• Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Pages

Lele Unik Ditemukan di Ekuador

National Geographic Cordylancistrus santarosensis
ALABAMA, KOMPAS.com — Spesies baru lele mulut pengisap yang masuk golongan armored catfish ditemukan di Ekuador. Armored catfish adalah jenis lele yang tubuhnya memiliki pelat tulang keras sehingga kadang disebut lele lapis baja.

Ilmuwan dari DePaul University, Windson Aguirre, menemukan lima spesimen dari ikan itu pada tahun 2008 di Sungai Santa Rosa. Ia lalu mengirim spesimen ke Auburn University di Alabama untuk identifikasi.

"Saat kami menyadari bahwa ini baru, sebenarnya tak begitu terkejut. Famili ikan ini bertambah jumlahnya tiap tahun," kata pemimpin riset Milton Tan dari Auburn University.

Yang lebih membuat Tan tertarik adalah karakteristik lele berukuran 7 sentimeter ini. Tak seperti kerabatnya, lele ini tidak memiliki pelat tulang keras di sisi samping kepalanya.

Nama spesies ikan lele baru ini adalah Cordylancistrus santarosensis, sesuai nama sungai tempat ditemukan.

Tak adanya pelat tulang di sisi samping kepala menunjukkan bahwa spesies ini adalah "missing link" antara ikan genus Cordylancistrus lainnya dan Chaetostoma yang mempunyai tulang keras di bagian tersebut.

"Ini penting karena spesies ikan di Ekuador tak terlalu beragam, (dan kami ingin) orang mengetahui (ada ikan) di Ekuador yang unik dan hanya ditemukan di sana," tutur Tan, seperti dikutip National Geographic, Selasa (10/4/2012).

Penemuan spesies Cordylancistrus santarosensis ini dipublikasikan di jurnal Zootaxa, 22 Maret 2012.

sumber
[ Read More ]

Gempa Aceh Adalah Gempa Kembar

SERAMBI INDONESIA/M ANSHAR Pusat gempa 8,5 SR di Aceh (lingkaran merah).
JAKARTA, KOMPAS.com - Gempa yang terjadi di Provinsi Aceh Nangroe Darussalam, Rabu (11/4/2012) sore, ternyata bukan satu gempa utama yang diikuti dengan sejumlah gempa susulan. Rangkaian gempa itu merupakan dua gempa utama.

"Gempa kemarin sebenarnya gempa kembar. Jadi ada dua gempa utama," kata Danny Hilman Natawijaya, pakar geologi dan palaeotsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Gempa pertama terjadi pada pukul 15.38 WIB dengan kekuatan 8,5 skala Richter. Pusat gempa pada kedalaman 10 km, berjarak 346 km barat daya Kabupaten Simeuleu.
Adapun gempa kedua terjadi pada pukul 17.43 WIB dengan kekuatan 8,1 skala Richter. Pusat gempa punya kedalaman 10 km dan berjarak 483 km barat daya Simeuleu. "Lokasi pusat gempa keduanya memang berdekatan, semua berpusat di luar zona subduksi," kata Danny saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/4/2012).
Akibat dua gempa yang terjadi kemarin, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini akan potensi terjadinya tsunami. Peringatan tsunami diakhiri pukul 19.45 WIB.
Tsunami memang terjadi setelah gempa besar pertama, meskipun dalam intensitas kecil. Berdasarkan informasi BMKG, tsunami terjadi di Meulaboh setinggi 80 cm pukul 17.00 dan di Sabang setinggi 6 cm pukul 17.04.
Tsunami besar tidak terjadi sebab gempa lebih dipicu oleh gerakan sesar miring (oblique) dan di luar zona subduksi. Tsunami besar bisa terjadi bila pusat gempa di zona subduksi dan gerakan sesar vertikal. Hingga saat ini, telah ada 28 gempa susulan yang terjadi akibat dua gempa yang terjadi kemarin.\

sumber
[ Read More ]

Kantong Semar Ini Sanggup Memakan Tikus

Daily Mail Nepenthes attenboroughii
LONDON, KOMPAS.com — Stewart McPherson serta dua pakar botani, Alastair Robinson dan Volker Heinrich, menemukan spesies kantong semar raksasa dalam ekspedisi di Gunung Victoria, Filipina.

Dalam pernyataan seperti dikutip Daily Mail, Selasa (3/4/2012), McPherson menuturkan, "Ini salah satu tanaman karnivora terbesar yang belum ditemukan sampai abad ke-21."

Spesies kantong semar raksasa yang ditemukan diberi nama Nepenthes attenboroughii. Nama tersebut diberikan untuk menghormati Sir David Attenborough.

Kantong jebak pada jenis kantong semar raksasa ini begitu besar hingga mampu menampung air sebanyak 1,5 liter, sementara lebar kantong adalah 14 cm.

