di Magellan II Telescope di Chile.

Steven Voght dari Universitas California, Berkeley, mengatakan, penemuan ini memberi petunjuk adanya planet lain yang belum ditemukan, yang mungkin sulit ditemukan dengan teleskop atau wahana antariksa yang ada sekarang.

sumber
[ Read More ]

 
Copyright © Yohanes Danni Prihartanto is proudly powered by Blogger.com | Blogger Templates Design by Free Blogger Templates
Support by Unique Pictures and Funny Photos | The Second Daily News | Mobile Phone News | Daily Digital Technology