"Banyak kantong semar tak hanya menjebak serangga, tetapi juga hewan pengerat, seperti tikus, dan spesies baru Nepenthes attenboroughii ini jelas bisa menangkap mangsa sebesar itu," kata McPherson.

Sekali mangsa tertangkap, cairan asam dan enzim dalam kantong akan menghancurkan bagian yang lunak dari mangsa. Bagian yang tersisa hanya tulang belulang.

Kantong semar menjebak mangsa untuk mendapatkan nutrisi berupa nitrogen. Kantong semar perlu mendapatkan nutrisi dari hewan sebab lingkungannya relatif minim nutrisi.

McPherson menuturkan, "Spesies baru yang ditemukan di Filipina ini memiliki kantong jebak yang berwarna hijau dengan bintik ungu dan mereka tampak mencolok dari vegetasi sekelilingnya."

Menurut McPherson, karakteristik daun, kantong dan bunga Nepenthes attenboroughii menunjukkan bahwa spesies baru ini adalah kerabat dari kantong semar Nepenthes rajah di Kalimantan dan Nepenthes flora di Palawan dan Kalimantan.

Penemuan ini dipublikasikan di Botanical Journal of the Linnean Society.

sumber 
[ Read More ]

"Kembaran" Tata Surya Ditemukan

ESO Ilustrasi "kembaran" Tata Surya dengan bintang induk HD 10180
HERTFORDSHIRE, KOMPAS.com — Sistem dengan bintang induk HD 10180 menghebohkan dunia astronomi pada tahun 2010. Selain tata surya, sistem keplanetan itu menjadi yang terbesar karena memiliki tujuh planet.

Kini, sistem keplanetan berjarak 127 tahun cahaya itu kembali menjadi perhatian. Jumlah planet yang mengorbit HD 10180 ternyata bukan hanya tujuh, melainkan sembilan.

Miko Tuomi dari University of Hertfordshire adalah astronom di balik penemuan ini. Ia memublikasikan hasil risetnya di jurnal Astronomy and Astrophysics, Jumat (6/4/2012).

Tuomi menganalisis data hasil observasi instrumen High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher pada teleskop 3,6 meter di Observatorium La Silla, Cile.

Sebelumnya, pengamatan di European Southern Observatory menemukan enam planet ekstrasurya serta satu planet yang masih perlu dikonfirmasi keberadaannya.

Lima planet merupakan planet serupa Neptunus dengan massa 12-25 kali massa Bumi. Sementara satu lagi adalah planet serupa Saturnus bermassa 65 kali Bumi dengan waktu revolusi 2200 hari.

Selain meyakinkan adanya enam planet, penelitian Tuomi juga membuktikan adanya planet ketujuh yang bermassa 1,4 massa Bumi dan menemukan dua planet tambahan.

Dua planet tambahan diketahui merupakan planet Bumi Super. Ukuran dua planet tersebut masing-masing 1,9 kali massa Bumi dan 5,1 kali massa Bumi.

Planet ketujuh mengorbit HD 10180 dalam waktu hanya 1,2 hari Bumi. Dua planet tambahan yang ditemukan mengorbit dalam waktu 10 dan 68 hari Bumi.

Dengan waktu orbit yang begitu singkat, dua planet tambahan yang ditemukan berjarak sangat dekat dengan bintangnya. Kondisinya sangat panas sehingga air dan kehidupan sulit untuk didapati.

Dengan jumlah sembilan planet, sistem keplanetan dengan bintang induk HD 10180 bisa disebut "kembaran" tata surya. Jumlah planet sama dengan jumlah planet di tata surya ditambah Pluto.

Sistem keplanetan HD 10180 juga memiliki kesamaan lain dengan tata surya. Bintang HD 10180 sendiri merupakan bintang katai kuning, memiliki massa sebanding dengan Matahari.

sumber
[ Read More ]

Bulan Purnama dan Hari Kebangkitan Kristus

AFP PHOTO/TED ALJIBE "Supermoon" sebagai terlihat di Manila, Filipina pada 19 Maret 2011. Menurut para ahli, fenomena supermoon, memperlihatkan bulan dalam posisi terdekatnya dengan bumi.
JAKARTA, KOMPAS.com - Hari ini, Minggu (8/4/2012) adalah perayaan Paskah. Dalam tradisi Kristiani, Paskah diperingati sebagai hari kebangkitan Yesus Kristus, 3 hari setelah wafat disalibkan.
Momen Paskah tidak hanya menarik sebagai perayaan keagamaan. Paskah juga bisa menjadi momen untuk memahami betapa banyak pengaruh Bulan dalam kebudayaan manusia, termasuk dalam keagamaan.

Seperti halnya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam, Paskah juga ditentukan dengan kalender Bulan. Bedanya, Paskah menggunakan Purnama sebagai patokan, bukan hilal atau bulan baru.

Konsili Nicea I pada tahun 325 menetapkan bahwa Paskah jatuh setiap hari Minggu setelah Purnama pertama pada musim semi. Bila Purnama jatuh pada hari Minggu, maka Paskah adalah hari Minggu berikutnya.

Misalnya, jika purnama terjadi Jumat (6/4/2012), maka Paskah adalah Minggu (8/4/2012). Namun, bila Purnama terjadi Minggu (8/4/2012), maka paskah adalah Minggu (15/4/2012).

Merujuk pada keterangan "Purnama setelah musim semi", maka jelas bahwa penentuan Paskah pun memperhitungkan gerak semu Matahari yang menyebabkan fenomena 4 musim di negara subtropis.

Dalam penanggalam Paskah, acuan yang digunakan adalah musim semi di belahan Bumi Utara. Di sana, musim semi kira-kira dimulai tanggal 21 Maret, saat Matahari tepat di khatulistiwa.

Berdasarkan perhitungan musim semi dan purnama pertama di musim itu, maka dapat dipastikan bahwa Paskah akan selalu jatuh antara tanggal 22 Maret - 25 April.

Terakhir Paskah jatuh tanggal 22 Maret adalah tahun 1818, berikutnya adalah tahun 2285. Sementara, terakhir Paskah jatuh tanggal 25 April adalah tahun 1943, berikutnya adalah tahun 2038.

Diketahui, Paskah paling sering terjadi tanggal 19 April. Tanggal Paskah sendiri akan mengalami siklus yang berulang tepat setiap 5.700.000 tahun.

Situs Space.com menguraikan bahwa purnama yang dipakai sebagai acuan penanggalan Paskah disebut Paschal Full Moon (PFM). Tahun ini, PFM jatuh pada Jumat (6/4/2012), jadi Paskah adalah Minggu hari ini.
Purnama Gerejawi
Walau astronomi menjadi dasar penentuan Paskah, dalam kenyataannya penentuan Paskah tak selalu patuh pada astronomi semata. Gereja mengembangkan Purnama Gerejawi sebagai acuan utama penentuan Paskah.

Situs Langitselatan.com menguraikan bahwa Purnama Gerejawi adalah siklus Bulan imajiner yang diperhitungkan secara matematis. Purnama Gerejawi tak selalu sama dengan PFM secara astronomis.

Pengembangan Purnama Gerejawi didasarkan pada kenyataan sulitnya menentukan purnama secara global. Contoh adalah soal waktu, bila purnama jatuh hari Minggu di Sydney, maka di London masih hari Sabtu.

Bila purnama astronomis diaplikasikan secara mentah-mentah, maka boleh jadi Paskah di satu negara dengan negara lainnya akan jatuh di hari yang berbeda.

Pengaruh Purnama Gerejawi sangat terasa pada Paskah tahun 1981. Purnama secara astronomis jatuh pada Minggu (19/4/1981), jadi seharusnya Paskah jatuh pada (26/4/1982). Namun, gereja menetapkan bahwa Paskah jatuh pad Minggu (19/4/1981).

Berdasarkan perhitungan Purnama Gerejawi, maka perayaan Paskah ditetapkan pada hari Minggu Pertama setelah Purnama Gerejawi pertama pada musim semi.

Pada konsili Vatikan II tahun 1963, ada usulan agar perayaan Paskah ditetapkan harinya. Minggu kedua bulan April adalah waktu yang paling banyak diusulkan. Namun, sampai sekarang isu tersebut masih dibahas.

sumber
[ Read More ]

Asal Usul Manusia Berjalan Tegak

Smithsonian Ilustrasi evolusi
WASHINGTON, KOMPAS.com — Tim peneliti dari Amerika Serikat, Portugal, dan Jepang berhasil menemukan asal usul mengapa manusia berjalan tegak. Temuan mereka dipublikasikan di jurnal Current Biology yang terbit pada Maret 2012.
Untuk mengungkapnya, peneliti mempelajari perilaku simpanse modern. Simpanse menggambarkan nenek moyang manusia pada 6 juta tahun lalu yang kemudian berevolusi.
Dua studi dilakukan. Studi pertama dilakukan di laboratorium lapangan Kyoto University, di hutan Bossou. Simpanse diberi pilihan makanan berupa biji kelapa sawit dan biji coula.

Perilaku simpanse dimonitor dalam tiga situasi. Pertama, saat hanya ada biji kelapa sawit. Kedua, saat hanya ada biji coula, dan saat biji coula melimpah.
Sementara itu, studi kedua dilakukan oleh Oxford Brookes University selama 14 bulan terhadap simpanse hutan Bossou. Simpanse harus berkompetisi mendapatkan sumber daya yang terbatas.
Hasil studi pertama menemukan bahwa kacang coula dipandang lebih berharga bagi simpanse. Primata tersebut mati-matian berusaha agar mendapatkannya.
Dalam kompetisi mendapatkan coula, simpanse semakin sering berjalan dengan dua kaki. Cara ini memungkinkan simpanse bergerak sekaligus membawa coula lebih banyak, bahkan dengan mulutnya.
Studi kedua mendapati bahwa 35 persen simpanse berjalan tegak. Hal ini juga terkait dengan kemampuan membawa muatan makanan lebih banyak dengan berjalan tegak.
Seperti diberitakan Science Daily, Jumat (23/3/2012), aktivitas berjalan dengan dua kaki simpanse inilah yang kemudian memicu evolusi hingga terciptalah manusia yang berjalan tegak.
"Sesuatu yang sederhana seperti aktivitas membawa muatan tiap hari, mungkin, dalam kondisi tertentu, memicu manusia berjalan tegak dan membuat nenek moyang kita semakin jauh meninggalkan bangsa kera lain yang kemudian menciptakan bangsa kita," ungkap Brian Richmond dari George Washington University, peneliti yang terlibat dalam riset ini.

sumber
[ Read More ]

Astronom Indonesia Temukan Tata Surya Tertua

Timotheos Samartzidis Ilsutrasi tata surya tertua dengan bintang induk bernama HIP 11952 atau "Sannatana" dan dua planet gas raksasa.
JAKARTA, KOMPAS.com — Johny Setiawan, astronom Indonesia, beserta astronom Eropa berhasil menemukan tata surya tertua. Dunia baru tersebut terdiri atas satu bintang yang dikelilingi oleh dua planet.
Tata surya tersebut dikatakan tertua karena berumur 12,8 miliar tahun, hanya 900 juta tahun lebih muda dari semesta yang tercipta lewat Big Bang pada 13,7 miliar tahun lalu.
Bintang induk pada tata surya tersebut diberi nama HIP 11952 sesuai penamaan obyek dari katalog Hipparcos. Sementara kedua planet yang mengorbit bintang tersebut diberi nama HIP 11952 b dan HIP 11952 c.
HIP 11952 juga dijuluki "Sannatana". Dalam bahasa Sansekerta, kata tersebut berarti abadi atau purba, sesuai dengan keunikan tata surya baru ini.
Sistem keplanetan yang baru saja ditemukan ini diperkirakan terbentuk saat galaksi Bimasakti masih bayi atau bahkan belum terbentuk. Jarak tata surya ini bahkan tak jauh, hanya 375 tahun cahaya dari Bumi.
"Ini sama perumpamaannya dengan menemukan benda arkeologi di pekarangan rumah sendiri," ungkap Johny lewat e-mail yang diterima Kompas.com, Jumat (23/3/2012) lalu.
Dua planet yang mengitari HIP 11952 ditemukan dengan metode kecepatan radial. Teknik ini didasarkan pada observasi gerakan bintang induk akibat planet-planet yang mengelilinginya.
Penelitian dilakukan pada tahun 2009-2011 menggunakan spektrometer FEROS (Fibre-fed Extended Range Optical Range Spectograph) pada teleskop 2,2 meter di Observatorium La Silla, Cile.
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa dua planet di tata surya baru ini ialah planet gas raksasa berukuran 0,8 dan 2,9 kali Jupiter. Masing-masing berevolusi dengan periode 7 dan 290 hari.
Anomali
Tata surya baru ini bisa dikatakan anomali. Pasalnya, bintang induk pada sistem keplanetan ini miskin logam, diperkirakan hanya 1 persen dari kandungan logam Matahari.
Teori saat ini menyatakan bahwa bintang-bintang dengan kandungan logam tinggi cenderung memiliki peluang lebih besar untuk memiliki planet, dan sebaliknya.
Sejauh ini, HIP 11952b dan HIP 11952c adalah temuan planet kedua yang mengelilingi bintang miskin logam. Tahun 2010, ditemukan planet yang mengelilingi HIP 13044 yang juga miskin logam.
Berdasarkan hasil penelitian, Johny mengatakan, "Kedua planet yang mengitari HIP 11952 membuktikan bahwa planet-planet ternyata memang dapat terbentuk di sekitar bintang yang kandungan logamnya sedikit."
Tak cuma itu, Johny yang bertahun-tahun bekerja di Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg, Jerman, mengatakan bahwa planet di sekelilling bintang melarat logam mungkin umum.
Observasi pada bintang-bintang tua masih diperlukan untuk mengonfirmasi hal tersebut. Tim peneliti masih akan terus mencari jawabannya.
Secara lebih luas, secara teoritis diketahui bahwa lingkungan awal semesta hanya terdiri atas hidrogen dan helium. Unsur-unsur logam yang lebih berat terbentuk lewat proses lebih lanjut seperti supernova.
Penelitian ini menunjukkan bahwa manusia bisa berharap adanya planet-planet purba yang terbentuk pada awal semesta, walau kondisinya dipandang kurang memungkinkan.
Hasil penelitian Johny dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics yang terbit minggu ini. Johny kini mengabdi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin.

sumber
[ Read More ]

Gerakan Balet "Menyihir" Penonton

Chris Gash Balet
SURREY, KOMPAS.com — Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE mengungkap bahwa gerakan balet mampu "menyihir" penontonnya. Gerakan balet mampu memengaruhi, menenggelamkan, dan mengajak penonton seolah-olah menjadi penari itu sendiri.

Sorine Jola, pakar neurosains kognitif dari University of Surrey, Inggris, mengatakan bahwa penonton balet menunjukkan respons spesifik di otak yang membuat mereka merasa seolah-olah pemain balet unggulan.

"Padahal, mereka jelas tidak dapat melakukan gerakan yang sebenarnya," kata Jola yang melakukan penelitian seperti dikutip New York Times, Senin (26/3/2012).
Penelitian Jola berfokus pada otot yang disebut carpi radialis ekstensor yang menghubungkan lengan atas dengan tangan. Diketahui bahwa otot ini banyak digunakan oleh pebalet.

Jola menggunakan metode yang disebut transcranial magnetic simulation untuk mengukur aktivitas otak. Diketahui, sifat yang khas ini ada pada balet, tapi tidak pada tarian lain.

Jola meneliti efek tari Bharatanatyam dari India dengan melihat respon otak penonotnnya saat melihat gerakan jari tangan penari. Namun, ia tak menjumpai pengaruh seperti pada balet.

Tak jelas sebab pengaruhnya berbeda pada balet. Namun, Jola menduga bahwa hal tersebut terkait dengan gaya tarian.

"Balet adalah bentuk tarian yang formal. Tari India, walau klasik, memiliki banyak gestur, jadi Anda punya perasaan bahwa Anda bisa mengerti narasinya dengan mudah," kata Jola.
Ralat: Sebelumnya artikel ini berjudul "Balet Ternyata Besifat Sihir". Dalam hal ini sihir yang dimaksud bukanlah perbuatan yang dilakukan dengan kekuatan gaib seperti guna-guna, mantra, tenung, dan sebagainya. Namun, yang dimaksud adalah pesona balet sehingga bisa mempengaruhi pikiran penonton seolah-olah bisa melakukan gerakan penari.

sumber 
[ Read More ]

Reptil Berbulu Hidup 240 Juta Tahun Lalu

New Scientist Longisquama insignis
FREIBURG, KOMPAS.com - Para palaentolog percaya bahwa reptil berbulu pernah hidup 230-240 juta tahun lalu, beberapa lama sebelum dinosaurus atau 70-80 juta tahun sebelum burung purba ada.

Spesies reptil bersayap yang pernah eksis itu adalah Longisquama insignis. Spesimen spesies itu pernah ditemukan dalam bentuk fosil di Kyrgystan pada tahun 1960.

Beberapa ilmuwan beranggapan bahwa bulu-bulu yang ada di fosil bukan milik L. insignis. Namun, peneliti lain menganggap sebaliknya. Studi terbaru mengungkap bahwa Longisquama memang memiliki bulu.

"Fitur aneh pada kulit Longisquama bisa jadi berupa sisik maupun bulu. Fitur itu mungkin terkait evolusi awal bulu pada petranosaurus dan dino," kata Micahel Butchwitz dari Freiburg University, Jerman, seperti dikutip New Scientist, Jumat (23/3/2012).

Butchwitz menganalisis ulang fosil. Ia menemukan bahwa struktur bulu benar-benar berakar di kulit, berdekatan dengan tulang. Jadi, bulu tersebut memang merupakan bagian tubuh Longisquama.

Evolusi L. insignis kemudian melahirkan pteranosaurus, buaya, dinosaurus, dan burung. Masing-masing menumbuhkan fitur kulitnya sendiri.

sumber
[ Read More ]

Suhu Bumi Naik 3 Derajat Celsius Tahun 2050

Ilustrasi : Pemanasan global
LONDON, KOMPAS.com — Hasil pemodelan yang dilakukan ilmuwan menunjukkan bahwa suhu Bumi berpotensi meningkat sebesar 1,4-3 derajat celsius pada tahun 2050.

Publikasi di jurnal Nature Geoscience bulan Maret 2012 memuat hasil studi yang dilakukan lewat climateprediction.net serta BBC Climate Change Experiment tersebut. Hampir 10.000 simulasi iklim dilakukan untuk membuat pemodelan ini. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa peningkatan temperatur lebih tinggi dari yang diprediksi lewat pemodelan lain sebelumnya.
Pemodelan tersebut bertujuan mengeksplorasi kemungkinan iklim masa mendatang. Dengan demikian, manusia bisa menyiapkan strategi jika hal tersebut benar-benar terjadi.

Myles Allen dari Universitas Oxford yang menjadi pemimpin studi mengungkapkan, pemodelannya dilakukan sebab banyak pemodelan iklim belum mempertimbangkan banyaknya ketidakpastian. Corinne Le Quere selaku Direktur Tyndall Centre for Climate Change Research di University of East Anglia mengatakan bahwa hasil studi ini sangat menjanjikan.

"Proyeksi iklim yang lebih baik diperlukan untuk membantu adaptasi lebih luas, dari pertahanan laut sampai kapasitas penyimpanan air dan area konservasi," katanya seperti dikutip BBC, Minggu (25/3/2012).

Sementara itu, publikasi berbeda di Nature Climate Change mengungkap bahwa cuaca ekstrem yang terjadi beberapa tahun belakangan terkait dengan pemanasan global. "Sangat mungkin bahwa beberapa cuaca ekstrem di dekade terakhir takkan terjadi tanpa pemanasan global yang dipengaruhi manusia," demikan publiksi di jurnal tersebut seperti dikutip Reuters, Minggu (25/3/2012).

Studi terakhir dilakukan oleh para ilmuwan di Postdam Institute for Climate Research di Jerman. Diketahui, tahun 2011 adalah tahun terpanas ke-11 sepanjang masa.

sumber
[ Read More ]

Awan Misterius Tampak di Mars

Wayne Jaeschke Citra awan misterius di Mars.
PHILADELPHIA, KOMPAS.com - Astronom amatir bernama Wayne Jaeschke mengamati awan misterius di Mars. Ia mempublikasikan hasil pengamatannya di website miliknya, exosky.net.

Citra awan itu didapatkan lewat pengamatan dengan teleskop dari Pennsylvania. Pengamatan dilakukan pada 20 Maret 2012 sekitar pukul 2.50 UT.

Berdasarkan pengamatan, awan itu terdapat di atas dataran mars bernama Acidalia pada ketinggian 240 meter. Awan itu juga tampak terus mengikuti gerak Mars dari sudut pandang Bumi.

Temuan Jaeschke memancing banyak komentar. Ada yang mengatakan bahwa awan itu adalah debu dari tumbukan meteorit, badai yang sangat besar ataupun hanya tipuan cahaya.

Peneliti yang tergabung dalam misi Mars Odyssey akan berusaha mencitrakan awan itu dengan kamera sinar tampak maupun inframerah.

"Tim peneliti atmosfer kami sangat berharap kemungkinan untuk tak cuma mendapatkan citra struktur awan, tapi juga temperaturnya," kata Jonathon Hills dari Arizona State University, seperti dikutip MSNBC, Senin (26/3/2012).

sumber
[ Read More ]

Merkurius Panas, Tapi Diduga Punya Es

NASA Fitur terang di Merkurius yang diduga merupakan air dalam bentuk cair.
WOODLANDS, KOMPAS.com - Merkurius memang planet terdekat dengan Matahari dengan temperatur mencapai 400 derajat Celsius. Tapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Merkurius mungkin memiliki air dalam bentuk es.

Sebelumnya, pengamatan dengan gelombang radio yang dilakukan di observatorium Arecibo di Puerto Rico menunjukkan adanya area kutub Merkurius memiliki warna terang.

Kini, pengamatan dengan kamera Mercury Dual Imaging System (MDIS) di wahana antaraiksa MESSENGER memperlihatkan bahwa warna terang itu ada di area bayangan permanen di kutub.

"Citra MDIS menunjukkan bahwa fitur terang radar di dekat kutub selatan Merkurius ada di area bayangan permanen. dan, di kutub utaranya juga terdapat hanya di area bayangan. Hasil ini mendukung hipotesis adanya es," kata Nancy Chabot, ilmuwan dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, Senin (26/3/2012).

Dugaan ini tentu masih perlu diuji. Ada kemungkinan juga bahwa fitur terang yang didapatkan merupakan senyawa lain. Penelitian masih harus dilakukan.

Meski demikian, temuan ini sangat menarik. Bagaimana bisa planet yang terdekat dengan matahari memiliki es?

Kalau terbukti, maka akan makin banyak benda di tata surya yang memiliki air dalam bentuk es. Telah diketahui, Bulan dan mars juga punya air dalam bentuk es.

Chabot mempresentasikan hasil penelitiannya di Lunar and Planetary Science Conference ke-43 di Woodlands, Texas.

sumber
[ Read More ]

Molekul Kehidupan Bisa Terbentuk Sebelum Planet

NASA Piringan protoplanet di sekitar bintang Fomalhaut (HD 216956.
JAKARTA, KOMPAS.com - Astronom berpandangan bahwa planet terbentuk ketika debu yang ada di piringan protoplanet (terdiri atas gas dan debu) membentuk bongkahan batu dan secara bertahap membangun bola lebih besar hingga menjadi planet.

Bumi dan planet lain di Tata Surya terbentuk dengan proses yang sama. Diperkirakan, waktu terbentuknya Bumi dan planet lain ialah 4,5 miliar tahun yang lalu.

Sebelumnya, astronom berpikir bahwa molekul kehidupan terbentuk setelah ada planet. Namun, pemodelan terbaru menunjukkan bahwa molekul kehidupan bisa saja terbentuk sebelum ada planet.

Geologi Fred Ciesla dari University of Chicago dan Scott Sandford dari Ames Research Center NASA di California adalah ilmuwan yang melakukan pemodelan komputer tersebut.

Berdasarkan pemodelan, keduanya mengatakan bahwa debu di piringan protoplanet bisa terpapar oleh sinar ultraviolet sehingga membentuk senyawa organik.

Senyawa organik adalah senyawa yang terdapat pada makhluk hidup. Senyawa ini meliputi asam amino, protein, karbohidrat, basa nukleus dan juga asam nukleat (DNA) dan asam ribonukleat (RNA).

Sebelumnya, Sandford mnelakukan eksperimen dengan melakukan pemaparan UV ke butir debu yang tertutupi es. Ia menemukan, UV bisa memutus ikatan pada material dan memungkinkan pembentukan molekul kompleks.

Permasalahan saat itu, Sandford tak yakin mekanisme yang sama bisa bekerja pada debu di piringan protoplanet sehingga memungkinkan pembentukan molekul organik.

Pemodelan yang dilakukan membuktikan bahwa mekanisme itu bisa terjadi. Piringan protoplanet cukup dinamis sehingga debu bisa terbawa ke tepian piringan dan terpapar UV dari bintang.

"Hasil ini mengagumkan karena begitu natural. Kami tak harus membuat kondisi spesial dalam pemodelan kami. Kami menemukan semua yang kami harapkan bekerja dengan sempurna," ungkap Ciesla seperti dikutip Space, Kamis (29/3/2012).

Menurut Ciesla, dinamika dan proses itu tak cuma terjadi di Tata Surya, tetapi juga sistem keplanetan yang lain secara umum.

Meski demikian, hasil pemodelan belum mampu menjawab bagaimana senyawa organbik bisa sampai ke Bumi. Pandangan terbaru mengatakan bahwa senyawa organik dibawa oleh asteroid.

sumber
[ Read More ]

Fisika Kuantum Penyembuhan Penyakit

Daily Mail Hukum mekanika kuantum tidak hanya bekerja pada skala atom dan molekul.
JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun lalu, dunia dihebohkan dengan praktek penyembuhan penyakit dengan asap rokok yang dilakukan oleh Gretha Zahar, pakar nuklir dari Lembaga Peluruhan Radikal Bebas di Malang.

Gretha menciptakan "Divine Cigarette" atau mungkin bisa disebut "Rokok Surga". Berbeda dengan rokok biasa yang menyebabkan penyakit, rokok ini justru akan menyembuhkannya.

Rahasia Rokok Surga adalah pada asam amino yang diteteskan atau diolah bersama tembakau. Zat ini akan melepaskan 1 elektron merkuri. Ketika satu elektron lepas, merkuri akan berperilaku seperti emas.

Dikatakan bahwa merkuri dan emas hanya memiliki satu perbedan jumlah elektron. Merkuri memiliki energi cukup besar sehingga mampu menyamar menjadi unsur lain.

Asam amino yang dimiliki Rokok Surga membebaskan radikal bebas. Rokok selanjutnya berperan sebagai media menyembuhkan penyakit degeneratif, seperti jantung, stroke dan kanker.

Penyembuhan Kuantum

Profesor Sutiman Bambang Soemitro, guru besar dari Universitas Brawijaya mengatakan bahwa penyembuhan a la Gretha Zahar memang sulit dipahami tetapi sebenarnya ilmiah.

Menurut Sutiman, penyembuhan yang dilakukan Gretha bisa dipahami jika memandang tubuh sebagai susunan partikel-partikel dimana energi mengalir terus-menerus tanpa henti.

Energi dalam tubuh manusia mengalir dalam bentuk paket atau kuanta, sesuai pendapat Max Planck pada tahun 1900. Aliran energi mengikuti hukum-hukum dalam fisika kuantum.

Dalam kacamata fisika kuantum, tubuh sehat dipandang sebagai raga dengan aliran energi yang lancar. Aliran energi memastikan tubuh mampu melakukan self production dan self regeneration.

"Kalau tubuh sakit, aliran energinya mengalami turbulensi, alirannya berputar-putar di bagian sakit," ungkap Sutiman saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu yang lalu.

Turbulensi energi bisa terjadi akibat banyak faktor. Beberapa diantaranya adalah faktor makanan, radikal bebas serta senyawa yang bersifat toksik.

"Kalau kita bisa gangguan aliran energi pada bagian tubuh sakit maka kita bisa mengembalikan tubuh pada keseimbangan. Tubuh akan sehat lagi," jelas Sutiman.

Untuk mengembalikan aliran energi, dibutuhkan sebuah perantara. Sifat perantara harus fleksibel, mampu menerima maupun mendonasikan elektron. Asap memenuhi kriteria tersebut.

"Asap ini seperti hemoglobin. Bisa membawa energi tanpa berubah menjadi radikal. Bisa menjadi donor maupun penerima," terang Sutiman yang sebenarnya berlatar belakang mikrobiologi.

Sifat asap menerangkan cara kerja Rokok Surga. Setelah dibebaskan dari radikal bebas, asap rokok membawa energi menuju bagian sakit, menyembuhkan dengan melancarkan aliran energi.

Asam amino yang ditambahkan pada Rokok Surga, menurut Sutiman, berperan sebagai penyaring. Partikel asap yang masuk ke tubuh harus berukuran nano sehingga bisa bekerja menurut hukum mekanika kuantum.

Bagaimana asap menuju bagian yang sakit? "Dalam kuantum, ini bisa melewati apa saja. Tidak terbatas pada ruang dan waktu. Jadi, tidak harus lewat pembuluh darah, misalnya," jelas Sutiman.

Dalam upaya penyembuhan, terapi dengan asap bisa dipadukan dengan mengkonsumsi makanan yang membantu menetralisir racun. Contohnya adalah putih telur dan kopi.

Sebenarnya, ada banyak media yang bisa digunakan dalam penyembuhan kuantum. Contohnya adalah lewat air yang diminum ataupun dengan meditasi.

"Tapi, asap memiliki kelebihan. Kalau air fluiditasnya kurang karena dia bukan gas. Asap bisa bergerak dengan lebih mudah," papar Sutiman.

Saat ini, Sutiman dan mahasiswanya di Universitas Brawijaya terus mempelajari potensi asap sebagai media penyembuhan. Beberapa penelitian dilakukan, diantaranya tentang perilaku asap.

Pengobatan Masa Depan

Menurut Sutiman, penyembuhan kuantum akan berkembang mendukung praktek pengobatan di masa depan. Penyembuhan kuantum menghidupkan pengobatan tradisional dan mengatasi masalah akses kesehatan.

Salah satu contohnya adalah peluang jamu untuk lebih mendukung pengobatan. Menurut Sutiman, jamu memiliki kelebihan dibandingkan obat kimia.

"Kalau obat kimia hanya satu senyawa diisolasi dan diproduksi. Ini menjadi rentan dosis. Senyawa obat sebenarnya disediakan satu paket seperti pada jamu," jelasnya.

Penyembuhan kuantum juga menyediakan pelayanan kesehatan yang lebih murah.

"Tidak seperti rumah sakit yang membutuhkan biasa jutaan untuk bisa sehat," cetus Sutiman.
[ Read More ]

Struktur Geologi Misterius Tampak dari Angkasa

ESA/NASA Astronot Belanda Andre Kuipers mengambil foto formasi batuan ini dari Stasiun Antariksa Internasional.
KOMPAS.com — Formasi besar dengan warna tembaga di Afrika Barat mendominasi sebuah foto memukau yang diambil oleh astronot dari Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

Astronot Belanda, Andre Kuipers, mengambil gambar yang dikenal sebagai struktur Richat di Mauritania, saat stasiun ruang angkasa terbang di atas Gurun Sahara di Pesisir Atlantik Afrika Barat.

Erosi dari berbagai lapisan batuan menciptakan area serupa cincin yang membentuk struktur luas. Meski begitu, menurut para ahli geologi, asal-usul struktur Richat tetap misterius.

Foto yang diambil Kuipers menunjukkan sudut pandang yang unik dari angkasa. Stasiun antariksa, tempat Kuiper berada, melayang sekitar 386 kilometer di atas permukaan Bumi. Menurut Badan Antariksa Eropa, gambar itu diambil pada tanggal 7 Maret menggunakan kamera Nikon D2Xs.

Selama berbulan-bulan mengisi pos di Stasiun Antariksa Internasional, para astronot sering melakukan observasi Bumi untuk ilmu pengetahuan dan pendekatan publik.

Sepanjang misi mereka, para astronot ini aktif dalam media sosial, seperti di Twitter atau Google + untuk berbagi pemandangan menakjubkan dari ruang angkasa.

Saat ini ada enam astronot di ISS, yakni Kuipers, Dan Burbank, dan Don Pettit dari AS, serta kosmonot Rusia, Anton Shkaplerov, Anatoly Ivanishin, dan Oleg Kononenko. Burbank adalah komandan misi ke-30 ISS.

Kuipers meluncur ke stasiun ruang angkasa pada Desember 2011. Dia bertugas di sana selama enam bulan. Kuipers, Kononenko, dan Pettit dijadwalkan kembali ke Bumi pada 1 Juli 2012.
[ Read More ]

 
Copyright © Yohanes Danni Prihartanto is proudly powered by Blogger.com | Blogger Templates Design by Free Blogger Templates
Support by Unique Pictures and Funny Photos | The Second Daily News | Mobile Phone News | Daily Digital Technology